Ini 5 Tempat Belajar Tahsin untuk Dewasa di Jakarta

Banyak orang dewasa merasa minder untuk belajar membaca Al-Qur’an, karena menganggap usia sudah terlalu tua atau malu jika bacaannya masih terbata-bata. Padahal, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an, dan kini semakin banyak lembaga tahsin di Jakarta yang memang dirancang khusus untuk peserta dewasa, tanpa perlu merasa canggung.

Belajar tahsin, yaitu memperbaiki cara membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid dan makharijul huruf, menjadi langkah penting agar bacaan semakin sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW. Lalu, di mana saja tempat belajar tahsin untuk dewasa yang bisa dipertimbangkan di Jakarta? Simak rekomendasinya berikut ini.

Ringkasan

  • Belajar tahsin penting bagi orang dewasa agar bacaan Al-Qur’an semakin sesuai kaidah tajwid, tidak peduli seberapa terlambat seseorang memulainya.
  • Beberapa rekomendasi tempat belajar tahsin untuk dewasa di Jakarta antara lain Nubada, Akademi Al-Qur’an, Quran Edu Center, dan Dhabtul Qur’an Learning.
  • Sebelum memilih lembaga tahsin, penting memperhatikan metode pengajaran, fleksibilitas jadwal, serta ketersediaan kelas daring bagi yang memiliki kesibukan.

Mengapa Belajar Tahsin Penting bagi Orang Dewasa?

Tahsin berarti memperbaiki atau membaguskan, dan dalam konteks Al-Qur’an, tahsin merujuk pada upaya memperbaiki bacaan agar sesuai dengan kaidah tajwid, makhraj (tempat keluarnya huruf), serta sifat-sifat huruf hijaiah. Banyak Muslim dewasa yang sebenarnya sudah bisa membaca Al-Qur’an sejak kecil, namun belum tentu bacaannya sudah benar sesuai kaidah yang diajarkan.

Belajar tahsin di usia dewasa memiliki tantangan tersendiri, seperti keterbatasan waktu akibat pekerjaan maupun rasa minder karena merasa “sudah besar” untuk belajar dari awal. Namun, banyak lembaga kini menghadirkan program khusus dewasa dengan suasana yang lebih santai dan tidak menghakimi, sehingga peserta dapat belajar dengan nyaman sesuai levelnya masing-masing.

Apa Saja Rekomendasi Tempat Belajar Tahsin di Jakarta?

Berikut beberapa rekomendasi tempat belajar tahsin untuk dewasa di Jakarta:

1. Nubada

Berlokasi di kawasan Jakarta Timur, Nubada merupakan lembaga bimbingan Al-Qur’an yang menyediakan program berjenjang, mulai dari Basic (dasar), Pra Tahsin, hingga Tahsin bagi yang sudah bisa membaca namun ingin memperbaiki pengucapan huruf dan panjang pendek bacaan. Nubada juga menyediakan kelas jarak jauh melalui Zoom bagi peserta yang berdomisili di luar Jakarta Timur.

2. Akademi Al-Qur’an

Berlokasi di Jakarta Timur, Akademi Al-Qur’an menawarkan bimbingan membaca Al-Qur’an untuk semua usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Lembaga ini juga bekerja sama dengan berbagai masjid dan kantor untuk menyelenggarakan kelas kerja sama, sehingga memudahkan peserta yang ingin belajar di lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal atau kerja.

3. Quran Edu Center

Berlokasi di Cengkareng, Jakarta Barat, Quran Edu Center menghadirkan program Tahsin, Tahfidz, dan Terjemah Qur’an yang dapat diikuti secara online maupun offline. Lembaga ini cocok bagi Sahabat Muslim yang menginginkan fleksibilitas belajar, baik datang langsung ke lokasi maupun belajar dari rumah.

4. Dhabtul Qur’an Learning (DQL)

DQL menyediakan bimbingan membaca Al-Qur’an dari usia dini hingga dewasa dengan kelas reguler yang jadwalnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Lembaga ini menawarkan fasilitas ruang kelas ber-AC dan pengajar berpengalaman, sehingga cocok bagi yang menginginkan suasana belajar yang nyaman dan profesional.

5. Lembaga Bimbingan Al-Qur’an Al-Utsmani

Berlokasi di Condet, Jakarta Timur, lembaga ini telah memulai pembelajaran Al-Qur’an sejak tahun 1995, sehingga memiliki pengalaman panjang dalam mengajarkan tahsin kepada berbagai kalangan usia, termasuk peserta dewasa yang ingin memperbaiki bacaannya dari dasar.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Lembaga Tahsin?

Sebelum memilih lembaga tahsin, penting untuk memastikan metode pengajaran yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, misalnya metode talaqqi (tatap muka langsung) yang umumnya lebih efektif dibandingkan belajar mandiri. Selain itu, perhatikan juga fleksibilitas jadwal kelas, terutama bagi Sahabat Muslim yang memiliki kesibukan kerja, serta ketersediaan kelas daring sebagai alternatif apabila lokasi lembaga cukup jauh.

Memastikan pengajar memiliki sanad atau jalur keilmuan yang jelas juga penting untuk menjaga kualitas pembelajaran, sehingga bacaan yang dipelajari benar-benar sesuai dengan kaidah yang diajarkan secara turun-temurun sejak masa Rasulullah SAW. Bagi yang menginginkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih intensif dan menyeluruh, mondok di pondok pesantren juga bisa menjadi pilihan lanjutan setelah dasar tahsin dikuasai.

Kesimpulan

Tempat belajar tahsin untuk dewasa di Jakarta kini semakin mudah ditemukan, mulai dari Nubada, Akademi Al-Qur’an, Quran Edu Center, Dhabtul Qur’an Learning, hingga Lembaga Al-Utsmani, masing-masing dengan keunggulan dan fleksibilitas yang berbeda. Tidak ada lagi alasan untuk menunda memperbaiki bacaan Al-Qur’an karena merasa sudah terlambat.

Dengan memilih tempat belajar yang tepat dan konsisten berlatih, diharapkan bacaan Al-Qur’an Sahabat Muslim dapat semakin baik dan sesuai kaidah tajwid yang diajarkan. Yuk, terus tambah wawasan seputar ibadah dan pembelajaran Al-Qur’an bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://nubada.id/tempat-belajar-mengaji-untuk-orang-dewasa-terdekat

https://quraneducenter.com/tempat-belajar-mengaji-dewasa-terbaik-di-jakarta/

FAQ

Tidak. Banyak lembaga kini menyediakan program tahsin khusus dewasa dengan suasana yang lebih santai, sehingga peserta dapat belajar sesuai levelnya masing-masing tanpa perlu merasa minder.

Pra Tahsin umumnya ditujukan bagi peserta yang sudah bisa membaca Al-Qur’an namun masih terbata-bata, sementara Tahsin ditujukan bagi yang ingin memperbaiki pengucapan huruf (makharijul huruf) dan kaidah tajwid secara lebih mendalam.

Ya, beberapa lembaga seperti Nubada dan Quran Edu Center menyediakan kelas daring melalui Zoom, sehingga peserta yang berdomisili jauh atau memiliki kesibukan tetap dapat mengikuti pembelajaran tahsin.

5 Cara Menanamkan Kebiasaan Sholat pada Anak

Sholat merupakan tiang agama yang perlu ditanamkan sejak dini, agar kelak menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diri anak, bukan sekadar kewajiban yang dijalankan dengan terpaksa. Rasulullah SAW sendiri memberikan panduan yang jelas mengenai kapan dan bagaimana seharusnya orang tua mulai mengenalkan sholat kepada buah hatinya.

Namun, menanamkan kebiasaan ini tidak selalu mudah, terutama di tengah berbagai distraksi yang dihadapi anak-anak saat ini. Lalu, bagaimana cara menanamkan kebiasaan sholat pada anak agar benar-benar tertanam sejak dini, bukan sekadar rutinitas yang dijalankan tanpa makna? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Rasulullah SAW menganjurkan orang tua untuk mulai memerintahkan anak sholat sejak usia 7 tahun, dan menegaskannya dengan lebih tegas pada usia 10 tahun.
  • Beberapa cara menanamkan kebiasaan sholat pada anak antara lain memberi teladan, mengajak sejak dini, membuat sholat terasa menyenangkan, serta konsisten dalam membiasakannya.
  • Jika anak masih sulit diajak sholat, penting untuk tetap bersabar, menghindari paksaan yang berlebihan, dan terus mencari pendekatan yang sesuai dengan karakter anak.

Mengapa Usia 7 Tahun Menjadi Patokan Penting?

Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka,” sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Abu Dawud. Hadis ini menjadi panduan mengenai kapan sebaiknya mulai mengenalkan dan membiasakan anak untuk mendirikan sholat.

Usia 7 tahun dipilih karena pada rentang usia tersebut, anak mulai mampu memahami instruksi dan membentuk kebiasaan secara lebih matang. Dengan memperkenalkan sholat sejak usia ini, diharapkan ketika memasuki usia baligh, anak sudah terbiasa dan tidak lagi menganggap sholat sebagai sesuatu yang asing atau memberatkan.

Apa Saja Cara Menanamkan Kebiasaan Sholat pada Anak?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untuk menanamkan kebiasaan sholat pada anak:

1. Memberikan Teladan Langsung

Anak cenderung meniru apa yang dilihatnya, sehingga orang tua yang konsisten mendirikan sholat tepat waktu akan menjadi teladan paling efektif. Mengajak anak sholat berjamaah di rumah sejak dini, meski gerakannya belum sempurna, dapat membentuk kedekatan emosional antara ibadah dan kehidupan sehari-hari anak.

2. Mengenalkan Sholat Sejak Usia Dini

Meski kewajiban baru ditekankan pada usia 7 tahun, mengenalkan gerakan dan bacaan sholat sejak usia lebih dini, misalnya dengan mengajak anak berdiri di samping saat orang tua sholat, dapat membantu anak terbiasa dengan suasana ibadah ini jauh sebelum usia wajib tiba.

3. Membuat Pengalaman Sholat Menyenangkan

Menghindari kesan bahwa sholat adalah beban menjadi penting agar anak tidak tumbuh dengan persepsi negatif terhadap ibadah ini. Memberikan apresiasi sederhana, seperti pujian atau pelukan setelah anak sholat, dapat membuat pengalaman beribadah terasa lebih positif dan dinantikan.

4. Konsisten dan Sabar dalam Membiasakan

Membentuk kebiasaan membutuhkan waktu dan pengulangan yang konsisten. Orang tua perlu bersabar menghadapi fase anak yang mungkin masih sering lupa atau malas, tanpa langsung memarahi secara berlebihan, karena pendekatan yang lembut sejalan dengan cara mendidik anak menurut Islam yang mengutamakan kasih sayang.

5. Melibatkan Peran Ayah sebagai Imam Keluarga

Peran ayah sangat penting dalam menanamkan kebiasaan ibadah, termasuk sholat, karena ayah berfungsi sebagai pemimpin sekaligus teladan utama dalam keluarga. Sejalan dengan keistimewaan sosok ayah dalam Islam sebagai pendidik utama, ayah yang aktif mengajak anak sholat berjamaah akan memberikan dampak besar bagi kedisiplinan ibadah anak di kemudian hari.

Bagaimana Jika Anak Masih Sulit Diajak Sholat?

Perintah untuk “memukul” dalam hadis Rasulullah SAW dipahami para ulama bukan sebagai bentuk kekerasan fisik yang menyakiti, melainkan sebagai bentuk ketegasan yang mendidik, dengan tetap memperhatikan kondisi dan perasaan anak. Jika anak masih sulit diajak sholat meski sudah diberi teladan dan pembiasaan, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya.

Pendekatan personal dan komunikasi yang hangat, dibandingkan paksaan yang keras, umumnya lebih efektif dalam jangka panjang. Memberikan pemahaman tentang makna dan manfaat sholat secara bertahap, sesuai usia dan kemampuan anak, dapat membantu anak lebih memahami pentingnya ibadah ini, bukan sekadar menjalankannya karena takut dimarahi.

Kesimpulan

Menanamkan kebiasaan sholat pada anak sejak dini dapat dilakukan melalui keteladanan langsung, pengenalan sejak usia dini, menciptakan pengalaman yang menyenangkan, konsistensi, serta melibatkan peran aktif ayah sebagai pemimpin keluarga. Usia 7 tahun menjadi patokan penting sesuai anjuran Rasulullah SAW untuk mulai membiasakan anak mendirikan sholat.

Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan konsisten, diharapkan sholat dapat tertanam dalam diri anak bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan spiritual yang dijalankan dengan kesadaran penuh. Yuk, terus tambah wawasan seputar pendidikan Islami untuk anak bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://bmm.or.id/artikel/7-cara-mengajarkan-anak-sholat-sejak-dini-tanpa-paksaan-panduan-ayah-bunda-cerdas-Gqh

https://yatimmandiri.org/blog/parenting/membiasakan-anak-sholat/

FAQ

Para ulama memahami perintah ini sebagai bentuk ketegasan mendidik, bukan kekerasan yang menyakiti, dan tetap harus memperhatikan kondisi psikologis anak serta menghindari pukulan di bagian wajah atau yang membahayakan.

Boleh dan dianjurkan. Mengenalkan gerakan dan suasana sholat sejak usia lebih dini dapat membantu anak lebih terbiasa, meski kewajiban formal baru ditekankan mulai usia 7 tahun.

Orang tua perlu bersabar dan mencari tahu penyebabnya, kemudian menggunakan pendekatan personal dan komunikasi yang hangat, dibandingkan memaksa secara keras, agar anak tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang ibadah.

5 Makanan Legendaris di Surabaya yang Halal dan Wajib Dicoba

Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga menjadi salah satu destinasi kuliner yang menarik untuk dijelajahi. Berbagai makanan khas dengan cita rasa kuat dan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mudah ditemukan di berbagai sudut kota.

Menariknya, Sahabat Muslim juga tidak perlu khawatir karena banyak kuliner legendaris Surabaya yang dikenal halal atau halal-friendly. Lantas, apa saja makanan legendaris di Surabaya yang bisa masuk daftar wisata kuliner Sahabat Muslim? Simak rekomendasinya berikut ini.

Ringkasan

  • Surabaya memiliki banyak kuliner legendaris yang telah bertahan selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas kuliner Kota Pahlawan.
  • Beberapa kuliner yang dapat masuk daftar wisata kuliner halal antara lain Rawon Setan, Lontong Balap Pak Gendut, Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, Tahu Campur Kalasan, dan Rujak Cingur Genteng Durasim.
  • Sebelum berkunjung, Sahabat Muslim tetap disarankan memastikan informasi halal terbaru, terutama jika membutuhkan produk yang telah memiliki sertifikasi halal resmi.

Mengapa Surabaya Punya Banyak Kuliner Legendaris?

Surabaya memiliki kekayaan kuliner yang tidak terlepas dari sejarah panjang dan keberagaman masyarakatnya. Banyak makanan khas yang tetap bertahan karena resep dan cara pengolahannya diwariskan dari generasi ke generasi. Sejumlah tempat makan bahkan telah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan masih memiliki pelanggan setia hingga sekarang.

Selain itu, makanan khas Surabaya umumnya memiliki karakter rasa yang kuat. Penggunaan petis, rempah-rempah, kelapa, serta berbagai bahan lokal membuat kuliner Surabaya memiliki cita rasa yang berbeda dibandingkan daerah lainnya. Hal tersebut membuat wisata kuliner di Surabaya tidak hanya tentang mengisi perut, tetapi juga menjadi cara untuk mengenal budaya dan sejarah kota melalui makanan.

Apa Saja Makanan Legendaris di Surabaya yang Halal?

Berikut beberapa rekomendasi kuliner legendaris yang bisa menjadi pilihan Sahabat Muslim saat berkunjung ke Surabaya.

1. Rawon Setan

Rawon Setan berada di kawasan Embong Malang. Tempat makan ini telah dikenal sejak tahun 1950-an dan menjadi salah satu kuliner yang sering direkomendasikan kepada wisatawan yang berkunjung ke Surabaya. Dalam satu porsi, rawon disajikan bersama potongan daging sapi, tauge pendek, sambal, bawang goreng, telur asin, tempe goreng, dan kerupuk. 

2. Lontong Balap Pak Gendut

Kalau ingin mencicipi kuliner khas Surabaya yang lebih ringan, Lontong Balap Pak Gendut bisa menjadi pilihan. Lontong balap merupakan makanan yang terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, dan kuah dengan cita rasa khas petis. Lontong Balap Pak Gendut sendiri dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris Surabaya yang resepnya telah ada sejak 1958.

3. Sate Klopo Ondomohen Bu Asih

Sate Klopo Ondomohen Bu Asih merupakan salah satu kuliner legendaris yang sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, sejarahnya disebut telah dimulai sejak 1945 ketika ibu mertua Bu Asih berjualan sate klopo di Jalan Ondomohen, yang sekarang bernama Jalan Walikota Mustajab. Keunikan sate ini terletak pada penggunaan parutan kelapa yang dibalurkan pada daging sebelum dibakar.

4. Tahu Campur Kalasan

Salah satu tempat yang cukup dikenal adalah Tahu Campur H. Abd. Mahfud Asli Kalasan di Jalan Kalasan, Pacar Keling. Tempat makan ini disebut sebagai salah satu tahu campur legendaris di Surabaya. Satu porsinya terdiri dari tahu goreng, mie kuning, sayuran, perkedel singkong atau lentho, serta potongan kikil yang disiram kuah dengan bumbu petis.

5. Rujak Cingur Genteng Durasim

Rujak Cingur Genteng Durasim menggunakan cingur asli dan memiliki racikan petis yang menjadi salah satu karakter utama hidangannya. Dalam satu porsi, Sahabat Muslim dapat menemukan potongan cingur, timun, nanas, mangga, tahu, tempe, lontong, mie kuning, kangkung, dan kecambah. Semua bahan kemudian disiram dengan bumbu membuat perpaduan rasa gurih, manis, asam, dan aroma khas petis.

Apa Tips Berburu Kuliner Halal di Surabaya? 

Pertama, perhatikan informasi bahan yang digunakan. Beberapa makanan Surabaya menggunakan petis, kaldu, atau bahan olahan tertentu sehingga penting untuk mengetahui sumber bahan tersebut jika memiliki standar halal yang lebih ketat. Kemudian, cek informasi halal terbaru dari tempat makan atau melalui kanal resmi terkait. Status sertifikasi dapat berubah sehingga informasi dari sumber lama sebaiknya tidak langsung dijadikan patokan.

Lalu, datang pada waktu yang tepat. Tempat makan legendaris biasanya cukup ramai, terutama pada jam makan dan akhir pekan. Datang lebih awal dapat membuat pengalaman kuliner menjadi lebih nyaman. Terakhir, jangan hanya mengejar makanan yang sedang viral. Kuliner legendaris biasanya memiliki cerita panjang dan resep yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun. 

Kesimpulan

Surabaya memiliki banyak makanan legendaris yang menarik untuk dicoba oleh Sahabat Muslim. Mulai dari Rawon Setan dengan kuah hitam khas kluwek, Lontong Balap Pak Gendut yang telah dikenal sejak 1958, hingga Sate Klopo Ondomohen Bu Asih dengan balutan parutan kelapa yang unik. Tahu Campur Kalasan dan Rujak Cingur Genteng Durasim juga menjadi pilihan untuk mengenal lebih karakter kuliner khas Kota Pahlawan.

Dengan tetap memperhatikan informasi halal terbaru dan memilih tempat makan yang sesuai, berburu kuliner legendaris di Surabaya bisa menjadi pengalaman yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memperkaya wawasan tentang budaya kuliner Indonesia. Yuk, terus tambah wawasan dan temukan berbagai rekomendasi kuliner halal bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://www.detik.com/jatim/kuliner/d-8659659/10-kuliner-surabaya-yang-bikin-nagih-ada-yang-legendaris-sejak-1950-an

https://www.kompas.com/food/read/2021/09/04/131300375/7-tahu-campur-di-surabaya-yang-terkenal-enak-mulai-dari-rp-15.000?page=all

FAQ

Beberapa makanan legendaris yang dapat menjadi pilihan antara lain Rawon Setan, Lontong Balap Pak Gendut, Sate Klopo Ondomohen Bu Asih, Tahu Campur Kalasan, dan Rujak Cingur Genteng Durasim.

Beberapa makanan yang sangat identik dengan Surabaya antara lain rawon, rujak cingur, lontong balap, sate klopo, dan tahu campur.

Sebaiknya datang di luar jam makan utama atau lebih awal untuk menghindari antrian. Sahabat Muslim juga disarankan mengecek jam operasional terbaru sebelum berkunjung karena jam buka tempat makan dapat berubah.

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Hukum dan Hikmah Khitan dalam Islam

Khitan menjadi salah satu momen yang dinantikan dalam kehidupan seorang anak laki-laki Muslim, bahkan sering dirayakan dengan acara syukuran bersama keluarga besar. Namun, di balik tradisi yang sudah mengakar ini, khitan sebenarnya memiliki landasan syariat yang kuat, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun semata.

Khitan bahkan disebut sebagai bagian dari ajaran Nabi Ibrahim AS yang kemudian diteruskan hingga masa Rasulullah SAW. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum, waktu, dan hikmah di balik perintah khitan dalam Islam? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Khitan merupakan salah satu syariat yang telah diajarkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS, dan termasuk dalam lima perkara fitrah yang disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
  • Mayoritas ulama berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib bagi laki-laki, dengan waktu yang dianjurkan sebelum baligh dan waktu wajib paling akhir adalah saat baligh.
  • Hikmah khitan mencakup aspek kebersihan, kesehatan, serta kesempurnaan ibadah, karena khitan berkaitan dengan syarat sah shalat yaitu suci dari najis.

Apa Itu Khitan dan Bagaimana Hukumnya?

Khitan secara bahasa berarti memotong, yang dalam konteks syariat merujuk pada pemotongan kulup, yaitu kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki. Rasulullah SAW menyebutkan khitan sebagai salah satu dari lima perkara fitrah, bersama dengan mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.

Mengenai hukumnya, mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib bagi laki-laki, sementara mazhab Hanafi dan Maliki memandangnya sebagai sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Pendapat yang mewajibkan ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW kepada seseorang yang baru masuk Islam, “Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah,” sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Ahmad dan Al-Baihaqi.

Kapan Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Khitan?

Para ulama membagi waktu pelaksanaan khitan menjadi dua kategori, yaitu waktu yang dianjurkan dan waktu yang diwajibkan. Waktu yang dianjurkan adalah sebelum anak mencapai usia baligh, bahkan sebagian ulama menyebutkan keutamaan mengkhitan bayi sejak hari ketujuh setelah kelahiran, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW saat mengkhitan cucunya, Hasan dan Husain RA, pada usia tersebut.

Sementara itu, waktu yang diwajibkan adalah ketika seorang anak laki-laki telah mencapai usia baligh, karena pada masa inilah kewajiban shalat mulai berlaku, sementara kesucian dari najis menjadi salah satu syarat sahnya shalat. Melaksanakan khitan sejak usia dini umumnya lebih dianjurkan secara medis, karena proses penyembuhan luka cenderung lebih cepat dan anak belum terlalu merasakan sakit dibandingkan saat sudah besar.

Apa Saja Hikmah di Balik Perintah Khitan?

Hikmah khitan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi agama dan sisi kesehatan. Dari sisi agama, khitan menjadi penyempurna kesucian diri (thaharah) seorang Muslim, karena kulup yang tidak dipotong berpotensi menjadi tempat tersisanya najis dari air seni, sehingga dapat mempengaruhi keabsahan ibadah shalat yang dijalankan.

Dari sisi kesehatan, berbagai penelitian medis menunjukkan bahwa khitan dapat membantu menjaga kebersihan organ intim, mengurangi risiko infeksi saluran kemih, serta menurunkan risiko beberapa penyakit menular tertentu. Keselarasan antara anjuran agama dan manfaat kesehatan ini menjadi salah satu bukti bahwa syariat Islam senantiasa membawa kebaikan bagi umatnya, sejalan dengan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak menurut ajaran Islam sejak usia dini.

Kesimpulan

Khitan merupakan syariat yang telah diajarkan sejak masa Nabi Ibrahim AS, dengan hukum yang menurut mayoritas ulama adalah wajib bagi laki-laki. Waktu pelaksanaannya dianjurkan sejak sebelum baligh, idealnya sejak bayi, dengan batas wajib paling akhir adalah saat anak memasuki usia baligh.

Memahami hukum dan hikmah di balik perintah khitan diharapkan dapat membantu orang tua, khususnya peran ayah sebagai pendidik utama dalam Islam, mempersiapkan momen ini dengan lebih matang, baik dari sisi syariat maupun kesehatan anak. Yuk, terus tambah wawasan seputar fiqih dan pengasuhan anak Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://almanhaj.or.id/2735-hukum-khitan.html

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7395784/khitanan-pengertian-hukum-dalil-dan-tata-caranya

FAQ

Tidak wajib sejak bayi, namun sangat dianjurkan dilakukan sejak dini, idealnya sebelum baligh, karena waktu wajib menurut mayoritas ulama baru jatuh ketika anak mencapai usia baligh.

Dalil utamanya adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan khitan sebagai salah satu dari lima perkara fitrah, serta hadis riwayat Ahmad yang memerintahkan seorang mualaf untuk berkhitan.

Mengapa khitan berkaitan dengan keabsahan ibadah shalat?

Ini 5 Rekomendasi Tempat Untuk Beli Baju Lebaran di Jakarta

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, berburu baju baru menjadi tradisi yang sulit dilewatkan oleh banyak keluarga Muslim di Indonesia, termasuk di Jakarta. Selain untuk menyambut hari kemenangan dengan penampilan terbaik, momen ini juga menjadi ajang kebersamaan keluarga sebelum merayakan Lebaran bersama.

Beruntungnya, Jakarta memiliki banyak pilihan tempat belanja baju Lebaran, mulai dari pasar grosir legendaris hingga pusat perbelanjaan modern, dengan rentang harga yang bervariasi. Lalu, ke mana saja sebaiknya Sahabat Muslim berburu baju hari raya di Jakarta? Simak rekomendasinya berikut ini.

Ringkasan

  • Jakarta menawarkan berbagai pilihan tempat belanja baju Lebaran, mulai dari pasar grosir dengan harga terjangkau hingga pusat perbelanjaan dengan suasana lebih nyaman.
  • Beberapa rekomendasi tempat belanja baju Lebaran di Jakarta antara lain Pasar Tanah Abang, Thamrin City, ITC Mangga Dua, Pasar Mayestik, dan Pasar Baru.
  • Berbelanja lebih awal, sebelum harga naik menjelang Lebaran, menjadi salah satu tips penting agar belanja baju hari raya lebih hemat dan nyaman.

Mengapa Jakarta Menjadi Surga Belanja Baju Lebaran?

Sebagai ibu kota dengan populasi Muslim yang besar, Jakarta memiliki banyak pusat perbelanjaan yang secara khusus menyediakan busana Muslim, mulai dari gamis, baju koko, mukena, hingga hijab dengan berbagai model dan rentang harga. Keberagaman pilihan ini membuat Jakarta menjadi destinasi favorit, bahkan bagi warga dari luar kota yang sengaja datang untuk berburu baju Lebaran dan halalbihalal bersama keluarga.

Selain variasi produk yang luas, banyak di antara pusat perbelanjaan ini juga menawarkan opsi belanja grosir maupun eceran, sehingga cocok baik bagi yang ingin membeli untuk kebutuhan pribadi maupun berjualan kembali menjelang momen Lebaran.

Apa Saja Rekomendasi Tempat Beli Baju Hari Raya di Jakarta?

Berikut beberapa rekomendasi tempat belanja baju Lebaran yang bisa dikunjungi di Jakarta:

1. Pasar Tanah Abang

Sebagai pusat grosir tekstil dan pakaian terbesar di Asia Tenggara, Pasar Tanah Abang menjadi destinasi utama paling legendaris untuk berburu baju Lebaran. Berlokasi di Jakarta Pusat, pasar ini menawarkan ribuan pilihan gamis, baju koko, mukena, hijab, hingga sarung dengan harga yang sangat kompetitif, baik secara satuan maupun grosir.

2. Thamrin City

Berlokasi tidak jauh dari Tanah Abang, Thamrin City menjadi alternatif bagi yang menginginkan suasana belanja lebih tertata ala mal, namun dengan harga yang masih bersahabat. Pusat perbelanjaan ini dikenal sebagai surganya kain batik, sekaligus menawarkan beragam busana Muslim modern dan siap pakai untuk Lebaran.

3. ITC Mangga Dua

Terletak di Jakarta Utara, ITC Mangga Dua menjadi pilihan favorit bagi warga yang berdomisili di kawasan tersebut. Pusat grosir dan eceran ini menyediakan beragam busana Muslim dan aksesori Lebaran dengan harga yang ekonomis, menjadikannya salah satu destinasi yang selalu ramai menjelang hari raya.

4. Pasar Mayestik

Berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Pasar Mayestik menawarkan koleksi busana Muslim yang cukup fashionable. Keunikan pasar ini terletak pada ketersediaan kain dan jasa penjahit, sehingga cocok bagi Sahabat Muslim yang ingin membuat baju Lebaran sesuai keinginan sendiri, bukan sekadar membeli baju jadi.

5. Pasar Baru

Sebagai salah satu pusat perbelanjaan tertua dan bersejarah di Jakarta, Pasar Baru tetap menjadi favorit banyak orang hingga kini. Koleksi pakaiannya cukup lengkap dan selalu mengikuti tren terkini, menjadikannya pilihan menarik bagi yang ingin berburu baju Lebaran dengan sentuhan gaya yang lebih kekinian.

Apa Tips Belanja Baju Lebaran agar Lebih Hemat dan Nyaman?

Harga baju Lebaran umumnya mengalami kenaikan sekitar satu hingga dua minggu menjelang hari raya, terutama di pasar-pasar tradisional. Oleh karena itu, berbelanja lebih awal menjadi salah satu cara efektif untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau, sekaligus menghindari suasana yang terlalu padat dan ramai pengunjung.

Selain soal harga, penting juga untuk tetap memperhatikan tren fashion Muslim yang sesuai syariat saat memilih model baju Lebaran, seperti menutup aurat secara sempurna, tidak ketat, dan tidak transparan, agar penampilan tetap indah tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman yang dianut.

Kesimpulan

Jakarta menawarkan beragam pilihan tempat belanja baju Lebaran, mulai dari Pasar Tanah Abang yang legendaris, Thamrin City yang lebih tertata, ITC Mangga Dua yang ekonomis, Pasar Mayestik dengan jasa jahitnya, hingga Pasar Baru yang mengikuti tren kekinian. Masing-masing tempat memiliki keunggulan tersendiri sesuai kebutuhan dan anggaran belanja.

Dengan berbelanja lebih awal dan tetap memperhatikan adab berbusana yang sesuai syariat, momen berburu baju Lebaran diharapkan dapat berjalan lebih hemat, nyaman, dan tetap membawa keberkahan menyambut hari kemenangan. Yuk, terus tambah wawasan seputar persiapan Lebaran bersama ArahMuslim.

Referensi:

https://www.popbela.com/fashion/style-trends/tempat-beli-baju-lebaran-di-jakarta-00-m9g5t-wkwdx8

https://wolipop.detik.com/hijab-update/d-7838307/5-tempat-beli-baju-lebaran-di-jakarta-2025-banyak-model-dan-harganya-murah

FAQ

Sebaiknya belanja dilakukan jauh sebelum mendekati hari raya, karena harga baju Lebaran umumnya naik sekitar satu hingga dua minggu menjelang Lebaran, terutama di pasar-pasar tradisional seperti Tanah Abang.

Bisa. Pasar tradisional seperti Tanah Abang dan Jatinegara umumnya masih membuka ruang tawar-menawar harga, berbeda dengan mal atau butik yang biasanya menetapkan harga tetap.

Pasar Mayestik di Kebayoran Baru menjadi pilihan tepat, karena selain menjual baju jadi, pasar ini juga menyediakan beragam pilihan kain serta jasa penjahit untuk membuat baju Lebaran sesuai keinginan.

5 Cara Membiasakan Anak Selalu Berdoa

Mengajarkan anak untuk berdoa bukan sekadar menghafalkan rangkaian kata dalam bahasa Arab, melainkan menanamkan kesadaran bahwa ada Allah SWT yang selalu dekat dan mendengar setiap harapan mereka. Kebiasaan ini, jika ditanamkan sejak dini, akan tumbuh menjadi fondasi spiritual yang kuat hingga anak dewasa kelak.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang kesulitan membuat anak terbiasa berdoa, baik karena anak menganggapnya membosankan maupun karena orang tua sendiri belum konsisten mencontohkannya. Lalu, bagaimana cara membiasakan anak agar selalu berdoa dalam setiap aktivitasnya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Kebiasaan berdoa penting ditanamkan sejak dini agar anak tumbuh dengan kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa dekat dan mendengar setiap doanya.
  • Beberapa cara membiasakan anak berdoa antara lain memberi teladan, mengaitkan doa dengan aktivitas sehari-hari, mengajarkan secara bertahap, serta menjelaskan makna di balik setiap doa.
  • Agar tidak sekadar menjadi hafalan, penting untuk mengajak anak memahami arti doa dan melibatkannya dalam momen nyata, seperti saat menghadapi ujian atau kesulitan.

Mengapa Kebiasaan Berdoa Penting Ditanamkan Sejak Dini?

Rasulullah SAW sendiri mencontohkan kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah melakukan hampir setiap aktivitas, mulai dari bangun tidur, makan, hingga keluar rumah, sebagai bentuk ketaatan dan kesadaran seorang hamba kepada Allah SWT. Keteladanan ini menjadi salah satu sifat Rasulullah SAW yang penting diajarkan kepada anak sejak dini, agar mereka tumbuh dengan kebiasaan yang sama.

Menanamkan kebiasaan berdoa sejak kecil juga membantu anak memiliki sandaran emosional yang sehat. Ketika menghadapi kesulitan atau ketakutan, anak yang terbiasa berdoa akan lebih mudah menemukan ketenangan, karena mereka telah memiliki kebiasaan menyerahkan kekhawatirannya kepada Allah SWT sejak usia dini.

Apa Saja Cara Membiasakan Anak Selalu Berdoa?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untuk membiasakan anak selalu berdoa:

1. Memberikan Teladan secara Konsisten

Anak belajar paling efektif melalui apa yang mereka lihat, bukan hanya yang mereka dengar. Orang tua yang terbiasa membaca doa dengan suara terdengar saat makan, sebelum tidur, atau ketika hendak bepergian, akan membuat anak secara alami ikut menirukan kebiasaan tersebut tanpa perlu dipaksa.

2. Mengaitkan Doa dengan Aktivitas Sehari-hari

Mengenalkan doa-doa pendek yang berkaitan langsung dengan aktivitas anak, seperti doa sebelum makan, doa bangun tidur, atau doa masuk kamar mandi, akan membuat anak lebih mudah memahami dan mengingatnya, karena doa tersebut terasa relevan dengan apa yang sedang mereka lakukan.

3. Mengajarkan Doa secara Bertahap dan Menyenangkan

Mengenalkan doa sebaiknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari doa-doa pendek dan sederhana, sejalan dengan cara mengenalkan surat pendek Al-Qur’an untuk anak sejak dini. Menggunakan nada atau lagu saat mengajarkan doa juga dapat membantu anak lebih cepat menghafal sekaligus menikmati prosesnya.

4. Menjelaskan Makna di Balik Setiap Doa

Selain menghafalkan lafaznya, penting bagi orang tua untuk menjelaskan arti dari doa yang diajarkan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Dengan memahami makna doa, anak akan lebih menghayati setiap kalimat yang diucapkan, bukan sekadar mengucapkan rangkaian kata tanpa makna.

5. Melibatkan Anak Berdoa dalam Momen Nyata

Mengajak anak berdoa secara khusus dalam momen-momen penting, seperti menjelang ujian sekolah atau saat menghadapi kesulitan, dapat membantu anak merasakan langsung manfaat dari kebiasaan berdoa. Orang tua juga dapat turut memanjatkan doa untuk anak yang sedang menghadapi ujian, sekaligus mengajarkan anak untuk melakukan hal yang sama bagi dirinya sendiri.

Bagaimana Menjaga agar Kebiasaan Ini Tidak Sekadar Hafalan?

Salah satu tantangan terbesar dalam mengajarkan doa kepada anak adalah menghindari agar kebiasaan ini tidak berhenti sebatas hafalan tanpa penghayatan. Orang tua perlu secara rutin mengajak anak berbincang tentang pengalaman mereka setelah berdoa, misalnya menanyakan apa yang mereka rasakan atau harapkan, sehingga doa menjadi aktivitas yang personal dan bermakna, bukan sekadar rutinitas mekanis.

Memberikan ruang bagi anak untuk berdoa dengan kata-katanya sendiri, selain doa-doa yang telah dihafalkan, juga dapat membantu mereka membangun hubungan yang lebih tulus dengan Allah SWT. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa berdoa bukan hanya tentang mengucapkan kalimat yang benar, melainkan tentang menyampaikan isi hati kepada Sang Pencipta.

Kesimpulan

Membiasakan anak untuk selalu berdoa dapat dilakukan melalui keteladanan yang konsisten, mengaitkan doa dengan aktivitas sehari-hari, mengajarkannya secara bertahap dan menyenangkan, menjelaskan maknanya, serta melibatkan anak dalam momen-momen nyata. Dengan pendekatan ini, kebiasaan berdoa diharapkan tumbuh sebagai kebutuhan spiritual yang tulus, bukan sekadar hafalan yang dijalankan tanpa penghayatan.

Semoga dengan menanamkan kebiasaan ini sejak dini, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa dekat dan bergantung kepada Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya. Yuk, terus tambah wawasan seputar pendidikan Islami untuk anak bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://bebeclub.co.id/artikel/tumbuh-kembang/3-tahun-atas/mengajarkan-anak-berdoa

https://masoemuniversity.ac.id/artikel/cara-mengajarkan-anak-berdoa-tanpa-membuatnya-merasa-terpaksa/

FAQ

Mengenalkan doa dapat dimulai sejak usia dini, bahkan sebelum anak mampu berbicara lancar, karena anak dapat mulai terbiasa mendengar dan meniru doa-doa sederhana yang dicontohkan orang tuanya.

Sangat dianjurkan. Memahami makna doa membantu anak lebih menghayati setiap kalimat yang diucapkan, sehingga doa tidak sekadar menjadi hafalan tanpa penghayatan.

Orang tua dapat membuat proses belajar doa lebih menyenangkan, misalnya dengan menggunakan nada atau lagu, serta mengaitkan doa dengan aktivitas yang disukai anak, agar anak tidak merasa terbebani.

Ayat Terpanjang Al-Qur’an Ternyata Bicara Soal Ini, Adab Berhutang dalam Islam

Tahukah Sahabat Muslim bahwa ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 282, justru berbicara tentang urusan yang sangat duniawi: utang piutang? Fakta ini menunjukkan betapa seriusnya Islam mengatur persoalan utang, bukan sekadar transaksi biasa, melainkan urusan yang menyangkut amanah dan hak sesama manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, berhutang memang menjadi hal yang wajar dilakukan, baik untuk kebutuhan mendesak maupun keperluan usaha. Namun, Islam memberikan panduan yang jelas agar aktivitas ini tidak menimbulkan kezaliman bagi salah satu pihak. Lalu, apa saja adab berhutang yang diajarkan dalam Islam? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Surah Al-Baqarah ayat 282, ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, secara khusus membahas tuntunan bermuamalah dalam urusan utang piutang.
  • Beberapa adab berhutang yang diajarkan antara lain hanya berhutang dalam kondisi mendesak, mencatat transaksi, menghadirkan saksi, serta memiliki niat kuat untuk melunasi.
  • Bagi pemberi hutang, Islam juga menganjurkan untuk memberi kelonggaran waktu kepada orang yang sedang kesulitan melunasi.

Mengapa Al-Qur’an Mengatur Urusan Berhutang Secara Detail?

Surah Al-Baqarah ayat 282 memerintahkan agar setiap transaksi utang piutang yang tidak dilakukan secara tunai untuk dicatat secara tertulis. Allah SWT bahkan menjelaskan secara rinci bagaimana pencatatan tersebut dilakukan, siapa yang berhak menjadi saksi, hingga pentingnya kejujuran dalam proses pencatatannya. Detail yang begitu panjang ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap urusan utang piutang, agar tidak menimbulkan perselisihan maupun kezaliman di kemudian hari.

Rasulullah SAW sendiri menyebutkan bahwa utang termasuk beban yang dapat menekan kehidupan seseorang, bahkan jiwa seorang mukmin akan tertahan hingga utangnya dilunasi, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih. Peringatan ini menunjukkan bahwa persoalan utang bukanlah perkara yang bisa dianggap sepele, baik oleh yang berhutang maupun yang memberi hutang.

Apa Saja Adab Berhutang yang Diajarkan Islam?

Berikut beberapa adab berhutang yang dianjurkan dalam Islam:

1. Berhutang Hanya dalam Kondisi yang Mendesak

Islam mengajarkan agar seseorang tidak menjadikan hutang sebagai kebiasaan, melainkan hanya digunakan dalam kondisi yang benar-benar mendesak atau terpaksa. Sikap berhati-hati ini penting agar seseorang tidak terjebak dalam lilitan hutang yang justru membebani kehidupannya sendiri maupun keluarganya.

2. Memiliki Niat yang Kuat untuk Melunasi

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berhutang dengan niat untuk melunasinya, maka Allah SWT akan membantunya dalam melunasi hutang tersebut, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Bukhari. Sebaliknya, siapa yang berhutang dengan niat untuk tidak mengembalikannya, Allah SWT akan membinasakannya.

3. Mencatat Transaksi secara Tertulis

Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 282, setiap transaksi utang piutang yang tidak tunai hendaknya dicatat secara jelas, mencakup nama pihak yang berhutang dan memberi hutang, jumlah nominal, tanggal transaksi, hingga kesepakatan waktu pelunasan. Pencatatan ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman, lupa, maupun perselisihan di kemudian hari.

4. Menghadirkan Saksi dalam Transaksi

Selain pencatatan, Al-Qur’an juga menganjurkan untuk menghadirkan saksi dalam transaksi utang piutang, yaitu dua orang saksi laki-laki, atau satu laki-laki dan dua perempuan apabila saksi laki-laki tidak tersedia. Kehadiran saksi berfungsi untuk menguatkan bukti transaksi, sehingga dapat menjadi rujukan apabila terjadi perselisihan di kemudian hari.

5. Segera Melunasi Ketika Telah Mampu

Islam menganjurkan agar seseorang segera melunasi hutangnya begitu memiliki kemampuan, tanpa menunda-nunda tanpa alasan yang jelas. Bahkan, dianjurkan pula untuk memberikan sesuatu yang lebih baik dari jumlah yang dipinjam, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada pihak yang telah memberi hutang, selama hal ini tidak disyaratkan di awal akad agar tidak tergolong riba.

Bagaimana Jika Belum Mampu Melunasi Tepat Waktu?

Bagi pihak yang berhutang namun belum mampu melunasi sesuai waktu yang disepakati, dianjurkan untuk segera memberi kabar dan menjelaskan kondisinya kepada pihak yang memberi hutang, bukan menghindar atau bersikap tidak jujur. Sikap terbuka ini mencerminkan kejujuran yang sangat dijunjung tinggi dalam setiap urusan muamalah, termasuk dalam persoalan utang piutang.

Di sisi lain, Allah SWT juga menganjurkan pihak pemberi hutang untuk memberi kelonggaran waktu kepada orang yang benar-benar kesulitan melunasi, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 280. Prinsip ini sejalan dengan semangat tolong-menolong yang menjadi dasar dari akad utang piutang, dan menjadi pengingat penting agar transaksi ini tidak dipenuhi unsur riba maupun tambahan yang memberatkan pihak yang berhutang.

Kesimpulan

Adab berhutang dalam Islam meliputi hanya berhutang dalam kondisi mendesak, memiliki niat kuat untuk melunasi, mencatat transaksi secara tertulis, menghadirkan saksi, serta segera melunasi begitu memiliki kemampuan. Ketelitian Al-Qur’an dalam mengatur hal ini, bahkan melalui ayat terpanjangnya, menunjukkan betapa pentingnya menjaga amanah dalam urusan utang piutang.

Dengan menerapkan adab-adab ini, diharapkan transaksi utang piutang dapat berjalan dengan baik, tanpa menimbulkan kezaliman bagi salah satu pihak, serta tetap membawa keberkahan bagi kedua belah pihak yang terlibat. Yuk, terus tambah wawasan seputar muamalah dan keuangan syariah bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://quran.nu.or.id/al-baqarah/282

https://debt.co.id/adab-dalam-berhutang-jangan-sampai-memberatkan-diri-sendiri/

FAQ

Tujuan utamanya adalah untuk menghindari kesalahpahaman, lupa, maupun perselisihan antara pihak yang berhutang dan memberi hutang di kemudian hari, sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 282.

Menurut sebagian besar ulama, menghadirkan saksi sifatnya dianjurkan (sunnah), bukan wajib mutlak, namun sangat disarankan terutama untuk transaksi dengan nominal yang cukup besar guna menguatkan bukti.

Pihak yang berhutang sebaiknya segera memberi kabar dan menjelaskan kondisinya secara jujur kepada pemberi hutang, bukan menghindar, sementara pemberi hutang dianjurkan untuk memberi kelonggaran waktu sesuai Surah Al-Baqarah ayat 280.

Ujian Bertubi Bukan Berarti Dibenci, Ini Tanda Seseorang Dicintai Allah SWT

Banyak orang mengira bahwa tanda dicintai Allah SWT adalah hidup yang serba lancar, rezeki yang melimpah, dan jauh dari kesulitan. Padahal, dalam Islam, cinta Allah SWT kepada hamba-Nya tidak selalu tercermin dari kemudahan hidup semata, bahkan terkadang justru ditunjukkan melalui ujian yang diberikan.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa besarnya pahala sejalan dengan besarnya ujian, dan apabila Allah SWT mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Lalu, apa saja tanda-tanda bahwa seseorang dicintai Allah SWT, dan bagaimana cara meraih cinta-Nya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Cinta Allah SWT kepada hamba-Nya tidak selalu berupa kemudahan hidup, bahkan terkadang ditunjukkan melalui ujian sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Tirmidzi.
  • Beberapa tanda seseorang dicintai Allah SWT antara lain dimudahkan dalam ketaatan, hatinya condong kepada kebaikan, serta diberikan husnul khatimah di akhir hayatnya.
  • Cara meraih cinta Allah SWT dapat dilakukan dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, memperbanyak amal saleh, serta senantiasa ridha atas setiap ketetapan-Nya.

Mengapa Cinta Allah SWT Tidak Selalu Berarti Kemudahan?

Rasulullah SAW bersabda bahwa besarnya pahala sejalan dengan besarnya ujian. Apabila Allah SWT mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya, dan siapa yang ridha dengan ujian tersebut, maka Allah SWT pun akan ridha kepadanya, sebagaimana dalam HR Tirmidzi. Hadis ini menunjukkan bahwa ujian dan kesulitan yang dihadapi seseorang bukanlah tanda kebencian Allah SWT, justru menjadi bukti kasih sayang-Nya.

Pemahaman ini penting agar seorang Muslim tidak mudah berburuk sangka kepada Allah SWT saat menghadapi kesulitan hidup, melainkan menyikapinya dengan kesabaran dan keyakinan bahwa di balik setiap ujian, tersimpan hikmah dan kasih sayang yang besar dari-Nya.

Apa Saja Tanda Seseorang Dicintai Allah SWT?

Berikut beberapa tanda yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis tentang seseorang yang dicintai Allah SWT:

1. Dimudahkan dalam Ketaatan

Salah satu tanda cinta Allah SWT kepada hamba-Nya adalah dimudahkannya ia dalam menjalankan ketaatan dan amal saleh. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, apabila Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan menjadikannya mudah untuk beramal saleh.

2. Diberikan Ujian sebagai Bentuk Kasih Sayang

Sebagaimana telah dijelaskan, ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya dapat menjadi tanda cinta-Nya, selama hamba tersebut bersabar dan ridha dalam menghadapinya. Ujian ini juga berfungsi untuk mengangkat derajat seorang hamba dan menghapuskan dosa-dosanya.

3. Hatinya Senantiasa Condong kepada Kebaikan

Seseorang yang dicintai Allah SWT umumnya memiliki hati yang cenderung kepada kebaikan, seperti gemar bersedekah, menjaga silaturahmi, dan menjauhi perbuatan dosa. Kecenderungan hati ini menjadi anugerah yang menunjukkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.

4. Dikaruniai Husnul Khatimah

Salah satu tanda cinta Allah SWT yang paling dinantikan setiap Muslim adalah dikaruniainya akhir hayat yang baik, atau husnul khatimah. Tanda ini sering kali terlihat dari kemampuan seseorang mengucapkan kalimat tauhid atau kalimat baik lainnya menjelang ajal, sebagai bukti bahwa Allah SWT memudahkan hamba tersebut menghadapi salah satu tanda-tanda menjelang kematian dengan hati yang tenang.

5. Dicintai pula oleh Makhluk di Langit dan Bumi

Dalam sebuah hadis qudsi, disebutkan bahwa apabila Allah SWT mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Malaikat Jibril dan memberitahukan kecintaan-Nya tersebut, hingga akhirnya penduduk langit pun turut mencintainya, dan kecintaan itu kemudian diterima pula di bumi. Tanda ini menunjukkan bahwa cinta Allah SWT kepada seorang hamba dapat tercermin dari diterimanya ia di hati banyak orang.

Bagaimana Cara Meraih Cinta Allah SWT?

Salah satu cara utama untuk meraih cinta Allah SWT adalah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 31, bahwa siapa yang mencintai Allah SWT, hendaklah mengikuti Rasulullah SAW, maka Allah SWT akan mencintainya dan mengampuni dosa-dosanya. 

Memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum menuju kehidupan akhirat yang abadi juga dapat membantu seorang Muslim lebih fokus mengejar keridhaan Allah SWT, dibandingkan sekadar mengejar kenikmatan duniawi yang bersifat sementara.

Kesimpulan

Tanda seseorang dicintai Allah SWT tidak selalu berupa kemudahan hidup, melainkan dapat tercermin dari dimudahkannya dalam ketaatan, ujian yang disikapi dengan sabar, hati yang condong kepada kebaikan, dikaruniai husnul khatimah, hingga diterima dengan baik di hati banyak orang. Memahami tanda-tanda ini penting agar seorang Muslim tidak keliru memaknai ujian hidup sebagai bentuk kebencian Allah SWT.

Dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan memperbanyak amal saleh, diharapkan setiap Muslim dapat meraih kecintaan Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Yuk, terus tambah wawasan seputar kedekatan dengan Allah SWT bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://baznasjabar.org/news/tanda-tanda_allah_sayang_kepada_hambanya

https://web.suaramuhammadiyah.id/2021/11/04/lima-ciri-manusia-dicintai-allah/

FAQ

Ujian dapat menjadi tanda cinta Allah SWT apabila disikapi dengan kesabaran dan keridhaan, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Tirmidzi, karena besarnya pahala sejalan dengan besarnya ujian yang dihadapi.

Hal ini dapat tercermin dari kebiasaan sehari-hari, seperti gemar bersedekah, menjaga silaturahmi, mudah melakukan amal saleh, serta menjauhi perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Amalan utama yang dianjurkan adalah mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 31, disertai dengan memperbanyak amal saleh dan senantiasa bertaubat kepada-Nya.

Capek Selalu Bilang Iya? Ini Pandangan Islam soal People Pleaser

Pernahkah Sahabat Muslim merasa sulit menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya keberatan? Atau terus-menerus mengiyakan sesuatu hanya karena takut mengecewakan, dijauhi, atau dinilai buruk oleh orang sekitar? Kecenderungan ini dikenal dengan istilah people pleaser, yaitu sikap seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan hingga mengorbankan kebutuhan dan perasaannya sendiri.

Istilah ini memang populer dalam kajian psikologi modern, namun persoalan di baliknya, yaitu mencari validasi dan pengakuan dari manusia, sebenarnya telah lama dibahas dalam ajaran Islam. Lalu, bagaimana Islam memandang kebiasaan people pleaser ini dan bagaimana cara menyikapinya dengan bijak? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • People pleaser adalah kecenderungan seseorang untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain, sulit menolak permintaan, dan mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri karena takut mengecewakan.
  • Islam mengajarkan bahwa berbuat baik kepada sesama memang dianjurkan, namun niatnya harus karena Allah SWT, bukan semata-mata demi mencari pengakuan atau rasa diterima dari manusia.
  • Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa yang mencari ridha manusia dengan membuat Allah SWT murka, maka Allah SWT justru akan murka kepadanya.

Apa Itu People Pleaser dan Mengapa Banyak Dialami?

People pleaser merujuk pada kondisi seseorang yang kesulitan mengatakan “tidak” kepada orang lain, cenderung mengutamakan keinginan orang lain di atas kebutuhannya sendiri, serta merasa bersalah ketika menolak suatu permintaan. Kebiasaan ini sering dipicu oleh rasa takut akan penolakan, konflik, atau kehilangan penerimaan dari lingkungan sekitar.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak negatif, baik secara mental maupun fisik, seperti kesulitan mengenali keinginan diri sendiri, mudah merasa tertekan, hingga kelelahan emosional akibat terus-menerus menekan kebutuhan pribadi demi menyenangkan orang lain. Fenomena ini semakin banyak dialami, terutama oleh generasi muda yang tumbuh dalam budaya yang sangat memperhatikan penilaian sosial.

Bagaimana Islam Memandang Kebiasaan People Pleaser?

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbuat baik dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara berbuat baik yang dilandasi keikhlasan karena Allah SWT, dengan kebiasaan menyenangkan orang lain semata-mata karena rasa takut dan kebutuhan akan pengakuan, sebagaimana tercermin dalam sikap people pleaser.

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara yang membuat Allah SWT murka, maka Allah SWT akan murka kepadanya, bahkan manusia yang tadinya ingin disenangkan pun akhirnya tetap tidak ridha kepadanya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Tirmidzi. Hadis ini menegaskan bahwa mengejar validasi manusia secara berlebihan, hingga mengabaikan prinsip dan kebutuhan diri sendiri, bukanlah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam.

Bagaimana Cara Menyikapi Kebiasaan Ini Menurut Islam?

Berikut beberapa cara menyikapi kecenderungan people pleaser sesuai perspektif Islam:

1. Meluruskan Niat dalam Berbuat Baik

Langkah pertama adalah memastikan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan benar-benar diniatkan karena Allah SWT, bukan demi mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia. Dengan niat yang lurus, seseorang akan lebih mudah menerima ketika kebaikannya tidak selalu dihargai, karena yang dicari adalah ridha Allah SWT, bukan validasi sesama manusia.

2. Belajar Menolak dengan Cara yang Baik

Islam tidak mengajarkan untuk selalu mengiyakan segala permintaan tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan diri sendiri. Belajar mengatakan “tidak” dengan cara yang sopan dan penuh pertimbangan menjadi keterampilan penting agar seseorang tidak terus-menerus membebani dirinya demi menyenangkan orang lain.

3. Tetap Teguh dalam Kebenaran Meski Tidak Disukai

Salah satu bahaya dari kebiasaan people pleaser adalah kesulitan menyampaikan kebenaran karena takut tidak disukai. Islam mengajarkan pentingnya kejujuran dan keberanian menyampaikan sesuatu yang benar, meski hal tersebut berisiko membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

4. Menjaga Keseimbangan antara Membantu dan Menjaga Diri

Berbuat baik dan menolong sesama tetap dianjurkan dalam Islam, namun bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri hingga melampaui batas kemampuan. Menjaga keseimbangan ini penting agar seseorang tetap bisa berkontribusi kepada orang lain tanpa mengabaikan haknya sendiri untuk beristirahat dan menjaga ketenangan hati.

5. Menyandarkan Harga Diri kepada Allah SWT, Bukan Penilaian Manusia

Menyadari bahwa penilaian manusia bersifat terbatas dan tidak selalu konsisten dapat membantu seseorang lebih tenang dalam menjalani hidup. Dengan menyandarkan harga diri dan ketenangan kepada Allah SWT, seseorang tidak akan terus bergantung pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga.

Kesimpulan

Kebiasaan people pleaser, yaitu selalu berusaha menyenangkan orang lain hingga mengorbankan kebutuhan diri sendiri, perlu disikapi dengan bijak dalam perspektif Islam. Berbuat baik tetap dianjurkan, namun niatnya harus karena Allah SWT, bukan semata-mata demi mencari validasi dan pengakuan dari manusia yang sifatnya terbatas.

Dengan meluruskan niat, belajar menolak dengan baik, tetap teguh pada kebenaran, serta menjaga keseimbangan antara membantu dan menjaga diri, diharapkan Sahabat Muslim dapat terbebas dari kelelahan akibat terus-menerus menyenangkan orang lain. Yuk, terus tambah wawasan seputar ketenangan hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://islami.co/fenomena-people-pleaser-bagaimana-pandangan-islam

https://alazharpeduli.or.id/publikasi/artikel-berita/p/capek-selalu-bilang-iya-people-pleaser-dan-batas-diri-dalam-islam

FAQ

Tidak sama. Suka menolong yang dianjurkan Islam dilandasi keikhlasan karena Allah SWT, sementara people pleaser didorong oleh rasa takut akan penolakan dan kebutuhan mendapatkan pengakuan dari manusia.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan kelelahan emosional, kesulitan mengenali kebutuhan diri sendiri, serta ketergantungan berlebihan pada penilaian orang lain, yang pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan mental seseorang.

Sahabat Muslim dapat memulainya dengan meluruskan niat dalam berbuat baik, belajar menolak permintaan yang di luar kemampuan dengan cara yang sopan, serta menyandarkan harga diri kepada Allah SWT, bukan pada penilaian manusia.

Kenapa Selalu Merasa Ketinggalan? Begini Islam Memandang FOMO

Pernahkah Sahabat Muslim merasa cemas saat melihat teman-teman di media sosial sedang liburan, membeli barang baru, atau menghadiri acara seru, sementara diri sendiri tidak ikut serta? Perasaan ini dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal atau merasa cemas karena tidak terlibat dalam suatu momen yang dianggap penting oleh orang lain.

Fenomena ini semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial, di mana unggahan orang lain sering kali memicu perbandingan sosial yang tidak disadari. Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena FOMO ini dan apa saja cara mengatasinya agar hati lebih tenang? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas orang lain, terutama di media sosial.
  • Islam mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat iri dan selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, karena setiap rezeki dan ketetapan hidup telah diatur oleh Allah SWT.
  • Beberapa cara mengatasi FOMO menurut Islam antara lain memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Banyak Dialami Saat Ini?

FOMO merupakan istilah psikologi yang menggambarkan kecemasan seseorang karena merasa tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan kebiasaan scrolling media sosial, di mana seseorang terus-menerus memantau unggahan orang lain demi merasa tetap terhubung, meski hal tersebut justru dapat menimbulkan kelelahan secara emosional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin intens seseorang menggunakan media sosial, semakin besar pula kecenderungannya mengalami FOMO, terutama akibat perbandingan sosial yang muncul saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna. Kondisi ini banyak dialami generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital.

Bagaimana Islam Memandang Fenomena FOMO?

Meski istilah FOMO tergolong modern, akar permasalahannya sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam, yaitu sifat iri hati dan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak iri hati terhadap karunia yang diberikan kepada orang lain, karena setiap orang telah mendapatkan bagiannya masing-masing sesuai usaha dan ketetapan Allah SWT.

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat hasad, karena perasaan iri dan selalu merasa kurang dapat menggerogoti ketenangan jiwa seseorang. Dengan memahami bahwa rezeki, kebahagiaan, dan ketetapan hidup setiap orang berbeda-beda dan telah diatur oleh Allah SWT, seorang Muslim dapat lebih mudah menerima keadaan dirinya tanpa harus terus-menerus membandingkan dengan pencapaian orang lain.

Apa Saja Cara Mengatasi FOMO Menurut Islam?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi FOMO sesuai perspektif Islam:

1. Memperbanyak Rasa Syukur

Rasa syukur menjadi kunci utama untuk meredam kecemasan akibat FOMO. Dengan terus mengingat dan mensyukuri nikmat yang telah dimiliki, seseorang akan lebih mudah merasa cukup, alih-alih terus membandingkan diri dengan apa yang dimiliki atau dialami orang lain.

2. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Membatasi waktu penggunaan media sosial, terutama kebiasaan scrolling tanpa tujuan, dapat membantu mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan sosial. Menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial, lalu menjauh dari gawai di waktu lainnya, menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga ketenangan pikiran.

3. Menyadari bahwa Media Sosial Tidak Mencerminkan Kenyataan Sepenuhnya

Penting untuk disadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh dari realitas yang mereka jalani. Dengan memahami hal ini, Sahabat Muslim dapat lebih bijak dalam menyikapi unggahan orang lain tanpa harus merasa minder atau tertinggal.

4. Mengisi Waktu dengan Amalan yang Lebih Bermanfaat

Mengalihkan waktu yang biasa dihabiskan untuk memantau media sosial menjadi amalan yang lebih bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengembangkan keterampilan baru, dapat membantu mengurangi kecenderungan FOMO sekaligus mendatangkan manfaat jangka panjang. Kebiasaan ini juga sejalan dengan upaya menjaga ketenangan hati di tengah derasnya arus informasi digital.

5. Fokus pada Tujuan dan Prioritas Hidup Sendiri

Menetapkan tujuan dan prioritas hidup yang jelas dapat membantu seseorang lebih fokus pada perjalanannya sendiri, alih-alih terus mengikuti standar atau tren yang ditetapkan orang lain. Prinsip ini juga sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan ala Islam, yang menekankan pentingnya menata prioritas sesuai nilai-nilai yang dipegang, bukan sekadar mengikuti arus media sosial.

Kesimpulan

FOMO atau rasa takut tertinggal merupakan fenomena yang semakin umum dialami di era digital, namun akar permasalahannya, yaitu sifat iri dan kebiasaan membanding-bandingkan diri, sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam. Dengan memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat, kecemasan akibat FOMO dapat berangsur-angsur diatasi.

Semoga dengan menerapkan cara-cara ini, Sahabat Muslim dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bersyukur, dan tidak mudah terombang-ambing oleh standar yang ditetapkan media sosial. Yuk, terus tambah wawasan seputar ketenangan hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/download/59985/30974

https://doaj.org/article/5bf43facabcb4a25bc05e043665c423d

FAQ

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain, terutama di media sosial.

Media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, sehingga dapat memicu perbandingan sosial dan membuat seseorang merasa hidupnya kurang menarik atau tertinggal dibandingkan orang lain.

Islam mengajarkan untuk menjauhi sifat iri dan hasad, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 32, karena setiap orang telah mendapatkan bagian rezeki dan ketetapan hidupnya masing-masing dari Allah SWT.