Bagi umat Muslim, wudhu adalah ritual bersuci yang dilakukan sebelum shalat. Setiap gerakan dan bacaan dalam wudhu bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga memiliki makna spiritual yang dalam.
Setelah menyelesaikan wudhu, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa yang mengandung permohonan ampun dan keteguhan iman. Mari, lihat lebih dalam tentang makna dari doa ini dan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari di artikel ini.
Apa Makna Doa Setelah Wudhu?
Doa yang dibaca setelah wudhu mengandung pujian dan permohonan kepada Allah. Salah satu bentuknya adalah:
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Melalui bacaan ini, kita mengukuhkan kembali keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad. Doa ini membantu menjaga konsistensi iman, terutama dalam konteks kesucian dan persiapan untuk menghadap Allah dalam shalat.
Apa Makna Spiritualitas di Balik Doa Setelah Wudhu?
Doa setelah wudhu adalah bentuk komitmen diri kepada Allah, dengan keyakinan dan kesadaran akan keesaan-Nya. Doa ini mengajarkan tentang pengakuan akan kebesaran Allah dan ketergantungan kita pada-Nya.
Makna ini penting karena membantu menjaga kemurnian hati dan niat dalam beribadah, memperkuat hubungan batin dengan Allah.
Apa Manfaat Membaca Doa Setelah Wudhu?
Menurut banyak ulama, membaca doa ini bukan hanya mendapatkan pahala tambahan, tetapi juga membuka pintu keberkahan. Doa setelah wudhu bisa menjadi pengingat untuk menjaga niat bersih dalam menjalani kehidupan sehari-hari, memberikan ketenangan dan keyakinan dalam menjalankan tugas dan ibadah.
Selain itu, doa ini juga memperkuat kesadaran bahwa setiap ibadah, baik besar maupun kecil, adalah bentuk pendekatan diri kepada Sang Pencipta.
Beberapa ulama menyarankan untuk menggabungkan doa setelah wudhu dengan shalat sunnah dua rakaat, dikenal sebagai shalat sunnah wudhu. Amalan ini dianjurkan karena dipercaya menambah kesempurnaan ibadah dan ketenangan hati, seperti yang disampaikan oleh beberapa hadits shahih.
Sejarah Indonesia dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perjuangan bangsa. Di balik nama-nama besar yang sering kita dengar, ada banyak pemuda Islam yang berpengaruh namun kurang diketahui. Dalam artikel ini, kita akan mengungkap tujuh tokoh pemuda Islam yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia, meskipun namanya mungkin tidak sepopuler yang lain. Mari kita simak!
1. Sultan Syarif Kasim II
Sultan Syarif Kasim II adalah Sultan Siak yang berperan aktif dalam melawan penjajahan Belanda. Ia memimpin perlawanan yang dikenal dengan nama Perang Siak (1946-1949) dan mengorganisir angkatan bersenjata untuk melawan kekuatan kolonial. Selain itu, ia juga berusaha memperkuat pendidikan dan kebudayaan Islam di wilayahnya, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang berpengetahuan dan berani.
2. Raden Ahmad Soerjopranoto
Raden Ahmad Soerjopranoto adalah seorang pendidik dan aktivis yang terlibat dalam organisasi Budi Utomo dan Muhammadiyah. Ia memperjuangkan pendidikan bagi kaum pribumi dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk meningkatkan akses pendidikan di kalangan rakyat. Selain itu, ia juga aktif dalam kampanye sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak-hak mereka sebagai warga negara.
Haji Agus Salim adalah diplomat ulung yang memegang peranan penting dalam mendirikan Masyumi, partai politik yang memperjuangkan kepentingan umat Islam di Indonesia. Ia aktif dalam perundingan yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (1949). Selain itu, ia juga terlibat dalam pengembangan pendidikan Islam dan menjadi jembatan antara pemuda dan pemimpin nasional dalam perjuangan kemerdekaan.
4. Mohammad Roem
Sebagai diplomat dan politisi, Mohammad Roem berperan penting dalam upaya diplomasi Indonesia pasca kemerdekaan. Ia menjadi juru bicara yang mewakili Indonesia dalam perundingan dengan Belanda untuk memperoleh pengakuan internasional. Roem juga terlibat dalam pembentukan partai politik dan memperjuangkan hak-hak umat Islam di parlemen, sehingga membantu membangun fondasi bagi pemerintahan Indonesia yang baru.
5. Dr. Wahid Hasyim
Dr. Wahid Hasyim, sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, berperan besar dalam pengembangan pendidikan Islam dan pelestarian nilai-nilai Islam di Indonesia. Ia juga menjadi Menteri Agama pertama Indonesia dan mendorong pembentukan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lebih modern. Melalui ajarannya, ia membangun semangat toleransi antarumat beragama dan mengajak pemuda untuk berperan aktif dalam kehidupan sosial dan politik.
Zainul Arifin dikenal sebagai pemimpin organisasi pemuda Islam yang aktif dalam mengorganisir gerakan sosial dan politik. Ia berjuang untuk hak-hak umat Islam dan membantu memperkuat solidaritas antar pemuda dari berbagai latar belakang. Upayanya dalam menyebarkan semangat perjuangan dan pendidikan sangat berharga, menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu-isu sosial dan politik di tanah air.
7. Abdul Rahman Saleh
Abdul Rahman Saleh adalah seorang pahlawan yang terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia berpartisipasi dalam berbagai organisasi Islam dan berjuang di front-line melawan penjajahan. Selain itu, ia juga dikenal karena perannya dalam pengorganisasian pasukan dan menyusun strategi pertempuran yang efektif. Dedikasi dan pengorbanannya menjadi inspirasi bagi banyak pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan dan keadilan.
Sahabat Muslim mungkin bertanya, “Mengapa pada tanggal 22 Oktober memperingati Hari Santri Nasional?” Tanggal tersebut tidak dipilih begitu saja, melainkan memiliki cerita penting di baliknya. Tanggal ini bukan sekadar hari biasa, melainkan menjadi simbol semangat perjuangan dan pengorbanan yang besar.
Dalam konteks Islam, semangat jihad atau perjuangan yang diserukan para ulama kepada santri-santri ini sangat erat dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan bersiaplah kamu dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki.” (QS. Al-Anfal: 60)
Ayat ini mengingatkan pentingnya kesiapan umat Islam dalam memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran, termasuk menjaga tanah air dari penjajahan. Mari, simak artikel ini untuk mengetahui hari santri dan sejarahnya lebih lengkap.
Latar Belakang Hari Santri Nasional Ditetapkan oleh Pemerintah
Gagasan mengenai penetapan Hari Santri Nasional pertama kali disampaikan oleh KH Thoriq Darwis, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam di Banjarjo, Malang, Jawa Timur. Ketika Presiden Jokowi berkunjung ke pesantren tersebut untuk kampanye, KH Thoriq mengusulkan agar 1 Muharram ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
Jokowi menyambut baik usulan ini, bahkan menunjukkan komitmennya dengan menandatangani kesepakatan tersebut. Jokowi tidak hanya menyetujui usulan tersebut, tetapi juga mengaitkan dengan pentingnya peran santri dan pesantren dalam mendukung program revolusi mental.
Ia juga menekankan bahwa pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter bangsa melalui pendidikan agama, akhlak, dan nilai-nilai luhur.
Mengapa Pemerintah Memilih Tanggal 22 Oktober untuk Memperingati Hari Santri Nasional?
Latar belakang peringatan ini bermula dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Saat itu, situasi Indonesia sangat kritis karena penjajah Belanda ingin kembali merebut kekuasaan.
Para ulama dari Nahdlatul Ulama mengeluarkan seruan jihad, mengajak seluruh umat Islam, terutama para santri, untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Seruan jihad ini memotivasi banyak santri untuk bergabung dalam perlawanan fisik melawan penjajah, terutama di Pertempuran Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945. Semangat dan keberanian mereka menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda dalam sebuah hadis yang sangat relevan dengan semangat perjuangan para santri:
“Barangsiapa yang mati karena membela hartanya, ia mati syahid. Barangsiapa yang mati karena membela agamanya, ia mati syahid.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menggambarkan bahwa membela agama, bangsa, dan tanah air merupakan bentuk jihad yang besar, dan para santri pada masa itu mencontohkan hal tersebut dengan keberanian mereka.
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober kini menjadi simbol pengakuan atas kontribusi besar santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang kaya akan nilai perjuangan dan pengorbanan.
Mahar pernikahan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus besar atau mahal. Banyak orang yang berpikir bahwa semakin besar mahar, semakin baik pernikahan tersebut. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa dalam Islam, mahar yang dianjurkan sebenarnya sangat sederhana dan tidak memberatkan?
Dalam Islam, mahar merupakan pemberian wajib dari mempelai pria kepada mempelai wanita sebagai tanda kesungguhan dan penghormatan dalam pernikahan. Meskipun mahar ini penting, Islam tidak pernah mengharuskan besaran yang terlalu tinggi atau mewah. Justru, Islam menganjurkan agar mahar diberikan sesuai kemampuan, tanpa berlebihan.
1. Mahar yang Mudah dan Sederhana
Rasulullah SAW sendiri menganjurkan agar mahar tidak memberatkan. Dalam sebuah hadist disebutkan:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan)”
— (HR. Abu Dawud, No. 2117)
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam lebih menyukai mahar yang sederhana. Mahar yang terlalu tinggi justru bisa memberatkan pihak laki-laki, sehingga bisa menunda atau bahkan menghalangi niat baik untuk menikah.
Ada banyak contoh mahar sederhana yang diberikan di zaman Rasulullah. Salah satu kisah yang terkenal adalah pernikahan antara Rasulullah SAW dengan Aisyah RA, di mana mahar yang diberikan berupa 500 dirham, jumlah yang sangat sederhana di masa itu.
Dalam pernikahan putri Rasulullah, Fatimah RA, dengan Ali bin Abi Thalib RA, mahar yang diberikan juga sangat sederhana, yaitu berupa baju besi. Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah maharnya”
— (HR. Ahmad, No. 24595)
Ini menunjukkan bahwa keberkahan dalam pernikahan bukan diukur dari besarnya mahar, melainkan dari kesederhanaan dan kemudahan yang diberikan.
3. Esensi Mahar dalam Islam
Islam memandang mahar sebagai simbol kasih sayang, bukan sebagai harga atau beban finansial. Tujuan mahar adalah untuk menghormati wanita, bukan untuk mempersulit pernikahan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar mahar disesuaikan dengan kemampuan dan tidak memaksakan jumlah yang terlalu besar.
Selain itu, mahar dalam Islam tidak hanya terbatas pada bentuk materi. Ada kisah di mana seorang sahabat yang tidak mampu memberikan mahar berupa harta benda, Rasulullah membolehkan mahar berupa hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
“Carilah sesuatu yang bisa dijadikan mahar, meskipun hanya cincin dari besi. Jika kamu tidak punya, maka ajarkan dia ayat-ayat dari Al-Qur’an.”
Hadist ini menunjukkan fleksibilitas dalam pemberian mahar, bisa berupa sesuatu yang sederhana.
4. Menjaga Kesederhanaan dalam Pernikahan
Dengan kesederhanaan mahar, pernikahan diharapkan menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi semua kalangan. Hal ini juga sesuai dengan prinsip Islam yang menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam pernikahan.
Mahar yang tinggi bisa menjadi beban bagi calon mempelai pria dan keluarganya. Akibatnya, banyak pasangan yang akhirnya menunda pernikahan karena tidak mampu memenuhi mahar yang diminta. Padahal, Islam menganjurkan agar pernikahan tidak dipersulit dan dilakukan sesegera mungkin ketika sudah ada kesiapan.
Dalam Islam, ibadah, terutama shalat, adalah salah satu tiang agama yang paling penting. Banyak Muslim yang menjaga ibadah mereka dengan melakukan shalat lima waktu secara rutin. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian dalam kaitannya dengan ibadah adalah tanda hitam yang muncul di jidat seseorang.
Sebagian orang percaya bahwa jidat hitam ini merupakan tanda bahwa seseorang rajin beribadah, khususnya sujud dalam shalat. Namun, apakah benar demikian? Simak artikel ini untuk mengetahui arti jidat hitam dalam Islam selengkapnya.
Bagaimana Asal Mula Tanda Hitam di Jidat?
Tanda hitam di jidat, yang dalam beberapa kasus disebut sebagai “zabibah” atau “bekas sujud,” muncul karena gesekan berulang antara dahi dan permukaan tempat sujud, seperti sajadah atau lantai.
Tanda ini biasanya terlihat pada seseorang yang sering beribadah dan sujud dalam waktu yang lama. Tanda tersebut lebih sering muncul pada orang dengan kulit sensitif atau pada mereka yang melakukan sujud di atas permukaan yang kasar.
Namun, tidak semua orang yang rajin beribadah memiliki tanda ini. Banyak orang yang melakukan shalat dengan khusyuk sepanjang hidup mereka tanpa pernah memiliki tanda hitam di jidat.
Dalam ajaran Islam, penilaian seseorang sebagai orang yang rajin ibadah atau dekat dengan Allah tidak bisa didasarkan pada tanda fisik, termasuk jidat hitam. Allah SWT menilai hamba-Nya berdasarkan ketakwaan, keikhlasan, dan niat, bukan dari tanda-tanda lahiriah yang terlihat di tubuh.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menekankan bahwa takwa dan kedekatan seseorang kepada Allah tidak diukur dari penampilan luar, melainkan dari kebersihan hati dan ketulusan dalam menjalankan perintah-Nya.
Apakah Jidat Hitam Menunjukkan Keimanan yang Tinggi?
Sumber gambar: freepik.com
Meskipun tanda hitam di jidat bisa muncul pada orang yang sering melakukan sujud, itu bukanlah ukuran keimanan seseorang. Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menekankan bahwa amalan-amalan yang ikhlas dan dilakukan semata-mata karena Allah adalah yang terpenting.
Ada juga peringatan dalam Islam agar tidak pamer ibadah (riya). Tanda hitam di jidat, jika digunakan untuk pamer atau ingin dilihat orang lain sebagai tanda kesalehan, justru bisa menjadi salah satu bentuk riya yang dilarang dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)
Dalam Islam, lebih penting untuk fokus pada kualitas ibadah daripada aspek fisik yang mungkin muncul dari ibadah tersebut. Ketika seseorang sujud, yang paling penting adalah keikhlasan dan kekhusyukan dalam mendekatkan diri kepada Allah, bukan bekas yang ditinggalkan di tubuh.
Shalat yang khusyuk dan penuh keimanan tidak bisa diukur dari penampilan luar. Allah menilai hati dan niat setiap Muslim dalam menjalankan ibadah. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh kalian dan rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Doa Qunut Nazilah adalah doa yang dianjurkan dalam Islam ketika umat menghadapi musibah besar, seperti ketidakadilan, bencana, atau peperangan. Doa ini dipanjatkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar diberikan perlindungan, pertolongan, dan kekuatan dalam menghadapi cobaan.
Saat ini, Sahabat Muslim di seluruh dunia dianjurkan untuk membaca Doa Qunut Nazilah sebagai bentuk dukungan spiritual bagi Palestina yang sedang menghadapi penderitaan. Dengan doa ini, kita memohon kepada Allah agar memberikan keadilan dan keselamatan bagi saudara-saudara kita di Palestina.
Simak artikel ini untuk memahami lebih dalam tentang latar belakang dan keutamaan Doa Qunut Nazilah.
Apa Pengertian dan Latar Belakang Doa Qunut Nazilah?
Doa Qunut Nazilah pada dasarnya adalah bentuk permohonan kepada Allah untuk diberikan perlindungan, pertolongan, dan kemenangan atas musuh atau ujian berat yang dihadapi. Nabi Muhammad SAW juga pernah mempraktikkan doa ini ketika umat Islam berada dalam situasi sulit, seperti ketika menghadapi ancaman dari musuh-musuh Islam.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Membaca Doa Qunut Nazilah?
Doa Qunut Nazilah biasanya dibaca dalam shalat berjamaah, terutama shalat wajib, setelah ruku’ pada rakaat terakhir. Biasanya imam shalat yang membacanya, dan makmum mengamininya. Namun, doa ini juga bisa dibaca dalam shalat pribadi jika dirasa perlu.
Meskipun tidak ada teks spesifik yang diwajibkan untuk doa Qunut Nazilah, banyak ulama merekomendasikan untuk membaca doa yang mencakup permohonan perlindungan dan kemenangan. Berikut adalah salah satu contoh bacaan Qunut Nazilah:
“Allahumma ihdina fi man hadait, wa ‘afina fi man ‘afait, wa tawallana fi man tawallait, wa barik lana fi ma a’tait, wa qina sharra ma qadait, fa innaka taqdi wa la yuqda ‘alaik, innahu la yadhillu man walait, wa la ya’izzu man ‘adait, tabarakta rabbana wa ta’alait. Allahumma ‘adhdhibil kafarata alladhina yasudduna ‘an sabilika wa yukadhdhibuna rusulaka wa yuqtiluna awliya’ak.”
Apa Hikmah dan Keutamaan Membaca Doa Qunut Nazilah?
Membaca Qunut Nazilah mengingatkan kita akan pentingnya ketergantungan kepada Allah dalam menghadapi segala situasi sulit. Selain sebagai sarana permohonan bantuan, doa ini juga menjadi pengingat bahwa kekuatan dan perlindungan sejati hanya datang dari Allah.
Hal ini juga menunjukkan solidaritas umat Islam dalam menghadapi tantangan bersama, dengan doa sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual.
Ayat Kursi merupakan salah satu ayat paling agung dalam Al-Qur’an dan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ayat ini sering disebut sebagai “singgasana Allah” di langit dan bumi. Selain keindahan maknanya, membaca Surah Ayat Kursi juga memiliki banyak manfaat bagi kehidupan kita.
Keutamaan Membaca Ayat Kursi
Perlindungan dari Setan: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan suatu surat dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga ayat, yang tidak ada suatu rumah yang dibacakan di dalamnya kecuali setan akan menjauh darinya selama tiga hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ayat yang dimaksud adalah ayat kursi.
Ketenangan Hati: Membaca ayat kursi secara rutin dapat memberikan ketenangan hati dan jiwa. Ayat ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan meyakinkan kita bahwa Allah selalu bersama kita.
Rezeki yang Berkah: Banyak hadis yang menyebutkan bahwa membaca ayat kursi dapat membuka pintu rezeki. Dengan membaca ayat ini, kita memohon kepada Allah agar diberikan rezeki yang halal dan berkah.
Sedekah adalah tindakan mulia yang dianjurkan dalam agama Islam. Namun, tahukah Sahabat Muslim bahwa sedekah yang dilakukan di saat kondisi kita sedang sulit atau sempit memiliki keutamaan yang lebih besar? Hal ini sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dijelaskan dalam beberapa hadis.
Hadis tentang Sedekah di Waktu Sempit
Dalam Hadis Riwayat An-Nasai: Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan oleh orang yang serba kekurangan.” (HR. An-Nasai No. 2526). Hadis di atas dengan jelas menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan oleh orang yang sedang dalam kesulitan atau kekurangan harta, memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT.
Mengapa Sedekah di Waktu Sempit Sangat Utama?
Kesetiaan pada Allah: Sedekah di waktu sempit menunjukkan keikhlasan dan kesetiaan seseorang kepada Allah SWT. Meskipun dalam kondisi sulit, ia tetap rela berbagi dengan orang lain.
Ujian Keimanan: Sedekah di waktu sempit merupakan ujian atas keimanan seseorang. Semakin besar ujian yang dihadapi, semakin besar pula pahala yang akan diperoleh.
Pintu Kebaikan Terbuka: Sedekah di waktu sempit akan membuka pintu kebaikan yang lebih luas. Allah SWT akan memberikan rezeki yang lebih baik dan melimpah sebagai balasan.
Meringankan Beban: Sedekah di waktu sempit dapat meringankan beban hidup seseorang. Dengan berbagi, kita akan merasa lebih lapang dan bahagia.
Menumbuhkan Empati: Sedekah dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Kita akan lebih memahami kesulitan yang dialami oleh orang lain.
Menjadi Teladan: Dengan bersedekah, kita menjadi teladan bagi orang lain. Tindakan kita dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan bagi umat Muslim. Banyak sifat beliau yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam interaksi sosial, pekerjaan, maupun hubungan pribadi.
Berikut adalah beberapa sifat Nabi Muhammad yang patut diteladani:
1. Kejujuran (As-Siddiq)
Nabi Muhammad dikenal dengan gelar “Al-Amin,” yang berarti orang yang dapat dipercaya. Dalam setiap tindakan, beliau selalu jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kejujuran ini sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama dalam hubungan sosial dan pekerjaan. Dengan bersikap jujur, kita bisa membangun kepercayaan dengan orang lain.
2. Amanah
Selain jujur, Nabi Muhammad juga selalu menjaga amanah. Beliau tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sifat ini mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas tugas atau kewajiban yang kita emban. Dalam konteks pekerjaan atau kehidupan pribadi, sifat amanah akan membuat kita lebih dipercaya dan dihargai.
Kesabaran Nabi Muhammad sangat luar biasa, terutama ketika menghadapi berbagai tantangan dalam menyebarkan agama Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang menguji kesabaran, seperti di jalanan, di tempat kerja, atau dalam hubungan personal. Dengan meneladani kesabaran Nabi, kita bisa lebih tenang dalam menghadapi masalah.
4. Pemaaf
Nabi Muhammad adalah sosok yang pemaaf, bahkan kepada orang-orang yang pernah menyakitinya. Beliau mengajarkan untuk memaafkan kesalahan orang lain sebagai bentuk kasih sayang. Memaafkan orang lain, meskipun sulit, bisa membantu kita melepaskan beban emosional dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis.
5. Dermawan
Nabi Muhammad sangat dermawan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Sifat ini mengajarkan pentingnya berbagi dengan sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa meneladani sifat ini dengan membantu orang-orang di sekitar kita, baik dalam bentuk materi, tenaga, atau sekadar perhatian.
6. Rendah Hati (Tawadhu)
Meskipun beliau adalah pemimpin besar, Nabi Muhammad selalu rendah hati. Beliau tidak pernah memamerkan kekuasaannya dan selalu memperlakukan orang lain dengan rasa hormat. Sifat tawadhu ini penting untuk diterapkan agar kita tidak menjadi sombong dan selalu menghargai orang lain.
Nabi Muhammad sangat peduli terhadap kesejahteraan orang lain, baik dalam hal fisik maupun emosional. Beliau selalu memperhatikan kondisi orang-orang di sekitarnya dan memberikan bantuan sesuai kemampuannya. Dengan meneladani sifat ini, kita bisa lebih empati dan peduli terhadap lingkungan sosial kita.
8. Disiplin dan Tanggung Jawab
Nabi Muhammad sangat disiplin dalam menjalankan ibadah dan tugas-tugasnya. Beliau selalu menjaga waktu dan melakukan setiap pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari, disiplin ini bisa kita terapkan untuk lebih produktif dan konsisten dalam mencapai tujuan.
Allah SWT. mengizinkan para setan untuk menggoda dan menyesatkan manusia hingga akhir zaman.
Sebagaimana dinyatakan dalam Surah Al-Hijr ayat 39, Iblis berkata bahwa ia akan menyesatkan seluruh manusia, sehingga mereka melihat kesesatan sebagai sesuatu yang menyenangkan:
Artinya: “Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkan aku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua.’”
Setan akan menggoda manusia dari segala arah, seperti yang disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 17:
Artinya: “Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
Namun, ada beberapa golongan manusia yang ditakuti oleh setan sehingga Anda tidak diganggu. Berikut ini adalah golongan-golongan tersebut.
1. Orang yang Memohon Perlindungan kepada Allah SWT
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Dia. Mereka tidak akan mampu menghilangkan bahaya darimu dan tidak (pula) mampu mengalihkannya.’”
2. Orang yang Takut pada Allah SWT
Setan akan merasa takut kepada orang yang takut kepada Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Fi Zhilalil-Qur’an karya Sayyid Quthb yang mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 175:
“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin.”
3. Selalu Bertaubat dan Beristighfar
Bertobat dan kembali kepada Allah SWT adalah amalan yang dapat menyelamatkan umat Islam dari godaan setan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 201:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan kesenangan surga di antara kalian, hendaklah dia senantiasa bergabung dengan jamaah Muslimin karena setan itu berada di dekat orang yang sendiri dan akan tersingkir dari dua orang atau lebih.” (HR Tirmidzi).
5. Orang yang Alim
Salah satu sifat manusia yang ditakuti oleh setan adalah orang yang alim. Syamsul Rijal Hamid menjelaskan bahwa iblis lebih suka mengarahkan setan untuk menggoda ahli ibadah (abid) daripada orang-orang yang alim dalam karya bukunya “Mutiara Hikmah Islami”.
Beberapa tafsiran menyebutkan bahwa orang alim di sini merujuk pada mereka yang menguasai fikih atau memiliki ilmu agama yang mendalam.
6. Orang yang Senantiasa Dekat dengan Kitabullah dan Sunnah
Orang yang dekat dengan Al-Qur’an dan Hadits termasuk dalam golongan yang ditakuti oleh setan. Sobat Muslim yang rajin membaca dan mengamalkan wahyu Allah SWT akan terlindungi dari godaan setan.
Hal ini terjadi karena setan merasa lebih takut kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam daripada dengan mereka yang hanya ahli ibadah namun kurang memahami hukum-hukum agama.
Itulah beberapa ciri manusia yang ditakuti setan. Dengan memahami ciri-ciri golongan ini, diharapkan Anda dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan, sehingga terjauhkan dari godaan setan.