Kemudahan mengakses informasi hari ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mulai dari potongan kajian pendek di media sosial hingga jawaban instan dari kecerdasan buatan (AI), ilmu pengetahuan terasa berada di ujung jari.
Namun, di tengah banjir informasi ini, pernahkah kita merasa ilmu yang dibaca berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas di hati?
Fenomena ini sering kali bersumber dari satu hal yang mulai tergerus: adab menuntut ilmu. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy:
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu.”
Tanpa adab, ilmu hanya menjadi tumpukan data yang membuat seseorang berisiko menjadi sombong, gemar berdebat di kolom komentar, atau kehilangan keberkahan (barakah) dari ilmu itu sendiri.
Mengapa Adab Lebih Utama dari Sekadar Informasi?
Dalam tradisi pendidikan Islam, proses mencari ilmu bukan sekadar transfer data, melainkan penyucian jiwa (tazkiyatun nufs) dan pembentukan karakter. Para ulama salaf bahkan rela menghabiskan waktu puluhan tahun hanya untuk mempelajari etika dan tingkah laku para guru mereka sebelum fokus mencatat riwayat hadis atau hukum fikih.
Di era digital saat ini, adab bertindak sebagai “penyaring” agar kita tidak mudah terjebak dalam disinformasi, godaan berdebat tanpa dasar, atau menggunakan ilmu hanya demi popularitas konten.
5 Adab Menuntut Ilmu Menurut Islam yang Wajib Dijaga
1. Meluruskan Niat Semata karena Allah SWT

Niat adalah fondasi dari seluruh amal. Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa barang siapa yang menuntut ilmu hanya untuk membanggakan diri di hadapan orang lain, mencari popularitas, atau meraih keuntungan duniawi semata, maka ia berada dalam ancaman kerugian besar.
2. Memiliki Sifat Tawadhu’ (Rendah Hati)
Seorang pencari ilmu bagaikan tanah yang rendah, ia siap menampung air hujan yang mengalir dari tempat yang tinggi. Sifat sombong dan merasa “paling tahu” adalah penghalang utama masuknya pemahaman sejati.
3. Menghormati Guru & Menjaga Sanad Keilmuan

Meskipun teknologi seperti AI dan mesin pencari sangat membantu mencari rujukan awal, kedudukan guru (mu’allim) tetap tidak tergantikan dalam Islam. AI dan internet tidak memiliki beban tanggung jawab moral maupun kedalaman mata rantai keilmuan (sanad).
4. Bersabar dalam Proses & Bertabayyun (Verifikasi)
Menuntut ilmu sejati membutuhkan pengorbanan waktu dan ketekunan (muthala’ah). Sifat tergesa-gesa kerap membuat seseorang mudah percaya pada narasi yang belum teruji kebenarannya (hoaks).
5. Mengamalkan & Menyebarkan dengan Hikmah

Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Puncak dari keberkahan ilmu terlihat dari perubahan perilaku pencarinya, menjadi lebih santun, kasih sayang kepada sesama, dan makin bertakwa.
Ilmu adalah cahaya, dan adab adalah wadahnya. Sehebat apa pun teknologi yang kita miliki hari ini, aturan dasar dalam meraih ilmu yang bermanfaat (ilm nafi’) tidak pernah berubah. Mari jadikan setiap proses belajar kita—baik secara langsung di majelis ilmu maupun saat berselancar di media digital—sebagai ladang pahala yang diridhai Allah SWT.
Baca Juga: Cara Mengamalkan Ayat Seribu Dinar untuk Ketenangan dan Rezeki






No comment yet, add your voice below!