Kenapa Selalu Merasa Ketinggalan? Begini Islam Memandang FOMO

Pernahkah Sahabat Muslim merasa cemas saat melihat teman-teman di media sosial sedang liburan, membeli barang baru, atau menghadiri acara seru, sementara diri sendiri tidak ikut serta? Perasaan ini dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal atau merasa cemas karena tidak terlibat dalam suatu momen yang dianggap penting oleh orang lain.

Fenomena ini semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial, di mana unggahan orang lain sering kali memicu perbandingan sosial yang tidak disadari. Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena FOMO ini dan apa saja cara mengatasinya agar hati lebih tenang? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas orang lain, terutama di media sosial.
  • Islam mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat iri dan selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, karena setiap rezeki dan ketetapan hidup telah diatur oleh Allah SWT.
  • Beberapa cara mengatasi FOMO menurut Islam antara lain memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Banyak Dialami Saat Ini?

FOMO merupakan istilah psikologi yang menggambarkan kecemasan seseorang karena merasa tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan kebiasaan scrolling media sosial, di mana seseorang terus-menerus memantau unggahan orang lain demi merasa tetap terhubung, meski hal tersebut justru dapat menimbulkan kelelahan secara emosional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin intens seseorang menggunakan media sosial, semakin besar pula kecenderungannya mengalami FOMO, terutama akibat perbandingan sosial yang muncul saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna. Kondisi ini banyak dialami generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital.

Bagaimana Islam Memandang Fenomena FOMO?

Meski istilah FOMO tergolong modern, akar permasalahannya sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam, yaitu sifat iri hati dan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak iri hati terhadap karunia yang diberikan kepada orang lain, karena setiap orang telah mendapatkan bagiannya masing-masing sesuai usaha dan ketetapan Allah SWT.

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat hasad, karena perasaan iri dan selalu merasa kurang dapat menggerogoti ketenangan jiwa seseorang. Dengan memahami bahwa rezeki, kebahagiaan, dan ketetapan hidup setiap orang berbeda-beda dan telah diatur oleh Allah SWT, seorang Muslim dapat lebih mudah menerima keadaan dirinya tanpa harus terus-menerus membandingkan dengan pencapaian orang lain.

Apa Saja Cara Mengatasi FOMO Menurut Islam?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi FOMO sesuai perspektif Islam:

1. Memperbanyak Rasa Syukur

Rasa syukur menjadi kunci utama untuk meredam kecemasan akibat FOMO. Dengan terus mengingat dan mensyukuri nikmat yang telah dimiliki, seseorang akan lebih mudah merasa cukup, alih-alih terus membandingkan diri dengan apa yang dimiliki atau dialami orang lain.

2. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Membatasi waktu penggunaan media sosial, terutama kebiasaan scrolling tanpa tujuan, dapat membantu mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan sosial. Menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial, lalu menjauh dari gawai di waktu lainnya, menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga ketenangan pikiran.

3. Menyadari bahwa Media Sosial Tidak Mencerminkan Kenyataan Sepenuhnya

Penting untuk disadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh dari realitas yang mereka jalani. Dengan memahami hal ini, Sahabat Muslim dapat lebih bijak dalam menyikapi unggahan orang lain tanpa harus merasa minder atau tertinggal.

4. Mengisi Waktu dengan Amalan yang Lebih Bermanfaat

Mengalihkan waktu yang biasa dihabiskan untuk memantau media sosial menjadi amalan yang lebih bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengembangkan keterampilan baru, dapat membantu mengurangi kecenderungan FOMO sekaligus mendatangkan manfaat jangka panjang. Kebiasaan ini juga sejalan dengan upaya menjaga ketenangan hati di tengah derasnya arus informasi digital.

5. Fokus pada Tujuan dan Prioritas Hidup Sendiri

Menetapkan tujuan dan prioritas hidup yang jelas dapat membantu seseorang lebih fokus pada perjalanannya sendiri, alih-alih terus mengikuti standar atau tren yang ditetapkan orang lain. Prinsip ini juga sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan ala Islam, yang menekankan pentingnya menata prioritas sesuai nilai-nilai yang dipegang, bukan sekadar mengikuti arus media sosial.

Kesimpulan

FOMO atau rasa takut tertinggal merupakan fenomena yang semakin umum dialami di era digital, namun akar permasalahannya, yaitu sifat iri dan kebiasaan membanding-bandingkan diri, sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam. Dengan memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat, kecemasan akibat FOMO dapat berangsur-angsur diatasi.

Semoga dengan menerapkan cara-cara ini, Sahabat Muslim dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bersyukur, dan tidak mudah terombang-ambing oleh standar yang ditetapkan media sosial. Yuk, terus tambah wawasan seputar ketenangan hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/download/59985/30974

https://doaj.org/article/5bf43facabcb4a25bc05e043665c423d

FAQ

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain, terutama di media sosial.

Media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, sehingga dapat memicu perbandingan sosial dan membuat seseorang merasa hidupnya kurang menarik atau tertinggal dibandingkan orang lain.

Islam mengajarkan untuk menjauhi sifat iri dan hasad, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 32, karena setiap orang telah mendapatkan bagian rezeki dan ketetapan hidupnya masing-masing dari Allah SWT.

Bukan Cuma Healing, Ini Work-Life Balance ala Islam agar Tak Kehilangan Diri

Istilah work-life balance semakin sering terdengar di kalangan pekerja modern, terutama generasi muda yang mulai menyadari bahaya burnout akibat tekanan kerja yang tinggi. Banyak yang mengaitkan work-life balance dengan liburan, healing, atau sekadar rehat dari rutinitas, padahal maknanya jauh lebih dalam dari itu.

Dalam Islam, konsep keseimbangan hidup sebenarnya telah lama diajarkan, bahkan jauh sebelum istilah work-life balance populer digunakan. Islam mengajarkan bahwa keseimbangan bukan hanya soal membagi waktu antara kerja dan istirahat, tetapi juga mencakup hubungan dengan Allah SWT, keluarga, dan diri sendiri. Lalu, bagaimana Islam memandang konsep ini dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Work-life balance dalam Islam sejalan dengan konsep hablumminallah (hubungan dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia), bukan sekadar soal liburan atau healing.
  • Islam mengajarkan bahwa bekerja mencari nafkah merupakan bagian dari ibadah, selama tidak melalaikan kewajiban spiritual, kesehatan, dan keluarga.
  • Beberapa cara menerapkan keseimbangan ini antara lain meluruskan niat bekerja, menjaga waktu ibadah, tidak menunda pekerjaan, serta menyediakan waktu untuk keluarga dan istirahat.

Mengapa Work-Life Balance Menjadi Isu Penting Saat Ini?

Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, fenomena kelelahan kerja atau burnout, stress kronis, hingga hilangnya waktu berkualitas bersama keluarga menjadi gejala umum di kalangan pekerja profesional. Tuntutan pekerjaan yang tinggi kerap membuat seseorang mengorbankan waktu istirahat, ibadah, maupun kebersamaan dengan orang-orang terdekat.

Kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik, mulai dari sulit tidur, kelelahan emosional, hingga menurunnya motivasi hidup. Ironisnya, banyak orang menganggap bekerja tanpa henti sebagai tanda dedikasi tinggi, padahal tubuh dan jiwa manusia memiliki hak untuk beristirahat dan menjalani kehidupan yang seimbang.

Bagaimana Islam Memandang Konsep Work-Life Balance?

Islam dikenal sebagai agama yang mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Seseorang tidak dianjurkan untuk terlalu fokus bekerja hingga melalaikan ibadah dan keluarga, namun juga tidak dianjurkan untuk hanya beribadah tanpa berikhtiar mencari nafkah bagi kehidupan dunianya. Rasulullah SAW sendiri mengingatkan bahwa tubuh manusia memiliki hak yang harus dipenuhi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang menegaskan pentingnya menjaga kesehatan diri di tengah kesibukan beribadah maupun bekerja.

Bekerja mencari nafkah dalam Islam bahkan dipandang sebagai bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan cara yang halal dan penuh tanggung jawab, sejalan dengan pentingnya menjaga adab mencari nafkah agar rezeki berkah. Dengan demikian, work-life balance dalam Islam bukan berarti menjauhi pekerjaan, melainkan menempatkan pekerjaan pada porsi yang tepat, tanpa mengabaikan kewajiban spiritual dan sosial lainnya.

Apa Saja Cara Menerapkan Work-Life Balance ala Islam?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menciptakan keseimbangan kerja dan kehidupan sesuai perspektif Islam:

1. Meluruskan Niat dalam Bekerja

Langkah pertama adalah meluruskan niat bahwa bekerja dilakukan untuk mencari rezeki halal demi memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, sekaligus sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dengan niat yang benar, aktivitas bekerja tidak lagi terasa sebagai beban semata, melainkan bagian dari ikhtiar yang bernilai pahala.

2. Menjaga Waktu Ibadah di Tengah Kesibukan

Salah satu bentuk nyata menjaga keseimbangan spiritual sehari-hari adalah tetap melaksanakan shalat tepat waktu, meski di tengah jadwal kerja yang padat. Menjaga waktu ibadah membantu seseorang tetap terhubung dengan Allah SWT, sekaligus menjadi jeda alami di tengah rutinitas yang melelahkan.

3. Tidak Menunda Pekerjaan

Kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi justru dapat menumpuk beban dan memperbesar tekanan di kemudian hari. Menyelesaikan tugas tepat waktu menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga keseimbangan, karena waktu yang tersisa dapat dialokasikan untuk istirahat maupun keluarga tanpa rasa khawatir akan pekerjaan yang tertunda.

4. Menyediakan Waktu untuk Keluarga dan Istirahat

Islam mengajarkan bahwa tubuh memiliki hak untuk beristirahat, begitu pula keluarga yang memiliki hak untuk mendapatkan waktu dan perhatian. Meluangkan waktu untuk berkumpul, berbincang, maupun sekadar beristirahat bersama keluarga menjadi bagian penting dari keseimbangan hidup yang utuh, tidak hanya berfokus pada pencapaian karier semata.

5. Membatasi Penggunaan Gadget secara Berlebihan

Penggunaan gadget yang berlebihan, baik untuk pekerjaan maupun media sosial, dapat memengaruhi keseimbangan hidup dan mengganggu waktu istirahat maupun kebersamaan dengan keluarga. Membatasi penggunaan perangkat digital di luar jam kerja dapat membantu menjaga fokus dan ketenangan pikiran, sekaligus mendukung upaya mencari ketenangan hati di tengah rutinitas yang padat.

Kesimpulan

Work-life balance ala Islam bukan sekadar soal liburan atau healing semata, melainkan keseimbangan menyeluruh antara hubungan dengan Allah SWT, pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Dengan meluruskan niat bekerja, menjaga waktu ibadah, tidak menunda pekerjaan, menyediakan waktu untuk keluarga, serta membatasi penggunaan gadget berlebihan, keseimbangan hidup yang bermakna dapat tercapai.

Semoga dengan menerapkan prinsip ini, Sahabat Muslim dapat menjalani karier yang produktif tanpa harus mengorbankan ibadah, kesehatan, maupun kebersamaan dengan keluarga tercinta. Yuk, terus tambah wawasan seputar keseimbangan hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi:

https://hrd.uii.ac.id/work-life-balance-islami-menjaga-dunia-dan-akhirat-seimbang/

https://fpsikologi.uad.ac.id/ketika-pekerjaan-menguasai-hidup-memahami-work-life-imbalance-dalam-perspektif-islam/

FAQ

Tidak. Islam justru menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan mencari rezeki halal, selama tidak melalaikan kewajiban ibadah, kesehatan, dan tanggung jawab terhadap keluarga.

Work-life balance ala Islam tidak hanya membagi waktu antara kerja dan istirahat, tetapi juga mencakup keseimbangan hubungan dengan Allah SWT (hablumminallah) dan sesama manusia (hablumminannas).

Sahabat Muslim dapat memulainya dengan meluruskan niat bekerja, tetap menjaga waktu shalat di tengah kesibukan, tidak menunda pekerjaan, serta menyediakan waktu khusus untuk keluarga dan istirahat.

Rahasia Hidup Berkah dan Bebas Hutang, Mengenal Financial Planning ala Syariah

Di usia produktif, banyak generasi muda mulai menyadari pentingnya mengatur keuangan sejak dini, mulai dari menabung, berinvestasi, hingga mempersiapkan dana untuk masa depan. Namun, bagi Sahabat Muslim, mengatur keuangan tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan duniawi semata, melainkan juga perlu diselaraskan dengan prinsip-prinsip syariah.

Di sinilah konsep financial planning ala syariah menjadi penting, yaitu proses merencanakan, mengelola, dan mengembangkan keuangan dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat. Lalu, bagaimana cara menyusun financial planning syariah yang tepat, terutama bagi generasi muda? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Financial planning ala syariah adalah proses perencanaan keuangan yang berlandaskan prinsip Islam, dengan tujuan mencapai kesejahteraan dunia sekaligus akhirat.
  • Langkah utama dalam menyusunnya meliputi memastikan sumber pendapatan halal, menentukan tujuan keuangan, menyiapkan dana darurat, menghindari utang konsumtif, serta mengalokasikan dana untuk ziswaf dan investasi syariah.
  • Kesalahan umum yang sering terjadi antara lain tidak memiliki anggaran bulanan, mengabaikan dana darurat, dan tidak mengevaluasi rencana keuangan secara berkala.

Mengapa Generasi Muda Perlu Financial Planning ala Syariah?

Generasi muda seringkali dihadapkan pada berbagai godaan finansial, mulai dari gaya hidup konsumtif hingga kemudahan akses pinjaman online yang berpotensi menjerumuskan pada riba. Tanpa perencanaan yang matang, kondisi keuangan dapat menjadi tidak stabil, bahkan berisiko membebani kehidupan di masa depan.

Financial planning ala syariah hadir sebagai solusi yang tidak hanya membantu mengatur arus keuangan secara sehat, tetapi juga memastikan setiap prosesnya, mulai dari sumber pendapatan hingga alokasi pengeluaran, tetap sejalan dengan prinsip syariah. Dengan begitu, tujuan keuangan yang ingin dicapai tidak hanya membawa kesejahteraan duniawi, tetapi juga keberkahan yang berkelanjutan.

Bagaimana Langkah Menyusun Financial Planning ala Syariah?

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam menyusun financial planning ala syariah:

1. Memastikan Sumber Pendapatan yang Halal

Langkah pertama dan paling mendasar adalah memastikan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh berasal dari pekerjaan atau usaha yang halal. Prinsip ini sejalan dengan pentingnya menjaga adab mencari nafkah agar rezeki berkah, karena keberkahan keuangan tidak akan tercapai apabila sumbernya bercampur dengan cara yang tidak dibenarkan syariat.

2. Menentukan Tujuan Keuangan yang Jelas

Setiap perencanaan keuangan yang efektif membutuhkan goals atau tujuan yang jelas, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang, seperti dana pendidikan, biaya pernikahan, atau persiapan naik haji. Dengan tujuan yang terukur, alokasi dana dapat disusun secara lebih terarah dan realistis.

3. Menyiapkan Dana Darurat

Dana darurat, atau yang sering disebut emergency fund, menjadi bagian penting dalam financial planning syariah untuk mengantisipasi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak lainnya. Dana ini idealnya disisihkan secara rutin dan disimpan terpisah dari tabungan maupun investasi jangka panjang.

4. Menghindari Hutang Konsumtif

Financial planning syariah menekankan pentingnya menghindari hutang konsumtif yang dapat membebani kondisi keuangan di masa depan, terlebih jika melibatkan unsur riba. Utang sebaiknya hanya digunakan untuk kebutuhan produktif dan mendesak, dengan skema yang tetap sesuai prinsip syariah.

5. Mengalokasikan Dana untuk Ziswaf dan Investasi Syariah

Salah satu perbedaan utama financial planning syariah dengan perencanaan konvensional adalah adanya alokasi untuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) sebagai bentuk ibadah sosial. Selain itu, sisa dana yang tersedia juga dapat dialokasikan untuk berbagai jenis investasi syariah untuk pemula, sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Apa Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Perencanaan Keuangan?

Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak memiliki anggaran bulanan yang jelas, sehingga pengeluaran sulit dikontrol dan cenderung melebihi kemampuan. Selain itu, banyak orang juga mengabaikan pentingnya dana darurat, sehingga saat kondisi tak terduga terjadi, mereka terpaksa berhutang untuk menutupi kebutuhan mendesak.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak melakukan evaluasi rencana keuangan secara berkala, padahal kondisi finansial dan kebutuhan hidup dapat berubah seiring waktu. Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya introspeksi diri dalam hadis riwayat Tirmidzi, yang juga relevan diterapkan dalam konteks mengevaluasi pengelolaan keuangan secara rutin.

Kesimpulan

Financial planning ala syariah menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk mengelola keuangan secara sehat, mulai dari memastikan sumber pendapatan halal, menentukan tujuan keuangan, menyiapkan dana darurat, menghindari hutang konsumtif, hingga mengalokasikan dana untuk ziswaf dan investasi syariah. Perencanaan ini membantu mencapai financial freedom tanpa mengorbankan prinsip-prinsip Islam.

Dengan menerapkan financial planning syariah sejak dini, diharapkan generasi muda dapat mencapai kesejahteraan finansial yang tidak hanya bermanfaat di dunia, tetapi juga membawa keberkahan hingga akhirat. Yuk, terus tambah wawasan seputar keuangan syariah bersama ArahMuslim.

Referensi:

https://www.asbisindo.or.id/2026/08/19/financial-planning-ala-syariah-merencanakan-keuangan-untuk-kehidupan-yang-lebih-berkah/

https://www.asbisindo.or.id/2026/04/21/financial-planning-bukan-sekadar-tren-tapi-kunci-financial-freedom-sejak-muda-dalam-perspektif-syariah/

FAQ

Perbedaan utamanya terletak pada adanya unsur ibadah sosial, seperti alokasi untuk zakat, infak, dan sedekah, serta memastikan seluruh proses keuangan terbebas dari riba, gharar, dan maisir.

Meski tidak ada angka baku yang mengikat, umumnya dana darurat disarankan mencakup kebutuhan hidup selama beberapa bulan, agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar apabila terjadi kondisi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan.

Karena kondisi finansial dan kebutuhan hidup dapat berubah seiring waktu, sehingga evaluasi berkala membantu memastikan rencana keuangan tetap relevan dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Ibadah di Ujung Jari, Ini Rekomendasi Aplikasi Islami Sehari-hari

Di tengah kesibukan hidup modern, menjaga konsistensi ibadah kadang menjadi tantangan tersendiri, mulai dari lupa waktu shalat, tertinggal jadwal puasa sunnah, hingga sulit mencari waktu untuk membaca Al-Qur’an. Untungnya, kemajuan teknologi kini menghadirkan berbagai aplikasi Islami yang dapat membantu Sahabat Muslim tetap konsisten menjalankan ibadah, kapan pun dan di mana pun berada.

Dari pengingat waktu shalat, Al-Qur’an digital, hingga fitur zakat dan sedekah online, aplikasi-aplikasi ini hadir sebagai solusi praktis bagi Muslim modern yang ingin tetap dekat dengan Allah SWT di tengah kesibukan sehari-hari. Lalu, apa saja aplikasi Islami yang direkomendasikan untuk menunjang ibadah harian? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Aplikasi Islami hadir sebagai solusi bagi Muslim modern untuk tetap konsisten beribadah di tengah kesibukan, mulai dari pengingat salat hingga Al-Qur’an digital.
  • Beberapa rekomendasi aplikasi Islami yang bisa digunakan antara lain ArahMuslim, Muslim Pro, Qur’an Kemenag, dan Umma.
  • Sebelum memilih, penting memperhatikan kelengkapan fitur, ketersediaan tanpa iklan berlebihan, serta kredibilitas sumber referensi keagamaan yang digunakan aplikasi tersebut.

Mengapa Aplikasi Islami Semakin Dibutuhkan di Era Digital? 

Gaya hidup yang serba cepat dan mobilitas tinggi membuat banyak Muslim membutuhkan cara yang lebih praktis untuk menjaga ibadah tetap konsisten. Aplikasi Islami hadir untuk menjawab kebutuhan ini, mulai dari mengingatkan waktu shalat secara otomatis, menyediakan Al-Qur’an digital yang mudah diakses, hingga memudahkan penunaian zakat dan sedekah tanpa harus keluar rumah.

Perlu dipahami bahwa membuka aplikasi Al-Qur’an di ponsel tidak dianggap sebagai menyentuh mushaf secara fisik, sehingga tetap dapat dibuka meski dalam keadaan berhadas, meski adab menjaga kehormatan Al-Qur’an tetap perlu diperhatikan, seperti tidak membukanya di tempat yang tidak layak. Dengan pemanfaatan yang bijak, teknologi dapat menjadi sarana yang mendekatkan, bukan menjauhkan, seorang Muslim dari ibadahnya.

Apa Saja Rekomendasi Aplikasi Islami untuk Ibadah Sehari-hari?

Berikut beberapa rekomendasi aplikasi Islami yang dapat menunjang ibadah sehari-hari:

  1. ArahMuslim

ArahMuslim hadir sebagai aplikasi ibadah Muslim yang gratis dan bebas iklan, dilengkapi berbagai fitur pendukung ibadah harian, seperti jadwal sholat, pencarian masjid terdekat, hingga hadis pilihan yang berganti setiap hari. Aplikasi ini juga memudahkan Sahabat Muslim untuk menunaikan zakat penghasilan, infak, dan sedekah secara online, serta menyediakan layanan pendaftaran paket ibadah umrah dan haji yang bekerja sama dengan travel terpercaya.

  1. Muslim Pro

Muslim Pro merupakan salah satu aplikasi Islami yang cukup populer secara global, menawarkan fitur lengkap seperti jadwal sholat otomatis sesuai lokasi, arah kiblat, Al-Qur’an digital dengan berbagai pilihan bahasa terjemahan, hingga kalender Hijriah. Aplikasi ini cocok bagi Sahabat Muslim yang sering bepergian ke berbagai negara.

  1. Qur’an Kemenag

Sebagai aplikasi resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Qur’an Kemenag menyediakan Mushaf Standar Indonesia Rasm Usmani lengkap dengan terjemahan dan tafsir. Aplikasi ini juga dilengkapi fitur suara murattal, sehingga cocok digunakan untuk menyimak sekaligus mempelajari bacaan Al-Qur’an yang benar. Kredibilitasnya sebagai aplikasi resmi pemerintah menjadi nilai tambah tersendiri.

  1. Umma

Umma merupakan aplikasi Islami buatan Indonesia yang menggabungkan fitur ibadah dengan media sosial Islami. Selain jadwal salat dan Al-Qur’an dengan terjemahan multibahasa, aplikasi ini juga menghadirkan fitur kelas online, seminar, hingga sesi tanya jawab dengan ustaz, sehingga cocok bagi Sahabat Muslim yang ingin terus menambah wawasan keislaman.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Aplikasi Islami? 

Sebelum memilih aplikasi Islami, ada baiknya memperhatikan kelengkapan fitur yang sesuai kebutuhan, misalnya apakah membutuhkan fitur zakat online, kelas belajar Al-Qur’an, atau sekadar pengingat waktu salat. Selain itu, penting juga untuk memastikan aplikasi tersebut tidak dipenuhi iklan berlebihan yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.

Kredibilitas sumber rujukan keagamaan yang digunakan aplikasi juga tidak kalah penting, terutama untuk konten Al-Qur’an, tafsir, maupun hadis. Memilih aplikasi dari sumber terpercaya membantu memastikan bahwa informasi keagamaan yang diakses benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan

Aplikasi Islami seperti ArahMuslim, Muslim Pro, Qur’an Kemenag, dan Umma dapat menjadi solusi praktis bagi Sahabat Muslim untuk tetap konsisten beribadah di tengah kesibukan hidup modern. Masing-masing aplikasi menawarkan keunggulan berbeda, mulai dari kelengkapan fitur ibadah harian hingga layanan zakat dan sedekah online.

Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, ibadah sehari-hari dapat dijalankan dengan lebih mudah dan konsisten, tanpa mengurangi kekhusyukan dan keikhlasan di dalamnya. Yuk, unduh aplikasi ArahMuslim sekarang dan lengkapi kebutuhan ibadahmu kapan pun dan di mana pun.

Referensi:

https://an-nur.ac.id/7-rekomendasi-aplikasi-islam-terbaik-untuk-mendukung-ibadah-di-era-digital/

https://www.orami.co.id/magazine/aplikasi-islam

FAQ

Tidak. Aplikasi Al-Qur’an di smartphone tidak dianggap sebagai mushaf secara fisik, sehingga tetap dapat dibuka meski dalam keadaan berhadas, meski adab menjaga kehormatannya tetap perlu diperhatikan.

Ya, beberapa aplikasi Islami, termasuk ArahMuslim, menyediakan fitur untuk menunaikan zakat penghasilan, infak, dan sedekah secara online dengan proses yang mudah dan transparan.

Pilihlah aplikasi yang minim iklan, memiliki antarmuka yang sederhana, serta bersumber dari rujukan keagamaan yang kredibel, agar penggunaannya tetap mendukung fokus dan kekhusyukan dalam beribadah.

18 Tahun Diuji Tanpa Sekalipun Mengeluh, Pelajaran dari Kisah Nabi Ayyub AS

Ketika berbicara tentang kesabaran dalam Islam, kisah Nabi Ayyub AS selalu menjadi salah satu teladan yang paling sering disebut. Beliau digambarkan sebagai sosok yang diuji dengan cobaan luar biasa berat, mulai dari kehilangan harta, anak-anak, hingga penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun, namun tidak sekali pun mengeluh atau berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pengingat bagi setiap Muslim yang tengah menghadapi musibah, bahwa kesabaran dan keteguhan iman akan membuahkan pertolongan Allah SWT pada waktunya. Lalu, bagaimana kisah lengkap ujian Nabi Ayyub AS dan apa pelajaran yang bisa dipetik darinya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Nabi Ayyub AS dikenal sebagai hamba yang kaya raya, taat beribadah, dan dermawan sebelum akhirnya diuji Allah SWT dengan cobaan yang sangat berat.
  • Pelajaran utama dari kisah ini adalah kesabaran tanpa mengadu kepada manusia, tetap berdzikir dalam kondisi sesulit apa pun, serta keyakinan bahwa Allah SWT akan mengganti kesulitan dengan sesuatu yang lebih baik.
  • Penggunaan AI harus berlandaskan amanah, kejujuran, dan etika Islam, sehingga teknologi dapat memberikan manfaat bagi umat tanpa mengabaikan nilai-nilai syariat.

Siapakah Nabi Ayyub AS Sebelum Diuji? 

Sebelum diuji dengan berbagai musibah, Nabi Ayyub AS dikenal sebagai hamba Allah SWT yang sangat kaya raya, memiliki banyak ternak dan lahan yang luas, sekaligus sosok yang taat beribadah dan penyayang terhadap sesama. Beliau dikenal gemar menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda, serta orang-orang yang membutuhkan bantuan dari hartanya yang melimpah.

Allah SWT menggambarkan Nabi Ayyub AS sebagai sebaik-baik hamba yang sangat taat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Shad ayat 44. Kekayaan yang dimilikinya tidak membuatnya lalai dari ketaatan, justru menjadi sarana baginya untuk memperbanyak amal saleh dan kepedulian terhadap sesama.

Bagaimana Ujian yang Dihadapi Nabi Ayyub AS?

Berikut rangkaian ujian berat yang dihadapi Nabi Ayyub AS sebagaimana dikisahkan dalam berbagai riwayat:

  1. Kehilangan Seluruh Harta

Ujian pertama yang menimpa Nabi Ayyub AS adalah hilangnya seluruh kekayaan yang dimilikinya, mulai dari ternak hingga lahan pertanian, hingga beliau jatuh menjadi seorang yang fakir. Meski demikian, beliau tetap bersyukur dan tidak pernah mengeluhkan kondisi tersebut kepada siapa pun.

  1. Wafatnya Anak-anak yang Dicintai

Ujian berikutnya datang dengan wafatnya seluruh anak-anak Nabi Ayyub AS yang sangat dicintainya. Kehilangan yang begitu besar ini tentu menjadi pukulan berat, namun beliau tetap mengucapkan kalimat istirja (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun) sebagai bentuk penerimaan atas ketetapan Allah SWT.

  1. Penyakit Parah Selama 18 Tahun

Ujian paling berat yang dihadapi Nabi Ayyub AS adalah penyakit yang dideritanya selama 18 tahun lamanya. Sepanjang masa sakit tersebut, hanya istrinya yang setia menemani dan merawatnya, sementara sebagian besar orang di sekitarnya menjauh. Meski dalam kondisi sakit yang parah, Nabi Ayyub AS tidak pernah berhenti berdzikir dan memuji Allah SWT.

  1. Doa dan Kesembuhan dari Allah SWT

Setelah bertahun-tahun bersabar, Nabi Ayyub AS memanjatkan doa kepada Allah SWT, memohon rahmat dan kasih sayang-Nya atas penderitaan yang dialaminya. Allah SWT pun mengabulkan doanya dengan memerintahkannya menghentakkan kaki ke tanah, hingga memancarlah mata air yang menjadi sarana kesembuhannya. Allah SWT bahkan mengembalikan keluarga dan hartanya, bahkan melipatgandakannya sebagai rahmat atas kesabaran yang telah ditunjukkan.

Apa Pelajaran Kesabaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Ini?  

Kisah Nabi Ayyub AS mengajarkan bahwa kesabaran sejati adalah mengadukan segala kesulitan hanya kepada Allah SWT, bukan mengeluh kepada sesama manusia. Sepanjang ujian yang dihadapinya, beliau tetap menjaga lisannya untuk senantiasa berdzikir dan memuji Allah SWT, meski dalam kondisi fisik yang sangat lemah, sejalan dengan berbagai upaya mencari ketenangan hati di tengah kesulitan hidup.

Sebagaimana juga tergambar dalam kisah Nabi Yusuf AS, kisah Nabi Ayyub AS kembali menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa menyediakan jalan keluar dan kelapangan bagi hamba-Nya yang bersabar dan bertakwa, meski ujian yang dihadapi terasa sangat berat dan berlangsung dalam waktu yang lama.

Kesimpulan

Kisah Nabi Ayyub AS menjadi salah satu teladan kesabaran paling agung dalam Al-Qur’an, menggambarkan bagaimana seorang hamba yang taat diuji dengan kehilangan harta, anak-anak, hingga penyakit selama 18 tahun, namun tetap teguh dalam kesabaran dan keimanan. Pada akhirnya, kesabaran tersebut membuahkan pertolongan dan kelapangan yang luar biasa dari Allah SWT.

Semoga kisah Nabi Ayyub AS dapat menjadi pengingat bagi setiap Muslim yang tengah menghadapi ujian hidup, bahwa kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT akan selalu membawa pada jalan keluar terbaik. Yuk, terus tambah wawasan seputar kisah para nabi bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://rumaysho.com/15439-21-pelajaran-dari-kisah-nabi-ayyub-sang-penyabar.html

https://tafsiralquran.id/kesabaran-nabi-ayyub-yang-diceritakan-dalam-al-quran

FAQ

Nabi Ayyub AS menderita penyakit yang sangat parah selama 18 tahun, namun tetap bersabar dan tidak pernah berhenti berdzikir kepada Allah SWT sepanjang masa sakitnya.

Nabi Ayyub AS hanya mengadukan penderitaannya kepada Allah SWT melalui doa, bukan kepada manusia, sebagai bentuk kesabaran yang berpahala dan penuh keikhlasan.

Setelah bertahun-tahun bersabar, Allah SWT mengabulkan doanya dengan memberikan kesembuhan, mengembalikan keluarganya, serta melipatgandakan hartanya sebagai bentuk rahmat atas kesabaran yang telah ditunjukkan.

10 Malam Penuh Berkah, Ini Keutamaan I’tikaf di Akhir Ramadhan

Sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi fase yang paling dinanti umat Islam, karena di dalamnya tersimpan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Untuk memaksimalkan fase istimewa ini, Rasulullah SAW mencontohkan sebuah ibadah khusus yang disebut i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menariknya, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sepanjang hidupnya, bahkan sejak beliau tiba di Madinah hingga wafat. Lalu, apa saja keutamaan i’tikaf dan bagaimana niat serta syarat pelaksanaannya yang benar? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • I’tikaf adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
  • Keutamaan i’tikaf antara lain menjadi sarana mencari malam Lailatul Qadar, meneladani sunnah Rasulullah SAW, serta memusatkan diri sepenuhnya untuk beribadah tanpa terganggu urusan duniawi.
  • I’tikaf sah dilakukan di masjid mana pun yang digunakan untuk sholat berjamaah, dengan durasi yang fleksibel, mulai dari beberapa jam hingga sepuluh hari penuh.

Apa Itu I’tikaf ?

Secara bahasa, i’tikaf berarti berdiam diri dan menetap dalam sesuatu. Dalam istilah fikih, i’tikaf adalah aktivitas berdiam diri di masjid dalam kurun waktu tertentu dengan melakukan amalan-amalan ibadah tertentu, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa, semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah SWT.

Ibadah ini disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, yang selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sejak beliau tiba di Madinah hingga wafat, sebagaimana diriwayatkan Aisyah RA dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim. Setelah Rasulullah SAW wafat, tradisi ini pun tetap dilanjutkan oleh istri-istri beliau.

Apa Saja Keutamaan I’tikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan?

Sumber Gambar: Magnific

Berikut beberapa keutamaan i’tikaf yang perlu diketahui:

  1. Sarana Mencari Malam Lailatul Qadar

Keutamaan paling utama dari i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah kesempatan untuk mencari malam Lailatul Qadar, malam yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan. Dengan berdiam diri di masjid selama fase ini, seorang Muslim memiliki peluang lebih besar untuk meraih malam istimewa tersebut, dibandingkan menjalani aktivitas seperti biasa di luar masjid.

  1. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin ber-i’tikaf bersamanya, maka hendaklah ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Ibnu Hibban. Menjalankan i’tikaf menjadi salah satu cara nyata untuk meneladani kebiasaan ibadah Rasulullah SAW yang tidak pernah beliau tinggalkan. 

  1. Memusatkan Diri Sepenuhnya untuk Beribadah

I’tikaf memberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk memutus sementara diri dari kesibukan duniawi dan memusatkan seluruh perhatian kepada Allah SWT. Suasana masjid yang tenang membantu hati lebih fokus berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan bermuhasabah, sebagaimana juga dapat dilengkapi dengan memperbanyak sholat Tahajud di malam hari selama masa i’tikaf berlangsung.

  1. Momentum Memperbanyak Doa di Waktu Mustajab

Malam-malam i’tikaf, terutama di sepertiga malam terakhir, menjadi momen yang tepat untuk memperbanyak doa, karena bertepatan dengan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Kombinasi antara ibadah i’tikaf dan doa di waktu-waktu istimewa ini menjadikan sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai kesempatan besar untuk meraih ampunan dan keberkahan.

Bagaimana Niat dan Syarat Pelaksanaan I’tikaf?  

Niat i’tikaf dapat dilafalkan dalam hati, yaitu niat melakukan i’tikaf sunnah di masjid tersebut karena Allah SWT. I’tikaf sah dilakukan di masjid mana pun yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah, meski sebagian ulama, seperti kalangan Hanafiyah, mensyaratkan masjid tersebut memiliki imam dan muazin khusus.

Mengenai durasi, para ulama berbeda pendapat, dengan sebagian membolehkan i’tikaf dalam waktu singkat tanpa batasan tertentu, sementara ulama Malikiyah menyebutkan minimal satu malam dan satu hari. Dengan demikian, i’tikaf dapat dilakukan secara fleksibel, baik hanya beberapa jam di malam hari maupun sepuluh hari penuh sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Kesimpulan

I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan ibadah sunnah dengan keutamaan yang sangat besar, mulai dari menjadi sarana mencari malam Lailatul Qadar, meneladani sunnah Rasulullah SAW, memusatkan diri sepenuhnya untuk beribadah, hingga momentum memperbanyak doa di waktu-waktu mustajab. Ibadah ini dapat dilakukan secara fleksibel sesuai kemampuan masing-masing.

Dengan menghidupkan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan, diharapkan setiap Muslim dapat meraih keberkahan dan ampunan yang melimpah di penghujung bulan suci. Yuk, terus tambah wawasan seputar ibadah di bulan Ramadan bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://mui.or.id/baca/bimbingan/itikaf-hukum-keutamaan-dan-tuntunan-lengkap-69b130c0bf04c

https://muhammadiyah.or.id/2025/03/itikaf-pengertian-waktu-tempat-amalan-dan-syarat-syaratnya/

FAQ

Tidak. I’tikaf boleh dilakukan kapan saja sepanjang tahun, namun paling dianjurkan dan paling utama dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan untuk mencari malam Lailatul Qadar.

Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi minimal i’tikaf. Sebagian membolehkannya dalam waktu singkat tanpa batasan tertentu, sementara ulama Malikiyah menyebutkan minimal satu malam dan satu hari.

Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai hal ini. Sebagian ulama mensyaratkan puasa sebagai bagian dari i’tikaf, sementara ulama lain seperti Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa i’tikaf tetap sah dilakukan tanpa berpuasa.

Ini 5 Adab Berpakaian dalam Islam

Pakaian bukan sekadar kebutuhan untuk melindungi tubuh dari panas dan dingin, tetapi juga menjadi salah satu wujud kehormatan dan identitas seorang Muslim. Allah SWT sendiri menurunkan pakaian sebagai nikmat sekaligus perintah untuk menutup aurat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 26.

Namun, Islam tidak hanya mengatur soal menutup tubuh, melainkan juga memberikan panduan lengkap mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim berpakaian dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, apa saja adab berpakaian yang perlu diperhatikan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan hadis? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Allah SWT menurunkan pakaian sebagai nikmat sekaligus perintah untuk menutup aurat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 26.
  • Beberapa adab berpakaian yang dianjurkan antara lain menutup aurat secara sempurna, tidak transparan atau ketat, tidak menyerupai lawan jenis, serta tidak berlebihan dan sombong.
  • Menjaga adab berpakaian membawa berbagai manfaat, mulai dari menjaga kehormatan diri, terhindar dari fitnah, hingga menjadi identitas seorang Muslim di tengah masyarakat.

Mengapa Berpakaian Memiliki Aturan Khusus dalam Islam?

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 26 bahwa Dia telah menurunkan pakaian untuk menutup aurat sekaligus sebagai perhiasan, namun pakaian takwa adalah yang paling baik. Ayat ini menunjukkan bahwa fungsi pakaian dalam Islam tidak berhenti pada aspek fisik semata, melainkan juga memiliki dimensi spiritual yang mencerminkan ketakwaan seseorang.

Aturan berpakaian ini juga bertujuan menjaga kehormatan dan martabat manusia, sekaligus mencegah berbagai dampak negatif yang dapat timbul akibat cara berpakaian yang tidak sesuai syariat, seperti fitnah maupun gangguan dari orang lain. Oleh karena itu, memahami adab berpakaian menjadi penting agar setiap Muslim dapat tampil sopan sekaligus menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.

Apa Saja Adab Berpakaian dalam Islam?

Sumber Gambar: Magnific

Berikut beberapa adab berpakaian yang dianjurkan dalam Islam:

  1. Menutup Aurat secara Sempurna

Adab paling mendasar dalam berpakaian adalah menutup aurat. Bagi laki-laki, aurat yang wajib ditutup adalah antara pusar hingga lutut, sementara bagi perempuan mencakup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan di hadapan orang yang bukan mahram. Menutup aurat menjadi kewajiban dasar yang harus dipenuhi, karena tanpa hal ini, tujuan berpakaian dalam Islam belum tercapai.

  1. Tidak Transparan dan Tidak Ketat

Pakaian yang dikenakan sebaiknya tidak tipis atau transparan hingga memperlihatkan warna kulit, serta tidak ketat hingga menampakkan lekuk tubuh secara jelas. Meski secara fisik tubuh sudah tertutup kain, pakaian semacam ini tetap dianggap belum memenuhi esensi menutup aurat yang sesungguhnya.

  1. Tidak Menyerupai Pakaian Lawan Jenis

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari. Islam menjaga identitas gender secara jelas melalui cara berpakaian, sehingga setiap Muslim dianjurkan mengenakan busana yang sesuai dengan kodratnya.

  1. Tidak Berlebihan dan Sombong

Islam membolehkan seseorang berpakaian indah dan rapi, namun tetap melarang sikap berlebihan atau bermegah-megahan dalam berbusana. Rasulullah SAW bersabda agar umatnya makan, bersedekah, dan berpakaian tanpa berlebihan maupun kesombongan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat An-Nasa’i.

  1. Bersih dan Rapi

Selain menutup aurat, pakaian yang dikenakan juga dianjurkan untuk selalu bersih dan rapi, karena Allah SWT mencintai keindahan. Kebersihan dan kerapian dalam berpakaian mencerminkan penghormatan terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Apa Manfaat Menjaga Adab Berpakaian Ini? 

Menjaga adab berpakaian membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun sosial. Selain menjaga kehormatan diri dan terhindar dari fitnah maupun pandangan yang tidak halal, berpakaian sesuai syariat juga menjadi identitas yang membedakan seorang Muslim, sekaligus bentuk ketaatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesederhanaan dalam berpakaian juga sejalan dengan prinsip menjaga kejujuran dan integritas diri, karena seseorang tidak perlu tampil berlebihan demi mendapatkan pengakuan atau pujian orang lain. Dengan begitu, penampilan yang dijaga sesuai syariat dapat mencerminkan keindahan akhlak, bukan sekadar keindahan fisik semata.

Kesimpulan

Adab berpakaian dalam Islam meliputi menutup aurat secara sempurna, tidak transparan atau ketat, tidak menyerupai pakaian lawan jenis, tidak berlebihan dan sombong, serta senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian. Aturan ini menunjukkan bahwa berpakaian dalam Islam bukan sekadar soal menutup tubuh, melainkan juga cerminan ketakwaan dan kehormatan diri.

Dengan menerapkan adab berpakaian ini, diharapkan setiap Muslim dapat tampil sopan, terhormat, dan tetap menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Yuk, terus tambah wawasan seputar adab dan akhlak Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://baznas.go.id/artikel-show/Adab-Berpakaian-dalam-Islam:-Panduan-Lengkap-Berbusana-Sesuai-Tuntunan-Ilahi/1628

https://tirto.id/adab-berpakaian-dan-berhias-menurut-islam-utamakan-menutup-aurat-gbTH

FAQ

Batasan aurat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut, sementara aurat perempuan mencakup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan di hadapan orang yang bukan mahram.

Tidak. Islam membolehkan berpakaian indah dan rapi, namun tetap melarang sikap berlebihan atau bermegah-megahan yang bertujuan untuk memamerkan diri maupun menimbulkan kesombongan.

Karena tujuan utama berpakaian adalah menutup aurat secara sempurna. Pakaian yang transparan tetap memperlihatkan bentuk atau warna kulit, sehingga esensi menutup aurat belum benar-benar tercapai.

5 Kafe di Madinah yang Bisa Dikunjungi Saat Umrah

Madinah tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah dan berziarah. Di sela-sela aktivitas tersebut, jemaah juga dapat menemukan berbagai kafe yang menawarkan kopi, minuman dingin, camilan, hingga makanan ringan.

Bagi jemaah yang ingin menikmati waktu santai setelah beribadah di Masjid Nabawi, beberapa kafe di Madinah bisa menjadi pilihan. Mulai dari kafe yang dekat dengan kawasan Masjid Nabawi hingga kedai kopi yang menyediakan pilihan take away, berikut rekomendasinya.

Ringkasan

  • Madinah memiliki berbagai kafe yang dapat dikunjungi jemaah di sela-sela aktivitas ibadah.
  • Beberapa pilihan yang dapat ditemukan antara lain Row Coffee, Kiffa Roaster, Brew 92, Barn’s, dan Castello Coffee.
  • Jemaah sebaiknya tetap menyesuaikan waktu berkunjung dengan jadwal salat dan aktivitas ibadah.

1. Row Coffee

Row Coffee menjadi salah satu kafe yang cukup dikenal di kalangan jemaah yang berkunjung ke Madinah. Lokasinya disebut berada sekitar empat menit berjalan kaki dari Masjid Nabawi sehingga cukup mudah dijangkau setelah beribadah.

Pilihan menunya cukup beragam, mulai dari espresso, latte, cappuccino, dan flat white hingga minuman dingin seperti Spanish latte dan matcha latte. Jemaah juga dapat menikmati berbagai camilan, seperti French toast, brownies bites, dan makanan ringan lainnya.

2. Kiffa Roaster

Kiffa Roaster merupakan salah satu kedai kopi yang memiliki beberapa lokasi di Madinah, termasuk di kawasan Prince Naif bin Abdulaziz, Maqsad Quba, Al-Dress Station, dan Garden Plaza. Kafe ini juga cukup sering direkomendasikan untuk jemaah yang ingin menikmati kopi di Madinah.

Menu yang tersedia antara lain espresso-based coffee, drip coffee, latte, Spanish latte, dan Kiffa latte. Selain minuman, tersedia pula sejumlah pilihan makanan manis seperti puding kurma, French toast, dan cheesecake. Kiffa juga menjual biji kopi yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

3. Brew 92

Brew 92 juga menjadi salah satu pilihan kafe yang berada di sekitar Masjid Nabawi. Salah satu lokasinya disebut berada di belakang Hotel Dar Al Iman dan dekat dengan Gate 329 atau 330 Masjid Nabawi.

Kafe ini dikenal dengan konsep coffee to go, sehingga lebih cocok bagi jemaah yang ingin membeli kopi untuk dibawa ke hotel atau dinikmati setelah aktivitas ibadah. Salah satu menu yang banyak direkomendasikan adalah Spanish latte, sementara pilihan lainnya mencakup espresso, cappuccino, latte, flat white, mocha, dan hot chocolate.

4. Barn’s

Barn’s merupakan jaringan kedai kopi asal Arab Saudi yang telah berdiri sejak 1992 dan memiliki banyak cabang di berbagai wilayah negara tersebut, termasuk Madinah. Beberapa lokasinya berada di kawasan seperti Sultana dan Quba.

Menu Barn’s cukup beragam, mulai dari kopi panas dan dingin hingga pastry dan camilan. Jemaah dapat menemukan pilihan seperti americano, latte, macchiato, Turkish coffee, French coffee, hingga Spanish latte.

5. Castello Coffee

Castello Coffee juga termasuk salah satu kafe yang berada di Madinah. Salah satu lokasinya dilaporkan berada di kawasan King Abdulaziz, dengan pilihan minuman kopi dan berbagai makanan manis.

Menu yang tersedia antara lain iced americano, iced coffee latte, iced caramel macchiato, dan berbagai pilihan frappuccino. Bagi jemaah yang ingin menikmati minuman manis setelah beraktivitas, tersedia pula pilihan seperti cokelat, brownies, dan macaron.

Kesimpulan

Ada banyak pilihan kafe di Madinah yang dapat menjadi tempat untuk beristirahat sejenak setelah menjalani aktivitas ibadah. Row Coffee, Kiffa Roaster, Brew 92, Barn’s, dan Castello Coffee menawarkan pilihan minuman serta makanan yang beragam, dengan beberapa lokasi berada cukup dekat dari kawasan Masjid Nabawi.

Meski begitu, jemaah tetap perlu menyesuaikan waktu berkunjung dengan jadwal salat dan ibadah agar aktivitas kuliner tidak mengurangi waktu beribadah di Tanah Suci. Untuk membantu perjalanan ibadah, gunakan ArahMuslim untuk mengetahui jadwal salat dan menemukan masjid terdekat.

Referensi:

https://food.detik.com/info-kuliner/d-7804631/5-coffee-shop-populer-di-madinah-yang-jadi-incaran-jamaah-umrah

https://www.tripadvisor.co.id/Restaurants-g298551-c8-Medina_Al_Madinah_Province.html

FAQ

Pilihan yang banyak ditemukan antara lain Spanish latte, latte, espresso, cappuccino, matcha latte, serta berbagai minuman dingin.

Ya. Sejumlah kafe juga menyediakan pastry, dessert, sandwich, French toast, brownies, cheesecake, dan makanan ringan lainnya.

Jemaah dapat mengunjunginya di waktu senggang di antara aktivitas ibadah, dengan tetap memperhatikan jadwal salat dan agenda ziarah.

6 Dosa yang Sering Dianggap Sepele Muslimah, Wajib Tahu!

Dalam kehidupan sehari-hari, ada berbagai perbuatan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi perlu diperhatikan dalam ajaran Islam. Termasuk bagi muslimah, beberapa kebiasaan dalam berpakaian, berhias, maupun berinteraksi dengan orang lain memiliki aturan yang perlu dipahami.

Memahami hal-hal tersebut bukan untuk menghakimi diri sendiri maupun orang lain, melainkan menjadi pengingat agar setiap aktivitas tetap dilakukan sesuai tuntunan syariat. Lalu, apa saja dosa yang sering dianggap sepele oleh muslimah? Berikut beberapa di antaranya.

Ringkasan

  • Membuka aurat di hadapan bukan mahram merupakan hal yang perlu dihindari oleh muslimah.
  • Ghibah, berlebihan dalam berhias, penggunaan wewangian saat keluar rumah, serta mengubah bentuk alis memiliki ketentuan yang perlu diperhatikan dalam Islam.
  • Menyebarkan aib dan rahasia orang lain, termasuk melalui media sosial, perlu dihindari karena dapat merugikan dan merusak kehormatan seseorang.

1. Membuka Aurat di Hadapan yang Bukan Mahram

Menutup aurat merupakan salah satu kewajiban dalam Islam. Aurat muslimah perlu dijaga ketika berada di hadapan laki-laki yang bukan mahram, dengan memperhatikan ketentuan pakaian yang menutup tubuh dan tidak menampakkan perhiasan secara berlebihan.

Oleh karena itu, muslimah perlu memperhatikan cara berpakaian, termasuk ketika berada di luar rumah maupun di lingkungan yang terdapat laki-laki bukan mahram. Memahami batasan aurat dapat membantu seorang muslimah lebih berhati-hati dalam menjaga kehormatan dan menjalankan kewajiban agama.

2. Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain

Ghibah merupakan salah satu perbuatan yang mendapat peringatan keras dalam Islam. Ghibah berarti membicarakan sesuatu tentang saudara sesama Muslim yang apabila ia mendengarnya, ia tidak menyukainya, meskipun hal tersebut benar adanya.

Kebiasaan membicarakan kekurangan orang lain terkadang muncul dalam percakapan sehari-hari dan dianggap sebagai obrolan biasa. Padahal, seorang muslimah perlu berhati-hati agar percakapan tidak berubah menjadi ghibah, terutama ketika membahas kehidupan, penampilan, keluarga, atau kekurangan orang lain.

3. Berlebihan dalam Berhias dan Menampakkan Perhiasan

Islam tidak melarang muslimah untuk berhias dan menjaga penampilan. Namun, terdapat tuntunan mengenai bagaimana seorang Muslimah berhias, termasuk ketika berada di hadapan laki-laki yang bukan mahram.

Berhias secara berlebihan atau menampakkan perhiasan kepada yang tidak seharusnya dapat menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, penting bagi muslimah untuk memahami batasan tabarruj serta menjaga penampilan agar tetap sesuai dengan ketentuan syariat.

4. Memakai Wewangian Saat Keluar Rumah

Menggunakan parfum merupakan hal yang umum dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan kesegaran tubuh. Namun, dalam Islam terdapat ketentuan mengenai penggunaan wewangian bagi muslimah ketika keluar rumah dan melewati laki-laki yang bukan mahram.

Muslimah sebaiknya memperhatikan kondisi dan tujuan penggunaan wewangian agar tidak menimbulkan perhatian dari laki-laki yang bukan mahram. Dengan memahami ketentuannya, penggunaan parfum dapat tetap dilakukan secara bijak tanpa mengabaikan adab yang diajarkan dalam Islam.

5. Mencabut atau Menipiskan Alis untuk Mempercantik Diri

Merawat penampilan merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam selama tidak melanggar ketentuan syariat. Salah satu hal yang mendapat perhatian dalam pembahasan fikih adalah tindakan mengubah bentuk alis untuk tujuan mempercantik diri.

Dalam sejumlah hadis terdapat larangan terkait namsh, yaitu tindakan mencabut atau mengubah rambut alis untuk memperindah penampilan. Oleh karena itu, muslimah perlu memahami batasan perawatan alis dan membedakannya dari tindakan yang dilakukan karena kebutuhan tertentu.

6. Menyebarkan Aib dan Rahasia Orang Lain

Menjaga aib dan rahasia orang lain merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim. Membicarakan atau menyebarkan keburukan seseorang, terutama sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang lain, dapat menimbulkan fitnah, konflik, dan merusak kehormatan.

Di era media sosial, hal ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan. Membagikan cerita pribadi, tangkapan layar percakapan, foto, atau informasi tentang seseorang tanpa izin dapat membuka aib yang seharusnya dijaga. Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, sebaiknya pertimbangkan manfaat dan dampaknya bagi orang lain.

Kesimpulan

Menjadi muslimah bukan hanya tentang memperhatikan ibadah wajib, tetapi juga menjaga perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang terlihat sederhana, seperti cara berpakaian, berbicara, berhias, hingga menggunakan media sosial, tetap perlu dilakukan dengan memperhatikan tuntunan Islam.

Temukan berbagai artikel tentang Islam, ibadah, dan kehidupan Muslim lainnya di ArahMuslim, serta dapatkan informasi yang membantu memperkaya wawasan keislaman.

Referensi:

https://www.detik.com/hikmah/muslimah/d-8654343/7-dosa-yang-sering-tidak-disadari-kaum-muslimah

https://serambimuslim.com/fikih/7-dosa-yang-sering-tak-disadari-perempuan-wajib-diwaspadai

FAQ

Tidak. Islam membolehkan muslimah berhias selama dilakukan dalam batas yang diperbolehkan syariat dan tidak ditujukan untuk hal yang dilarang.

Ghibah justru berarti membicarakan sesuatu yang benar tentang seseorang tetapi ia tidak menyukainya jika hal tersebut disampaikan di belakangnya.

Perbuatan yang terjadi tanpa sengaja perlu dibedakan dari tindakan yang dilakukan dengan sengaja. Jika menyadarinya, muslimah dapat segera memperbaiki dan menutup auratnya.

Saat Dunia Terlelap, Ini Keutamaan dan Tata Cara Shalat Tahajud

Di tengah keheningan malam, saat kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya, ada momen istimewa yang Allah SWT sediakan bagi hamba-Nya yang mau bangun untuk bermunajat, yaitu shalat Tahajud. Ibadah ini bukan sekadar shalat sunnah biasa, melainkan salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW sepanjang hidupnya.

Allah SWT bahkan secara khusus menyebutkan anjuran shalat Tahajud dalam Al-Qur’an, lengkap dengan janji kedudukan yang terpuji bagi siapa saja yang mengerjakannya. Lalu, apa saja keutamaan shalat Tahajud dan bagaimana niat serta tata cara pelaksanaannya yang benar? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Shalat Tahajud adalah shalat sunnah muakkadah yang dikerjakan pada malam hari setelah bangun tidur, dengan waktu paling utama di sepertiga malam terakhir.
  • Keutamaan shalat Tahajud antara lain diangkat ke kedudukan yang terpuji, dikabulkannya doa, serta menjadi kebiasaan orang-orang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
  • Shalat Tahajud dikerjakan minimal dua rakaat tanpa batasan maksimal, dan dianjurkan tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakannya.

Apa Itu Shalat Tahajud?

Secara bahasa, tahajud berarti berupaya melawan atau meninggalkan tidur. Dalam istilah fikih, shalat Tahajud adalah shalat sunnah malam hari yang dikerjakan setelah seseorang tidur terlebih dahulu, meski hanya sebentar. Inilah yang membedakan shalat Tahajud dengan shalat sunnah malam lainnya, seperti shalat Witir atau Tarawih, yang bisa langsung dikerjakan setelah Isya tanpa harus tidur lebih dulu.

Hukum shalat Tahajud adalah sunnah muakkadah berdasarkan ijmak ulama, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena senantiasa dikerjakan Rasulullah SAW. Anjuran ini juga tercantum dalam Surah Al-Isra ayat 79, di mana Allah SWT memerintahkan untuk mengerjakan shalat Tahajud sebagai ibadah tambahan, dengan janji akan diangkat ke tempat yang terpuji.

Apa Saja Keutamaan Shalat Tahajud?

Sumber Gambar: Magnific

Berikut beberapa keutamaan shalat Tahajud yang perlu diketahui:

  1. Diangkat ke Kedudukan yang Terpuji

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 79 bahwa siapa yang mengerjakan shalat Tahajud, semoga Allah SWT mengangkatnya ke tempat (kedudukan) yang terpuji. Ayat ini menjadi salah satu motivasi utama mengapa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan ibadah ini sepanjang hidupnya.

  1. Waktu Terkabulnya Doa 

Sepertiga malam terakhir, waktu yang paling utama untuk shalat Tahajud, juga dikenal sebagai salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya, sehingga shalat Tahajud menjadi momen yang sangat tepat untuk memanjatkan berbagai permohonan. 

  1. Ciri Khas Orang-orang yang Bertakwa

Allah SWT menyebutkan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17-18 bahwa orang-orang yang bertakwa hanya sedikit tidur di malam hari dan senantiasa memohon ampunan di waktu sahur. Ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan bangun malam untuk beribadah menjadi salah satu ciri khas hamba yang dekat dengan Allah SWT.

  1. Tidur pun Bernilai Sedekah

Bagi yang telah berniat untuk bangun shalat Tahajud sebelum tidur, namun tidak berhasil bangun karena tertidur pulas, tetap dicatat pahala sesuai niatnya, dan tidurnya pun dihitung sebagai sedekah dari Allah SWT kepadanya. Keutamaan ini menunjukkan besarnya kemurahan Allah SWT bagi hamba yang bersungguh-sungguh berniat beribadah.

  1. Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Suasana malam yang sunyi membuat shalat Tahajud menjadi momen yang sangat personal antara seorang hamba dengan Allah SWT. Ketenangan ini membantu hati lebih khusyuk dan fokus dalam berdzikir maupun menyampaikan berbagai keluh kesah kepada-Nya.

Bagaimana Niat dan Tata Cara Shalat Tahajud? 

Shalat Tahajud dikerjakan minimal dua rakaat, dengan salam pada setiap dua rakaat, dan tidak memiliki batasan jumlah rakaat maksimal. Rasulullah SAW sendiri biasa mengerjakannya sebanyak 11 rakaat termasuk Witir. Niat shalat Tahajud dilafalkan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, kemudian dilaksanakan seperti shalat sunnah pada umumnya hingga salam.

Waktu pelaksanaan shalat Tahajud dimulai setelah shalat Isya hingga menjelang waktu Subuh, namun waktu yang paling utama adalah di sepertiga malam terakhir. Setelah selesai, dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir, sebagaimana juga bisa dilanjutkan hingga waktu shalat Dhuha di pagi harinya sebagai rangkaian ibadah malam dan pagi yang saling melengkapi.

Kesimpulan

Shalat Tahajud merupakan shalat sunnah muakkadah dengan keutamaan yang sangat besar, mulai dari diangkat ke kedudukan yang terpuji, menjadi waktu terkabulnya doa, ciri khas orang bertakwa, hingga tidur yang bernilai sedekah bagi yang telah berniat. Shalat ini dikerjakan minimal dua rakaat pada malam hari setelah bangun tidur, dengan waktu paling utama di sepertiga malam terakhir.

Dengan membiasakan diri mengerjakan shalat Tahajud, diharapkan setiap Muslim dapat semakin dekat dengan Allah SWT, sekaligus meraih ketenangan hati di tengah kesunyian malam. Yuk, terus tambah wawasan seputar ibadah sunnah malam hari bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://mui.or.id/baca/berita/shalat-tahajud-lengkap-tata-cara-hingga-doa

https://jabar.nu.or.id/ubudiyah/tata-cara-shalat-tahajud-lengkap-dengan-niat-bacaan-surat-doa-hukum-dan-keutamaannya-eVrff

FAQ

Ya, salah satu ciri khas sholat Tahajud adalah dikerjakan setelah bangun dari tidur, meski tidur tersebut hanya sebentar, yang membedakannya dengan sholat sunnah malam lainnya seperti Witir atau Tarawih.

Sholat Tahajud dikerjakan minimal dua rakaat, sementara jumlah maksimalnya tidak dibatasi, meski Rasulullah SAW biasa mengerjakannya sebanyak 11 rakaat termasuk sholat Witir.

Apabila seseorang telah berniat sholat Tahajud sebelum tidur namun tidak berhasil bangun, ia tetap dicatat pahala sesuai niatnya, dan tidurnya dihitung sebagai sedekah dari Allah SWT kepadanya.