Cek Zodiak Hari Ini Sebelum Beraktivitas? Begini Hukumnya dalam Islam

Membuka ponsel untuk mengecek ramalan zodiak sebelum memulai aktivitas mungkin sudah menjadi kebiasaan sebagian orang. Ada yang membacanya sekadar untuk hiburan, mencari tahu kecocokan dengan pasangan, atau mengetahui gambaran keberuntungan hari ini. Konten seputar karakter dan ramalan bintang pun mudah ditemukan di media sosial. Namun, Sahabat Muslim perlu memahami bahwa zodiak bukan sekadar pembahasan tentang tanggal lahir. 

Ketika ramalan bintang digunakan untuk memprediksi nasib, hubungan, rezeki, atau kejadian yang akan datang, muncul persoalan mengenai keyakinan terhadap perkara gaib yang dalam Islam berada di luar pengetahuan manusia. Lantas, bagaimana hukum membaca dan mempercayai zodiak menurut Islam? Apakah membaca horoskop hanya untuk hiburan juga perlu dihindari? Simak penjelasannya berikut ini.

Ringkasan

  • Islam mengajarkan bahwa pengetahuan mutlak tentang perkara ghaib adalah milik Allah SWT. Karena itu, ramalan nasib berdasarkan posisi bintang tidak dapat dijadikan pegangan hidup.
  • Mempercayai ramalan dan meyakini bintang memiliki kuasa atas nasib merupakan persoalan akidah yang serius. Membaca atau mendatangi peramal juga mendapat peringatan dalam hadis.
  • Astrologi berbeda dengan astronomi. Mempelajari benda langit secara ilmiah tidak sama dengan menggunakan bintang untuk meramal nasib.
  • Jika terbiasa membaca zodiak, Sahabat Muslim dapat mulai meninggalkannya dan mengganti kebiasaan tersebut dengan ikhtiar, doa, serta tawakal kepada Allah SWT.

Mengapa Zodiak dan Ramalan Bintang Begitu Populer?

Zodiak sering menarik perhatian karena menawarkan gambaran sederhana tentang kepribadian, hubungan, karier, dan masa depan. Berdasarkan tanggal lahir, seseorang dapat menemukan berbagai klaim mengenai sifat dirinya atau ramalan tentang hal-hal yang mungkin terjadi. Di media sosial, konten seperti ini juga mudah dibagikan sebagai bahan obrolan bersama teman. 

Meski demikian, sesuatu yang populer belum tentu dapat dijadikan pedoman. Ramalan yang terasa sesuai dengan pengalaman pribadi pun tidak otomatis membuktikan bahwa astrologi dapat mengetahui masa depan. Dalam Islam, seorang Muslim diajarkan untuk membangun keyakinan berdasarkan ajaran agama dan tidak menggantungkan harapan maupun keputusan hidup pada ramalan yang tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana Hukum Zodiak dan Ramalan Bintang dalam Islam?

Untuk memahami persoalan ini, Sahabat Muslim perlu membedakan antara membaca ramalan, membenarkan isi ramalan, dan meyakini bahwa bintang memiliki kekuatan untuk menentukan nasib. Berikut penjelasannya.

1. Perkara Ghaib Hanya Diketahui Allah SWT

Islam mengajarkan bahwa pengetahuan mutlak mengenai perkara gaib adalah milik Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Surah An-Naml ayat 65:

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ ۝٦ 

“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak dapat mengklaim mengetahui perkara gaib secara mandiri. Oleh karena itu, ramalan zodiak tidak sepatutnya dijadikan sumber kepastian mengenai rezeki, jodoh, keberuntungan, atau kejadian yang akan datang.

2. Hadis Memberikan Peringatan tentang Mendatangi Peramal

Rasulullah SAW memberikan peringatan mengenai orang yang mendatangi peramal. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa orang yang mendatangi seorang peramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, sholatnya tidak diterima selama 40 malam. Hadis ini tercantum dalam Sahih Muslim nomor 2230. 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى الْعَنَزِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، – يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ – عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ،

عَنْ نَافِعٍ، عَنْ صَفِيَّةَ، عَنْ بَعْضِ، أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ ” مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ” .

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa mencari informasi tentang perkara gaib melalui peramal bukanlah perkara ringan dalam Islam. Hadis tersebut membahas tindakan mendatangi peramal dan bertanya kepadanya. Karena itu, penerapannya pada setiap bentuk konten zodiak perlu mempertimbangkan konteksnya, meskipun ramalan yang mengklaim mengetahui masa depan tetap perlu dihindari.

3. Astrologi Tidak Dapat Dijadikan Pegangan untuk Meramal Nasib

Dalam hadis riwayat Abu Dawud nomor 3905, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang mempelajari ilmu perbintangan tertentu telah mempelajari satu cabang sihir, dan semakin bertambah pengetahuannya, semakin bertambah pula hal tersebut.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُسَدَّدٌ، – الْمَعْنَى – قَالاَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الأَخْنَسِ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ ” .

Hadis ini berkaitan dengan ilmu perbintangan yang digunakan dalam konteks ramalan. Oleh sebab itu, para ulama menjelaskan adanya larangan terhadap astrologi yang menghubungkan posisi bintang dengan nasib atau perkara gaib manusia. Namun, penting untuk membedakan astrologi dari ilmu astronomi. Tidak semua pembelajaran tentang bintang dan benda langit termasuk dalam larangan tersebut. 

4. Apakah Membaca Zodiak Tanpa Mempercayainya Juga Dilarang?

Dalam penjelasan sejumlah ulama, membaca ramalan bintang untuk mengetahui prediksi nasib tetap perlu dihindari, meskipun seseorang mengaku tidak mempercayainya. Hal ini karena kebiasaan tersebut dapat membuka ruang bagi seseorang untuk mulai menggantungkan harapan atau mengambil keputusan berdasarkan ramalan. 

Meski demikian, membaca sebuah konten dan membenarkan seluruh isinya bukanlah dua hal yang identik. Keduanya perlu dibedakan ketika menjelaskan persoalan ini. Hadits mengenai orang yang mendatangi peramal, misalnya, secara khusus menyebut tindakan mendatangi dan bertanya kepada peramal.

5. Apa Perbedaan Astrologi dan Astronomi?

Astrologi menghubungkan posisi atau pergerakan benda langit dengan karakter, keberuntungan, dan nasib manusia. Ketika digunakan untuk meramal perkara gaib, praktik ini bertentangan dengan tuntunan Islam. Sebaliknya, astronomi merupakan ilmu yang mempelajari benda langit berdasarkan pengamatan dan metode ilmiah. Pengetahuan ini dapat dimanfaatkan untuk memahami pergerakan planet, mempelajari alam semesta, serta mendukung perhitungan waktu dan navigasi.

Dalam konteks Islam, ilmu falak juga berperan dalam membantu perhitungan waktu sholat, penentuan arah kiblat, dan penyusunan kalender Hijriah. Jadi, Sahabat Muslim tidak perlu khawatir ketika mempelajari bintang atau benda langit secara ilmiah. Hal yang perlu dihindari adalah menggunakan astrologi untuk meramal nasib dan menjadikannya sebagai pegangan keyakinan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terbiasa Membaca Zodiak?

Jika selama ini Sahabat Muslim terbiasa mengecek zodiak setiap pagi, mulailah mengurangi kebiasaan tersebut dan hindari menjadikan ramalan sebagai panduan dalam memilih pasangan, menentukan karir, atau mengambil keputusan penting. Sebagai gantinya, Sahabat Muslim dapat memulai hari dengan membaca doa, membaca ayat Al-Qur’an, menyusun prioritas, dan merencanakan kegiatan agar waktu yang dimiliki lebih bermanfaat.

Masa depan memang tidak selalu dapat diprediksi, tetapi seorang Muslim dapat menghadapinya dengan berikhtiar, mencari informasi yang relevan, meminta nasihat dari orang terpercaya, berdoa, dan bertawakal kepada Allah SWT. Jika sebelumnya pernah membaca atau mempercayai ramalan zodiak, jadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk memperbaiki pemahaman agama. 

Kesimpulan

Hukum percaya zodiak dalam Islam perlu dipahami dengan membedakan antara astrologi yang digunakan untuk meramal nasib, tindakan membaca atau bertanya kepada peramal, dan astronomi yang mempelajari benda langit secara ilmiah. Islam mengajarkan bahwa pengetahuan mutlak tentang perkara gaib adalah milik Allah SWT, sehingga ramalan bintang tidak sepatutnya dijadikan pegangan hidup.

Membenarkan ramalan atau meyakini bahwa bintang memiliki kuasa untuk menentukan nasib merupakan persoalan akidah yang serius. Adapun kebiasaan membaca horoskop untuk mengetahui prediksi masa depan sebaiknya ditinggalkan sebagai langkah menjaga keyakinan.Semoga Allah SWT senantiasa membimbing Sahabat Muslim untuk memperkuat ikhtiar dan membuat harapan hanya kepada-Nya. Yuk, terus tambah wawasan seputar akidah dan gaya hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://quran.nu.or.id/an-naml/65

https://www.liputan6.com/islami/read/6210261/hukum-percaya-ramalan-zodiak-dalam-islam-apakah-haram

FAQ

Membaca horoskop yang berisi ramalan nasib sebaiknya dihindari. Sejumlah ulama melarang kebiasaan tersebut meskipun pembacanya mengaku tidak percaya, karena dapat mempengaruhi cara seseorang memandang masa depan. Namun, tindakan membaca perlu dibedakan dari membenarkan ramalan atau meyakini bintang memiliki kuasa atas nasib.

Kecocokan yang terjadi tidak otomatis membuktikan bahwa astrologi dapat mengetahui masa depan. Keputusan dan keyakinan sebaiknya tidak didasarkan pada ramalan, melainkan pada pertimbangan yang masuk akal, ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.

Tidak tepat menetapkan status keimanan seseorang hanya berdasarkan fakta bahwa ia pernah membaca zodiak. Perlu dibedakan antara membaca, membenarkan ramalan, dan meyakini bintang memiliki kuasa atas nasib. Persoalan akidah yang spesifik sebaiknya ditanyakan kepada ahli agama yang kompeten.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *