Calon Imam Rumah Tangga, Ini Kriteria Suami Idaman Menurut Islam

Bagi seorang perempuan Muslimah, memilih calon suami bukan sekadar soal kecocokan hati, melainkan juga menyangkut siapa yang kelak akan menjadi imam dalam rumah tangganya. Sosok suami memegang peran besar, mulai dari membimbing keluarga, menunaikan hak istri, hingga mendidik anak-anak kelak, sehingga proses memilihnya perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan.

Islam sendiri telah memberikan panduan mengenai kriteria calon suami yang layak dipertimbangkan, sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadits dan penjelasan ulama. Lalu, apa saja kriteria memilih calon suami menurut Islam yang perlu diperhatikan oleh seorang Muslimah? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Agama dan akhlak menjadi kriteria paling utama dalam memilih calon suami, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi.
  • Selain agama, kriteria lain yang juga perlu dipertimbangkan antara lain kafa’ah (kesepadanan), kemampuan menafkahi, serta karakter dan sikap terhadap perempuan.
  • Jika sulit menemukan calon dengan kriteria yang sempurna, Islam mengajarkan untuk memprioritaskan agama dan akhlak sebagai syarat minimal yang tidak boleh dikompromikan.

Mengapa Perempuan Perlu Selektif dalam Memilih Calon Suami? 

Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila datang seorang laki-laki yang diridhai agama dan akhlaknya untuk melamar, maka nikahkanlah dengannya, karena jika tidak dilakukan, akan terjadi fitnah dan kerusakan yang luas di muka bumi. Hadis ini menjadi pengingat betapa pentingnya kehati-hatian dalam memilih calon suami, karena keputusan ini akan berdampak besar bagi kehidupan rumah tangga kedepannya.

Ulama seperti Musthafa Al-Khin juga menjelaskan bahwa kriteria yang biasa disebutkan dalam memilih calon istri, yaitu harta, nasab, paras, dan agama, sejatinya juga berlaku dalam memilih calon suami. Artinya, seorang perempuan berhak dan perlu selektif mempertimbangkan berbagai aspek ini sebelum menentukan pilihan, bukan hanya mengandalkan perasaan semata.

Apa Saja Kriteria Memilih Calon Suami Menurut Islam? 

Sumber: Magnific

Berikut beberapa kriteria yang dianjurkan dalam memilih calon suami menurut Islam: 

  1. Agama dan Akhlak yang Baik

Kriteria paling utama dalam memilih calon suami adalah agama dan akhlaknya. Hasan bin Ali RA pernah menjawab pertanyaan seseorang tentang siapa yang pantas menjadi suami bagi putrinya dengan menyebutkan laki-laki yang bertakwa kepada Allah SWT, sebab jika ia senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia marah, ia tidak akan berbuat zalim.

  1. Kemampuan untuk Menafkahi 

Memberi nafkah merupakan kewajiban seorang suami, sehingga kemampuannya dalam mencukupi kebutuhan istri dan anak menjadi salah satu kriteria penting yang perlu dipertimbangkan. Bukan berarti calon suami harus sudah kaya raya, namun setidaknya memiliki kesungguhan dan tanggung jawab dalam berikhtiar mencari nafkah yang berkah. 

  1. Karakter yang Adil dan Tidak Merendahkan Perempuan

Suami idaman dalam Islam tidak akan merasa lebih unggul dari istrinya maupun memperlakukannya secara semena-mena. Sebaliknya, ia membangun rumah tangga dengan prinsip kesetaraan, memposisikan istri sebagai mitra sejajar, serta mendukung istri untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

  1. Stabil secara Emosi

Kestabilan emosi menjadi kriteria penting lainnya, karena calon suami yang mudah marah atau tidak mampu mengendalikan diri berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Kemampuan mengelola emosi dengan baik mencerminkan kematangan seseorang dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan berumah tangga.

  1. Kafa’ah atau Kesepadanan

Islam menganjurkan mempertimbangkan kafa’ah, yaitu kesepadanan antara calon suami dan istri, baik dari sisi agama, sosial, maupun latar belakang keluarga, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah. Kafa’ah ini penting untuk diperhatikan agar meminimalkan potensi masalah yang dapat muncul akibat perbedaan yang terlalu jauh di kemudian hari.

Bagaimana Jika Sulit Menemukan Calon dengan Kriteria Sempurna? 

Pada praktiknya, tidak mudah menemukan calon suami yang memenuhi seluruh kriteria secara sempurna. Islam mengajarkan agar dalam kondisi seperti ini, agama dan akhlak tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dikompromikan, sementara kriteria lainnya dapat menjadi pertimbangan tambahan yang bersifat fleksibel.

Selain melihat kriteria calon suami, penting juga bagi seorang Muslimah untuk terus memperbaiki diri, karena kejujuran dan keteguhan iman yang dimiliki juga turut menentukan kualitas pasangan yang akan didapatkan, sebagaimana prinsip bahwa lelaki dan perempuan yang baik cenderung berjodoh dengan yang baik pula.

Kesimpulan

Kriteria memilih calon suami menurut Islam meliputi agama dan akhlak yang baik, kafa’ah atau kesepadanan, kemampuan menafkahi, karakter yang adil, serta kestabilan emosi. Di antara seluruh kriteria tersebut, agama dan akhlak tetap menjadi prioritas utama yang menentukan kualitas kehidupan rumah tangga ke depannya.

Dengan memahami kriteria ini, diharapkan setiap Muslimah dapat lebih bijak dan selektif dalam menentukan pilihan, demi membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan penuh keberkahan. Yuk, terus tambah wawasan seputar pernikahan dan keluarga Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://bincangsyariah.com/hukum-islam/ibadah/ini-kriteria-memilih-calon-suami-dalam-islam/

https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/7-kriteria-calon-suami-idaman-dalam-islam-PpluJ

FAQ

Kriteria paling utama adalah agama dan akhlak yang baik, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi, karena hal ini menjadi dasar bagi terciptanya rumah tangga yang harmonis dan penuh keberkahan.

Kafa’ah adalah kesepadanan atau kesetaraan antara calon suami dan istri, baik dari sisi agama, sosial, maupun latar belakang keluarga, yang dianjurkan untuk dipertimbangkan agar meminimalkan potensi masalah di masa depan.

Tidak harus sudah mapan sepenuhnya, namun calon suami perlu menunjukkan kesungguhan dan tanggung jawab dalam berikhtiar mencari nafkah, karena memberi nafkah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi seorang suami.

5 Adab Ziarah Kubur dalam Islam

Ziarah kubur menjadi salah satu tradisi yang telah lama melekat di tengah masyarakat Muslim Indonesia, terutama menjelang atau setelah momen tertentu seperti Lebaran. Kegiatan mengunjungi makam ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki tuntunan yang jelas dalam Islam, lengkap dengan hikmah dan adab yang perlu diperhatikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang masih keliru dalam memahami maksud dan cara berziarah yang benar, sehingga alih-alih mendapatkan manfaat, ziarah yang dilakukan justru berpotensi menyimpang dari tuntunan syariat. Lalu, bagaimana hukum, adab, dan doa ziarah kubur yang sesuai sunnah Rasulullah SAW? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Ziarah kubur pada awalnya sempat dilarang Rasulullah SAW, namun kemudian dianjurkan karena dapat melunakkan hati dan mengingatkan manusia akan kematian.
  • Beberapa adab ziarah kubur yang dianjurkan antara lain mengucapkan salam, berdoa dengan niat yang benar, serta menghindari perbuatan yang mengarah pada kesyirikan.
  • Ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja tanpa waktu khusus, dengan tujuan utama mendoakan ahli kubur dan mengingat kehidupan akhirat.

Bagaimana Hukum Ziarah Kubur dalam Islam? 

Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW sempat melarang umatnya untuk berziarah kubur. Namun, larangan tersebut kemudian dicabut, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa dahulu beliau melarang ziarah kubur, namun sekarang beliau menganjurkannya, karena ziarah kubur dapat melunakkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan pada kehidupan akhirat.

Secara umum, ulama sepakat bahwa hukum ziarah kubur adalah sunnah, khususnya bagi laki-laki, dengan tujuan utama untuk mendoakan ahli kubur dan mengingat kematian. Ziarah kubur juga dapat dilakukan kapan saja, tanpa terikat waktu khusus, meski di Indonesia kegiatan ini sering diasosiasikan dengan momen Lebaran sebagai bagian dari tradisi masyarakat.

Apa Saja Adab Ziarah Kubur yang Dianjurkan? 

Sumber: Magnific

Berikut beberapa adab ziarah kubur yang dianjurkan agar sesuai dengan tuntunan syariat: 

  1. Mengucapkan Salam kepada Ahli Kubur

Ketika memasuki area pemakaman, dianjurkan untuk mengucapkan salam kepada para penghuni kubur, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dalam riwayat Abu Hurairah RA. Salam ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa suatu saat setiap orang yang masih hidup juga akan menyusul mereka.

  1. Berdoa dengan Niat yang Benar

Tujuan utama ziarah kubur adalah mendoakan ahli kubur, bukan meminta sesuatu kepada mereka. Niat yang benar ini penting untuk dijaga, agar ziarah yang dilakukan tetap sejalan dengan akidah Islam dan tidak tergelincir pada praktik yang menyimpang.

  1. Menghindari Perbuatan yang Mengarah pada Kesyirikan

Beberapa ulama mengingatkan agar peziarah menghindari perbuatan yang berpotensi mengarah pada kesyirikan, seperti meminta pertolongan langsung kepada penghuni kubur atau meyakini bahwa doa akan lebih mudah terkabul karena dipanjatkan di lokasi makam tertentu. Ziarah kubur seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk yang telah wafat.

  1. Membaca Ayat Al-Qur’an dan Kalimat Thayyibah

Sebagian ulama menganjurkan untuk membacakan surat-surat pendek, seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, hingga kalimat tahlil, sebagai bentuk doa dan pengiriman pahala bagi ahli kubur. Meski terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai sampainya pahala bacaan tersebut kepada mayit, kebiasaan ini tetap menjadi bagian dari tradisi yang banyak dijalankan umat Islam di Indonesia.

  1. Menjaga Sikap dan Ucapan Selama Berziarah

Selama berada di area pemakaman, penting untuk menjaga sikap dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak pantas. Rasulullah SAW mengingatkan agar peziarah tidak mengucapkan kata-kata buruk (hujr) saat berziarah, sehingga suasana ziarah tetap khidmat dan penuh dengan perenungan akan kehidupan akhirat.

Bagaimana Bacaan Doa Ziarah Kubur Sesuai Sunnah?

Salah satu doa ziarah kubur yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah ucapan salam kepada penghuni kubur yang beriman, disertai doa keselamatan dan permohonan agar kelak dipertemukan kembali dalam keadaan yang baik. Selain itu, dianjurkan pula membaca istighfar sebagai bentuk permohonan ampun, baik untuk diri sendiri maupun untuk ahli kubur yang didoakan.

Ziarah kubur juga menjadi momen yang tepat untuk merenungkan tanda-tanda sakaratul maut dan mempersiapkan diri menghadapi kematian, sebagaimana setiap Muslim dianjurkan untuk senantiasa mengingat akhirat dan berharap dapat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah.

Kesimpulan

Ziarah kubur merupakan amalan sunnah yang dianjurkan dalam Islam, dengan tujuan utama mendoakan ahli kubur dan mengingatkan diri akan kematian. Beberapa adab penting yang perlu diperhatikan antara lain mengucapkan salam, menjaga niat yang benar, menghindari perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, serta menjaga sikap selama berada di area pemakaman.

Dengan memahami adab dan doa ziarah kubur yang sesuai sunnah, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan amalan ini dengan lebih bermakna, sekaligus semakin mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat. Yuk, terus tambah wawasan seputar ibadah dan persiapan akhirat bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://muslim.or.id/7803-adab-islami-ziarah-kubur.html

https://baznas.go.id/artikel-show/8-Hikmah-Ziarah-Kubur-dalam-Islam/1947

FAQ

idak ada waktu khusus yang diwajibkan untuk berziarah kubur. Ziarah dapat dilakukan kapan saja, meski di Indonesia kegiatan ini sering dilakukan menjelang atau setelah momen Lebaran sebagai bagian dari tradisi masyarakat.

Peziarah perlu menghindari perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta pertolongan langsung kepada penghuni kubur, serta menjaga ucapan agar tidak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas selama berada di area pemakaman.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Sebagian besar ulama membolehkan perempuan berziarah kubur selama tetap menjaga adab dan tidak berlebihan dalam meratapi kepergian ahli kubur.

Jangan Sampai Salah Hitung, Ini Cara Tepat Menunaikan Zakat Mal

Zakat mal merupakan salah satu kewajiban bagi setiap Muslim yang hartanya telah memenuhi syarat tertentu, berbeda dengan zakat fitrah yang hanya dibayarkan setahun sekali di bulan Ramadan. Sayangnya, masih banyak yang bingung mengenai kapan sebuah harta wajib dizakati dan bagaimana cara menghitungnya dengan benar.

Padahal, memahami cara menghitung zakat mal menjadi penting agar kewajiban ini dapat ditunaikan secara tepat, tidak kurang maupun berlebih. Lalu, bagaimana cara menghitung dan membayar zakat mal sesuai ketentuan syariat? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Zakat mal wajib dikeluarkan apabila harta yang dimiliki telah mencapai nisab (batas minimal) dan haul (kepemilikan selama satu tahun), dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen.
  • Cara menghitung zakat mal berbeda-beda tergantung jenis hartanya, seperti emas dan perak, uang tunai dan tabungan, zakat penghasilan, serta zakat perdagangan.
  • Zakat mal dapat dibayarkan kapan saja setelah syarat nisab dan haul terpenuhi, baik secara langsung kepada golongan penerima zakat maupun melalui lembaga amil zakat resmi.

Apa Itu Zakat Mal dan Siapa yang Wajib Membayarnya?

Zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan atas harta kekayaan yang dimiliki seorang Muslim, seperti emas, uang tunai, hasil perdagangan, maupun penghasilan dari pekerjaan. Berbeda dengan zakat fitrah yang wajib dibayarkan sekali dalam setahun, zakat mal dapat dikeluarkan kapan saja sepanjang tahun, selama harta yang dimiliki telah memenuhi dua syarat utama, yaitu nisab dan haul.

Nisab adalah batas minimal harta yang menjadikan seseorang wajib mengeluarkan zakat, sementara haul adalah masa kepemilikan harta tersebut selama satu tahun penuh. Selain itu, harta yang dizakati juga harus merupakan milik penuh, bebas dari utang, dan diperoleh dengan cara yang halal, sebagaimana juga ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 267.

Bagaimana Cara Menghitung Zakat Mal?

Sumber: Magnific

Berikut cara menghitung zakat mal berdasarkan jenis harta yang dimiliki:

  1. Zakat Emas, Perak, dan Logam Mulia

Nisab zakat emas ditetapkan sebesar 85 gram, sementara nisab zakat perak sebesar 595 gram, dengan kadar zakat masing-masing sebesar 2,5 persen. Rumus perhitungannya adalah 2,5% dikalikan jumlah emas atau perak yang telah disimpan selama satu tahun. Sebagai contoh, jika seseorang memiliki emas seberat 100 gram dengan harga Rp1.000.000/1gr, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% x Rp100.000.000, yaitu sebesar Rp2.500.000.

  1. Zakat Uang Tunai, Tabungan, dan Surat Berharga

Nisab untuk uang tunai, tabungan, maupun surat berharga disetarakan dengan nisab emas, yaitu 85 gram. Apabila jumlah harta yang dimiliki setelah dikurangi utang telah mencapai atau melebihi nilai nisab tersebut selama satu tahun, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5 persen dari total harta.

  1. Zakat Penghasilan

Zakat penghasilan dihitung dari pendapatan rutin, seperti gaji, honorarium, maupun upah, yang diperoleh dengan cara halal. Nisabnya juga setara dengan 85 gram emas per tahun, atau dapat dihitung secara bulanan sebesar seperdua belas dari nilai nisab tahunan tersebut, dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan yang diterima.

  1. Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan dihitung dari aset usaha yang telah berjalan minimal satu tahun, dengan rumus 2,5% dikalikan modal ditambah keuntungan dan piutang, dikurangi utang yang jatuh tempo. Nisab zakat perdagangan juga disetarakan dengan 85 gram emas.

Bagaimana Cara Membayar Zakat Mal dengan Tepat?

Setelah mengetahui jumlah zakat yang wajib dikeluarkan, langkah selanjutnya adalah menyalurkannya kepada pihak yang berhak menerima. Zakat dapat disalurkan langsung kepada golongan penerima zakat atau asnaf, seperti fakir, miskin, dan amil, maupun melalui lembaga amil zakat resmi agar penyalurannya lebih tepat sasaran dan terdokumentasi dengan baik.

Penting juga untuk memahami bahwa zakat mal berbeda dengan jenis zakat lainnya, seperti zakat fitrah yang waktunya terikat pada bulan Ramadhan. Zakat mal dapat ditunaikan kapan saja sepanjang tahun begitu syarat nisab dan haul telah terpenuhi, sehingga penting bagi setiap Muslim untuk secara rutin mengecek dan menghitung kembali harta yang dimilikinya.

Kesimpulan

Zakat mal wajib dikeluarkan apabila harta yang dimiliki telah mencapai nisab dan haul, dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen. Cara menghitungnya berbeda-beda tergantung jenis harta, mulai dari emas dan perak, uang tunai, zakat penghasilan, hingga zakat perdagangan, namun secara umum menggunakan rumus dasar yang sama.

Dengan memahami cara menghitung dan membayar zakat mal secara tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menunaikan kewajibannya dengan lebih mudah, sekaligus turut membantu kesejahteraan sesama. Yuk, terus tambah wawasan seputar zakat dan keuangan syariah bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://baznas.go.id/zakatemas

https://baznas.go.id/zakatpenghasilan

FAQ

Tidak. Zakat mal dapat dikeluarkan kapan saja sepanjang tahun, begitu harta yang dimiliki telah mencapai nisab dan haul, berbeda dengan zakat fitrah yang wajib dibayarkan setahun sekali di bulan Ramadhan.

Nisab zakat mal umumnya disetarakan dengan nilai 85 gram emas, baik untuk uang tunai, tabungan, penghasilan, maupun perdagangan, dengan kadar zakat sebesar 2,5 persen.

Harta yang dizakati harus merupakan milik penuh dan bebas dari hutang. Apabila harta tersebut masih memiliki utang, maka nilai utang perlu dikurangkan terlebih dahulu sebelum menghitung kewajiban zakatnya.

Apa Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional? Ini Penjelasannya

Memiliki asuransi kini menjadi salah satu langkah penting dalam merencanakan keuangan, baik untuk melindungi diri, keluarga, maupun aset yang dimiliki. Namun, bagi Sahabat Muslim, memilih asuransi tidak bisa sembarangan, karena perlu memastikan produk yang dipilih sesuai dengan prinsip syariah dan terhindar dari unsur riba, gharar, dan maisir.

Di Indonesia sendiri, produk asuransi umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu asuransi syariah dan asuransi konvensional. Meski sama-sama menawarkan perlindungan finansial, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari sisi akad hingga cara pengelolaan dana. Lalu, apa saja perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang perlu diketahui? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Perbedaan paling mendasar antara asuransi syariah dan konvensional terletak pada konsep pengelolaan risiko, yaitu risk sharing pada asuransi syariah dan risk transfer pada asuransi konvensional.
  • Asuransi syariah menggunakan akad tabarru (hibah untuk tolong-menolong) dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah, sementara asuransi konvensional menggunakan akad jual beli tanpa pengawasan syariah.
  • Kepemilikan surplus dana juga berbeda, di mana surplus pada asuransi syariah dibagikan kembali kepada peserta, sedangkan pada asuransi konvensional sepenuhnya menjadi milik perusahaan.

Mengapa Penting Memahami Perbedaan Kedua Jenis Asuransi Ini? 

Bagi Sahabat Muslim, memahami perbedaan asuransi syariah dan konvensional menjadi penting agar produk perlindungan yang dipilih benar-benar sesuai dengan prinsip syariah. Asuransi konvensional, dalam praktiknya, sering dipermasalahkan karena mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) dan maisir (spekulasi), sebab nasabah tidak dapat memastikan apakah manfaat dari premi yang dibayarkan akan diterima atau tidak.

Selain aspek kehalalan, memahami perbedaan ini juga membantu calon nasabah menentukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai yang dipegang, terlepas dari sisi keuntungan finansial semata. Dengan begitu, keputusan berasuransi dapat diambil dengan lebih matang dan penuh pertimbangan.

Apa Saja Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional? 

Sumber: Magnific

Berikut beberapa perbedaan mendasar antara asuransi syariah dan konvensional: 

  1. Konsep Pengelolaan Risiko

Perbedaan paling utama terletak pada konsep pengelolaannya. Asuransi syariah menerapkan prinsip risk sharing, yaitu berbagi risiko di antara sesama peserta melalui semangat tolong-menolong. Sementara itu, asuransi konvensional menerapkan prinsip risk transfer, di mana risiko sepenuhnya dialihkan dari nasabah kepada perusahaan asuransi.

  1. Akad yang Digunakan

Asuransi syariah menggunakan akad tabarru, yaitu akad hibah atau donasi yang bertujuan membantu peserta lain yang mengalami musibah, sehingga menjauhkan transaksi dari unsur riba, gharar, dan maisir. Sebaliknya, asuransi konvensional menggunakan akad tijarah atau jual beli, di mana perusahaan menjual jasa perlindungan kepada nasabah dengan imbalan premi.

  1. Kepemilikan dan Pengelolaan Dana

Pada asuransi syariah, dana yang terkumpul dari kontribusi peserta dimiliki bersama dan dikelola oleh perusahaan asuransi sebagai wakil (mudharib) para peserta. Sementara itu, pada asuransi konvensional, dana premi yang terkumpul sepenuhnya menjadi milik perusahaan asuransi.

  1. Pengawasan Syariah

Selain diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seperti asuransi konvensional, asuransi syariah juga memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas memastikan seluruh proses pengelolaan dana sesuai dengan prinsip syariah. Kehadiran DPS ini memberikan jaminan tambahan bagi peserta terkait kehalalan dan transparansi transaksi.

  1. Instrumen Investasi Dana

Asuransi syariah hanya menginvestasikan dana peserta pada instrumen yang halal dan sesuai prinsip syariah, seperti sukuk atau saham syariah, sebagaimana juga berlaku pada berbagai jenis investasi syariah untuk pemula lainnya. Sementara itu, asuransi konvensional dapat menginvestasikan dana tanpa pembatasan sektor, termasuk pada instrumen yang mengandung riba.

  1. Kepemilikan Surplus Dana

Pada asuransi syariah, surplus underwriting, yaitu selisih lebih dari dana tabarru setelah dikurangi pembayaran klaim dan biaya pengelolaan, akan dibagikan kembali kepada peserta sesuai kesepakatan. Sebaliknya, pada asuransi konvensional, surplus dana sepenuhnya menjadi keuntungan perusahaan tanpa dibagikan kepada nasabah.

Bagaimana Cara Memilih Asuransi yang Tepat? 

Sebelum memutuskan produk asuransi, penting untuk memastikan perusahaan asuransi syariah yang dipilih telah terdaftar resmi di OJK dan memiliki Dewan Pengawas Syariah yang jelas. Selain itu, pelajari juga jenis akad yang digunakan, kejelasan alokasi dana tabarru, serta bagaimana mekanisme pembagian surplus underwriting yang ditawarkan.

Memilih asuransi syariah juga sejalan dengan prinsip menjaga harta dari unsur riba yang dilarang dalam Islam. Dengan memahami perbedaan dan mempertimbangkan kebutuhan secara matang, Sahabat Muslim dapat memilih produk asuransi yang tidak hanya memberikan perlindungan finansial, tetapi juga ketenangan hati karena sesuai dengan prinsip syariah.

Kesimpulan

Asuransi syariah dan konvensional memiliki perbedaan mendasar, mulai dari konsep pengelolaan risiko, akad yang digunakan, kepemilikan dana, pengawasan syariah, instrumen investasi, hingga kepemilikan surplus dana. Memahami perbedaan ini penting agar Sahabat Muslim dapat memilih produk perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus prinsip syariah yang dipegang.

Dengan pertimbangan yang matang, keputusan berasuransi diharapkan dapat memberikan ketenangan, baik dari sisi finansial maupun keyakinan bahwa harta yang dikelola tetap berada di jalan yang halal. Yuk, terus tambah wawasan seputar keuangan syariah bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://www.banksinarmas.com/id/artikel/perbedaan-asuransi-syariah-dan-konvensional

https://aasi.or.id/literasi/perbedaan-asuransi-syariah-dan-asuransi-konvensional-berdasarkan-prinsipnya

FAQ

Perbedaan paling mendasar terletak pada konsep pengelolaan risiko, yaitu risk sharing (berbagi risiko) pada asuransi syariah, dan risk transfer (pemindahan risiko) pada asuransi konvensional.

Ya. Selain diawasi OJK seperti asuransi konvensional, asuransi syariah juga memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang memastikan seluruh proses pengelolaan dana sesuai dengan prinsip syariah Islam.

Surplus underwriting pada asuransi syariah akan dibagikan kembali kepada peserta sesuai kesepakatan, berbeda dengan asuransi konvensional yang menjadikan surplus dana sepenuhnya sebagai keuntungan perusahaan.

Bukan Sekadar Cinta, Ini Kriteria Memilih Pasangan Hidup dalam Islam

Menikah merupakan salah satu babak penting dalam kehidupan seorang Muslim, karena bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi juga menjadi ladang ibadah yang dijalani seumur hidup. Oleh karena itu, memilih pasangan hidup tidak bisa dilakukan secara asal atau hanya berdasarkan perasaan suka semata.

Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang cukup masyhur. Lalu, apa saja kriteria tersebut dan mana yang seharusnya menjadi prioritas utama? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Rasulullah SAW menyebutkan empat kriteria yang biasa dipertimbangkan orang dalam memilih pasangan hidup, yaitu harta, keturunan, paras, dan agama.
  • Di antara keempat kriteria tersebut, agama dan akhlak menjadi yang paling utama dan dianjurkan untuk selalu menjadi prioritas dalam memilih pasangan.
  • Kriteria lain seperti harta, keturunan, dan paras tetap boleh dipertimbangkan, namun sebaiknya tidak dijadikan patokan utama dalam menentukan pilihan.

Mengapa Kriteria Memilih Pasangan Penting dalam Islam?

Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan duniawi, melainkan perjanjian yang kokoh dan bernilai ibadah jangka panjang. Oleh karena itu, kesalahan dalam memilih pasangan hidup berpotensi membawa dampak besar, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga yang akan dibangun bersama.

Imam Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pasangan yang dekat dengan agama akan membawa kebaikan, keberkahan, dan akhlak yang baik dalam kehidupan rumah tangga. Inilah mengapa Islam menekankan pentingnya mempertimbangkan kriteria yang tepat sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Apa Saja Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam?

Sumber: Magnific

Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, berikut empat kriteria yang biasa dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup:

  1. Harta

Kriteria pertama yang sering dipertimbangkan adalah harta atau kondisi ekonomi calon pasangan. Hal ini wajar, mengingat pernikahan juga melibatkan tanggung jawab nafkah dan kebutuhan rumah tangga. Meski begitu, harta sebaiknya tidak dijadikan patokan utama, karena kondisi ekonomi dapat berubah seiring waktu.

  1. Keturunan (Nasab)

Kriteria kedua adalah keturunan atau nasab calon pasangan, misalnya berasal dari keluarga yang taat beragama atau memiliki reputasi baik di masyarakat. Anggapan ini sering dikaitkan dengan pepatah bahwa sifat anak tidak jauh berbeda dari orang tuanya. Meski demikian, nasab yang baik bukan jaminan mutlak akan akhlak seseorang, begitu pula sebaliknya.

  1. Paras atau Kecantikan atau Ketampanan

Kriteria ketiga adalah penampilan fisik, seperti paras yang rupawan. Menurut Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, seseorang diperbolehkan mempertimbangkan kecantikan atau ketampanan calon pasangan, asalkan tetap diiringi dengan kebaikan agama dan akhlaknya, bukan dijadikan sebagai pertimbangan yang berdiri sendiri.

  1. Agama dan Akhlak

Kriteria keempat sekaligus yang paling utama adalah agama dan akhlak. Rasulullah SAW menegaskan bahwa seseorang hendaknya memilih pasangan yang baik agamanya, agar hidup berumah tangga menjadi lebih beruntung dan penuh keberkahan. 

Bagaimana Menyeimbangkan Keempat Kriteria Ini?

Meski agama menjadi kriteria utama, bukan berarti ketiga kriteria lainnya harus sepenuhnya diabaikan. Islam tetap membolehkan mempertimbangkan harta, nasab, maupun paras sebagai nilai tambah, selama semuanya tetap berlandaskan pada kebaikan agama dan akhlak calon pasangan.

Selain keempat kriteria tersebut, kesungguhan dalam menjaga kejujuran dan keterbukaan komunikasi sejak masa pendekatan juga menjadi hal penting untuk dipertimbangkan. Membicarakan visi hidup ke depan, mulai dari cara mengelola keuangan hingga peran dalam keluarga besar, dapat membantu kedua calon pasangan lebih memahami satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Kesimpulan

Islam mengajarkan empat kriteria yang biasa dipertimbangkan dalam memilih pasangan hidup, yaitu harta, keturunan, paras, dan agama, dengan agama serta akhlak sebagai kriteria yang paling utama. Memilih pasangan yang baik agamanya diyakini akan membawa keberkahan dan kebaikan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Dengan memahami kriteria ini, diharapkan setiap Muslim dapat lebih bijak dalam menentukan pilihan, tidak hanya mengandalkan perasaan sesaat, tetapi juga pertimbangan yang matang demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Yuk, terus tambah wawasan seputar pernikahan dan keluarga Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://www.antaranews.com/berita/4331659/cara-memilih-pasangan-hidup-menurut-islam

https://mirror.mui.or.id/bimbingan-syariah/tuntunan-ibadah/44088/4-kriteria-mencari-pasangan-menurut-tuntunan-rasulullah-saw

FAQ

Boleh. Harta dan paras tetap sah dipertimbangkan sebagai nilai tambah, namun tidak boleh dijadikan patokan utama dan sebaiknya tetap diiringi dengan kebaikan agama serta akhlak calon pasangan.

Karena agama yang baik akan membawa kebaikan, keberkahan, dan akhlak yang baik dalam kehidupan rumah tangga, sehingga pernikahan yang dijalani lebih berpotensi membawa ketenangan dan keberuntungan dunia akhirat.

Menurut penjelasan Imam Nawawi, hadis ini lebih menggambarkan kebiasaan umum masyarakat dalam memilih pasangan, bukan perintah wajib. Namun, Rasulullah SAW menganjurkan agar agama tetap menjadi pertimbangan utama di antara keempatnya.

Saat Dada Terasa Sesak, Ini Amalan Islami Penenang Hati yang Gelisah

Rasa cemas dan gelisah merupakan bagian dari fitrah manusia yang bisa muncul kapan saja, entah karena masalah pekerjaan, hubungan, kesehatan, maupun ketidakpastian akan masa depan. Perasaan ini wajar dialami setiap orang, namun jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penyaluran yang tepat, dapat memengaruhi ketenangan hati dan kualitas ibadah seseorang.

Islam telah memberikan tuntunan yang indah untuk membantu hati kembali tenang di tengah kecemasan, salah satunya melalui amalan-amalan spiritual yang dapat dilakukan sehari-hari. Lalu, apa saja amalan penenang hati yang dianjurkan dalam Islam saat rasa cemas dan gelisah melanda? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Rasa cemas dan gelisah merupakan hal yang wajar dialami manusia, namun Islam mengajarkan berbagai amalan untuk membantu menenangkan hati saat perasaan tersebut muncul.
  • Beberapa amalan penenang hati yang dianjurkan antara lain memperbanyak dzikir, mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta bertawakal kepada Allah SWT setelah berikhtiar.
  • Jika rasa cemas terasa berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari dalam waktu lama, penting untuk tidak ragu mencari bantuan tambahan dari orang terdekat maupun tenaga profesional.

Mengapa Hati Bisa Merasa Cemas dan Gelisah?

Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan ujian, mulai dari kekhawatiran, kesulitan, hingga berbagai tekanan yang tidak dapat dihindari. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 bahwa setiap manusia pasti akan diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan sebagai bagian dari proses kehidupan.

Namun, di balik ujian tersebut, Allah SWT juga menyediakan jalan untuk mengembalikan ketenangan hati, salah satunya melalui mengingat-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tenteram. Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Apa Saja Amalan Penenang Hati Saat Cemas dan Gelisah?

Sumber: Magnific

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan dalam Islam untuk membantu menenangkan hati yang sedang cemas dan gelisah:

  1. Memperbanyak Dzikir

Dzikir menjadi salah satu amalan paling utama untuk menenangkan hati, karena mengingat Allah SWT dapat mengalihkan pikiran dari kekhawatiran yang berlebihan. Berzikir secara rutin, baik melalui kalimat tasbih, tahmid, maupun istighfar, dapat menjadi cara sederhana namun bermakna untuk meredakan kegelisahan dalam hati.

  1. Mendirikan Shalat dengan Khusyuk

Shalat merupakan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT. Ketika hati sedang gelisah, mendirikan shalat dengan khusyuk dapat membantu menenangkan pikiran, karena seluruh keluh kesah dapat disampaikan langsung kepada Allah SWT melalui doa-doa di dalamnya.

  1. Membaca dan Merenungi Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang berisi ketenangan dan janji pertolongan Allah SWT, dapat menjadi obat bagi hati yang resah. Merenungi maknanya secara perlahan membantu seseorang menyadari bahwa setiap kesulitan yang dihadapi pasti disertai jalan keluar dari Allah SWT.

  1. Memanjatkan Doa secara Tulus

Menyampaikan keluh kesah kepada Allah SWT melalui doa menjadi salah satu cara paling personal untuk meredakan kecemasan. Salah satu doa yang dianjurkan adalah permohonan agar diberikan jiwa yang tenang dan ridha atas segala ketetapan-Nya, sebagaimana dicontohkan dalam berbagai riwayat doa penenang hati.

  1. Bersyukur atas Nikmat yang Dimiliki

Rasa cemas sering kali muncul karena terlalu fokus pada apa yang belum atau tidak dimiliki. Membiasakan diri untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dapat membantu menggeser fokus pikiran, sehingga hati lebih mudah merasa cukup dan tenang.

  1. Bertawakal Setelah Berikhtiar

Setelah melakukan segala usaha yang mampu dilakukan, seorang Muslim dianjurkan untuk menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT dengan penuh tawakal. Sikap ini membantu melepaskan beban pikiran yang berlebihan terhadap sesuatu yang berada di luar kendali manusia, sehingga hati menjadi lebih lapang.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Tambahan di Luar Amalan Spiritual?

Amalan-amalan di atas dapat menjadi sumber ketenangan batin yang besar bagi banyak Muslim. Namun, penting untuk dipahami bahwa jika rasa cemas dan gelisah terasa sangat berat, berlangsung dalam waktu lama, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk berbicara dengan orang terdekat yang dipercaya atau mencari bantuan dari tenaga profesional, seperti psikolog maupun konselor.

Islam tidak melarang seorang Muslim untuk mencari bantuan medis atau profesional, karena hal ini juga termasuk bagian dari ikhtiar. Menggabungkan amalan spiritual dengan langkah nyata dan dukungan yang tepat akan membantu seseorang menghadapi kecemasan secara lebih menyeluruh, baik dari sisi ruhani maupun kondisi kejiwaan.

Kesimpulan

Amalan penenang hati saat cemas dan gelisah, seperti memperbanyak dzikir, mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersyukur, dan bertawakal, dapat menjadi sumber ketenangan yang besar bagi setiap Muslim. Amalan-amalan ini mengajarkan bahwa hati yang gelisah dapat kembali tenteram dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan mengamalkannya secara konsisten, disertai ikhtiar dan keterbukaan untuk mencari bantuan bila diperlukan, diharapkan setiap Muslim dapat menghadapi kecemasan dengan hati yang lebih lapang dan penuh keyakinan. Yuk, terus tambah wawasan seputar ketenangan hati dan ibadah sehari-hari bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://kliniksejiwaku.com/doa-agar-hati-tenang-dan-tidak-cemas-bacaan-dan-cara-mengamalkannya/

https://www.liputan6.com/islami/read/4934859/11-bacaan-doa-agar-hati-tenang-dan-ikhlas-bebas-dari-gelisah

FAQ

Ya, rasa cemas dan gelisah adalah fitrah manusia yang wajar dialami siapa saja. Islam mengajarkan berbagai amalan untuk membantu menenangkan hati, bukan untuk menghilangkan perasaan tersebut sepenuhnya.

Bagi sebagian orang, dzikir dan doa dapat sangat membantu meredakan kecemasan. Namun, jika kecemasan sudah berlangsung lama dan mengganggu aktivitas, disarankan juga untuk mencari bantuan dari orang terdekat atau tenaga profesional sebagai bagian dari ikhtiar.

Dzikir dapat dilakukan kapan saja, namun beberapa waktu yang dianjurkan antara lain setelah salat wajib, di waktu pagi dan petang, serta saat hati mulai merasa gelisah agar pikiran kembali fokus mengingat Allah SWT.

Alasan Makam Rasulullah Ditutup Rapat di Masjid Nabawi

Makam Rasulullah SAW berada di kawasan Masjid Nabawi dan menjadi salah satu tempat yang diziarahi oleh umat Islam yang datang ke Madinah. Bersama makam Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, makam Rasulullah SAW berada dalam area yang memiliki pengaturan khusus bagi para peziarah. 

Meski begitu, peziarah tidak dapat mendekati atau menyentuh makam secara langsung. Pemerintah Arab Saudi mengatur jalur, tata tertib, serta cara berziarah untuk menjaga ketenangan dan ketertiban di kawasan tersebut. Lantas, mengapa akses menuju makam diatur sedemikian rupa? Simak penjelasannya dalam artikel berikut.

Ringkasan

  • Makam Rasulullah SAW berada di area Masjid Nabawi dengan akses yang diatur dan dibatasi bagi para peziarah.
  • Peziarah dapat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW tanpa harus mendekati atau menyentuh makam secara langsung.
  • Saat berziarah, umat Islam dianjurkan menjaga ketenangan, merendahkan suara, tidak berdesakan, dan mengikuti arahan petugas.

Bagaimana Akses Peziarah ke Makam Rasulullah SAW Diatur?

Peziarah yang hendak mengunjungi makam Rasulullah SAW diarahkan melalui jalur yang telah ditentukan. Sumber resmi Kepresidenan Urusan Agama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menyebutkan bahwa pengunjung dapat menuju area makam melalui jalur yang ditentukan dari Bab As-Salam (Gate 1). 

Pengaturan tersebut juga berkaitan dengan jumlah peziarah yang datang ke Masjid Nabawi. Peziarah diminta berdiri dengan tenang, tidak berdesakan, dan memberikan kesempatan kepada pengunjung lainnya. Kementerian Haji dan Umrah Saudi juga menekankan agar waktu memberi salam dibuat singkat supaya tidak menghambat peziarah lain.

Mengapa Peziarah Tidak Dapat Mendekati Makam Secara Langsung?

Area makam memiliki pembatas sehingga peziarah tidak dapat mengakses makam secara langsung. Dalam panduan resmi, peziarah diarahkan untuk berdiri di hadapan makam dengan sikap hormat dan suara yang rendah, kemudian menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. 

Pengaturan ini juga berkaitan dengan tata tertib di kawasan Masjid Nabawi. Pengunjung diminta tidak berdesakan, menjaga ketenangan, mengikuti arahan petugas, serta tidak mencari keberkahan dengan menyentuh benda-benda di area tersebut. Dengan demikian, ziarah tetap berlangsung dengan tertib dan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan. 

Bagaimana Adab Ziarah ke Makam Rasulullah SAW?

Ketika berada di hadapan makam Rasulullah SAW, peziarah dianjurkan bersikap tenang, penuh penghormatan, dan merendahkan suara. Panduan resmi Saudi menyebutkan salam kepada Rasulullah SAW, kemudian dilanjutkan dengan memberikan salam kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA. 

Peziarah juga diminta tidak mengganggu pengunjung lain dengan suara keras atau berdesakan. Dalam panduan resmi, pengunjung bahkan diingatkan untuk tidak melakukan tindakan seperti mencari keberkahan dengan menyentuh benda-benda di area Masjid Nabawi serta mengikuti instruksi petugas selama berada di kawasan tersebut. 

Mengapa Area Makam Rasulullah SAW Memiliki Pembatas?

Pembatas membuat area makam tidak menjadi ruang yang dapat dimasuki secara bebas oleh setiap peziarah. Pengunjung tetap dapat berada di jalur yang telah ditentukan untuk menyampaikan salam, tetapi tidak diarahkan untuk menyentuh atau mendekati makam secara langsung. 

Hal ini berjalan bersama sistem pengaturan kunjungan di Masjid Nabawi secara keseluruhan. Pemerintah Saudi juga menerapkan jalur dan ketentuan khusus untuk berbagai area dengan jumlah pengunjung tinggi. Sebagai contoh, kunjungan ke Raudhah diatur melalui reservasi untuk membantu mengatur arus pengunjung dan menjaga kenyamanan serta keselamatan jemaah.

Kesimpulan

Makam Rasulullah SAW berada di area Masjid Nabawi yang memiliki pengaturan khusus bagi para peziarah. Akses menuju makam diarahkan melalui jalur tertentu, sementara peziarah diminta menjaga ketenangan, merendahkan suara, tidak berdesakan, dan mengikuti arahan petugas. Jadi, istilah “ditutup rapat” lebih tepat dipahami dalam konteks pembatasan akses langsung dan pengaturan ziarah, bukan berarti umat Islam tidak dapat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. 

Ingin mendapatkan lebih banyak informasi seputar ibadah dan perjalanan muslim? ArahMuslim bisa menjadi teman dalam keseharian. Download ArahMuslim untuk membantu mengecek jadwal salat, menemukan masjid terdekat, dan mendapatkan berbagai informasi yang menunjang ibadah.

Referensi:

https://hajinews.co.id/2026/09/11/makam-nabi-muhammad-saw-masjid-nabawi/

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8656788/ternyata-ini-alasan-makam-nabi-muhammad-tertutup-rapat

FAQ

Makam Rasulullah SAW berada di kawasan Al-Hujrah, yang kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi di Madinah.

Peziarah tidak diarahkan untuk menyentuh makam. Dalam tata tertib ziarah, pengunjung diminta menyampaikan salam dengan tenang dari area yang telah ditentukan.

Peziarah tidak dapat memasuki area makam atau melihat makam secara langsung dari jarak dekat karena terdapat pembatas dan pengaturan akses di sekitarnya. Namun, peziarah tetap dapat menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW dari area yang telah ditentukan.

Sikap yang Dianjurkan Islam Ketika Kehilangan Orang Tersayang

Kehilangan orang tersayang menjadi salah satu momen yang tidak mudah bagi siapa pun. Rasa sedih, rindu, dan kehilangan merupakan hal yang wajar dirasakan ketika harus berpisah dengan seseorang yang selama ini dekat dalam kehidupan.

Dalam Islam, Sahabat Muslim tetap diperbolehkan merasakan kesedihan, tetapi perlu menjalaninya dengan sikap yang sesuai dengan ajaran agama. Lalu, apa saja sikap yang dianjurkan Islam ketika kehilangan orang tersayang? Simak artikel ini sampai akhir untuk mengetahui selengkapnya.

Ringkasan

  • Kehilangan orang tersayang merupakan bagian dari ketetapan Allah yang perlu dihadapi dengan ikhlas dan sabar.
  • Islam menganjurkan umatnya untuk mengucapkan istirja, mendoakan orang yang telah meninggal, serta tetap menjaga ibadah di tengah kesedihan.
  • Rasa kehilangan dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki diri, menghargai waktu bersama orang terdekat, dan memperbanyak amal kebaikan.

Menerima Takdir Allah dengan Ikhlas

Kematian merupakan ketetapan Allah SWT yang pasti terjadi kepada setiap makhluk. Ketika kehilangan orang tersayang, seorang Muslim dianjurkan untuk berusaha menerima takdir tersebut dengan ikhlas, meskipun prosesnya tentu tidak selalu mudah. Keikhlasan bukan berarti tidak boleh merasa sedih, melainkan berusaha menerima bahwa kehidupan dan kematian berada dalam ketetapan Allah.

Dengan menerima takdir, hati perlahan dapat belajar untuk melepaskan seseorang yang telah berpulang. Sahabat Muslim juga dapat mengingat bahwa apa yang dimiliki di dunia pada hakikatnya merupakan titipan Allah. Oleh karena itu, ketika titipan tersebut diambil kembali, kita perlu menghadapinya dengan iman dan berserah diri kepada-Nya.

Bersabar dalam Menghadapi Kehilangan

Kesedihan setelah kehilangan orang tersayang bisa berlangsung dalam waktu yang berbeda bagi setiap orang. Islam mengajarkan umatnya untuk bersabar dalam menghadapi musibah dan tidak larut dalam kesedihan hingga melakukan hal-hal yang dilarang. Kesabaran bukan berarti harus menyembunyikan rasa sedih, tetapi tetap berusaha menjaga diri dan keimanan di tengah duka.

Allah SWT menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah. Oleh karena itu, ketika rasa kehilangan terasa begitu berat, seorang Muslim dapat menguatkan diri dengan doa, zikir, dan mengingat bahwa Allah selalu mengetahui keadaan hamba-Nya.

Mengucapkan Istirja dan Mendoakan Orang yang Meninggal

Ketika mendapatkan kabar tentang kematian atau mengalami musibah, umat Islam dianjurkan mengucapkan istirja, yaitu “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang berarti “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Kalimat ini mengingatkan bahwa seluruh kehidupan manusia berada dalam kepemilikan dan ketetapan Allah SWT.

Selain mengucapkan istirja, mendoakan orang yang telah meninggal juga menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang dapat dilakukan. Doakan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, merahmati, melapangkan kuburnya, serta memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Bagi keluarga yang ditinggalkan, doa juga dapat menjadi salah satu cara untuk menyalurkan rasa rindu kepada orang yang telah berpulang.

Tetap Menjaga Ibadah di Tengah Kesedihan

Rasa duka yang mendalam terkadang membuat seseorang kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas, termasuk beribadah. Namun, kesedihan seharusnya tidak membuat seorang Muslim meninggalkan kewajibannya kepada Allah. Tetap menjalankan salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa dapat menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika hati sedang terasa berat.

Ibadah juga dapat menjadi ruang bagi Sahabat Muslim untuk mencurahkan kesedihan kepada Allah. Ketika tidak tahu kepada siapa harus bercerita, seorang hamba dapat mengadukan segala rasa kehilangan dan kegelisahannya kepada Allah SWT. Dengan begitu, hati diharapkan menjadi lebih tenang dan kuat dalam menghadapi masa duka.

Mengambil Hikmah dari Kehilangan Orang Tersayang

Kehilangan dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia tidak berlangsung selamanya. Setiap manusia memiliki waktu yang telah ditentukan dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Kesadaran tersebut dapat mendorong Sahabat Muslim untuk lebih menghargai waktu bersama keluarga dan orang-orang yang masih diberi kesempatan untuk ditemui.

Selain itu, kehilangan juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan. Daripada terus tenggelam dalam kesedihan, seseorang dapat menjadikan rasa rindu sebagai dorongan untuk mendoakan orang yang telah meninggal serta meningkatkan kualitas ibadah dan amal selama masih diberikan kesempatan hidup.

Kesimpulan

Kehilangan orang tersayang memang dapat menghadirkan kesedihan yang mendalam. Namun, Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi duka dengan menerima takdir Allah, bersabar, mengucapkan istirja, mendoakan orang yang telah meninggal, serta tetap menjaga ibadah. Rasa sedih bukanlah tanda kurangnya keimanan, selama kita tetap berusaha menghadapi kehilangan sesuai dengan tuntunan agama.

Untuk mendapatkan lebih banyak informasi dan pengingat seputar kehidupan Sahabat Muslim, ArahMuslim hadir sebagai teman dalam menjalani keseharian. Yuk, download ArahMuslim dan temukan berbagai fitur yang dapat membantu menunjang ibadah, mulai dari jadwal salat hingga menemukan masjid terdekat.

Referensi:

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8660140/batas-kesedihan-dalam-islam-saat-keluarga-meninggal-dunia

https://islamkaffah.id/batasan-bolehnya-menangis-saat-ada-keluarga-meninggal

FAQ

Boleh. Menangis dan merasa sedih merupakan bentuk perasaan manusiawi. Namun, Sahabat Muslim tetap dianjurkan menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak sampai melakukan hal-hal yang dilarang dalam Islam.

Cobalah mendekatkan diri kepada Allah melalui salat, doa, zikir, membaca Al-Qur’an, serta mencari dukungan dari keluarga atau orang-orang yang dipercaya. Jangan memendam kesedihan seorang diri jika membutuhkan tempat untuk bercerita.

Ya. Mendoakan orang yang telah meninggal merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang dapat terus dilakukan oleh orang yang masih hidup. Doa dapat dipanjatkan agar Allah memberikan ampunan, rahmat, dan tempat terbaik bagi mereka.

Momen Emas yang Sering Terlewat, Ini Waktu Mustajab untuk Berdoa

Doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang menunjukkan kelemahan seorang hamba di hadapan Allah SWT, sekaligus wujud keyakinan bahwa hanya Dia yang mampu mengubah keadaan. Meski pada dasarnya doa dapat dipanjatkan kapan saja, Islam mengajarkan bahwa terdapat momen-momen tertentu yang memiliki keutamaan khusus, di mana doa lebih besar peluangnya untuk dikabulkan.

Sayangnya, tidak semua Muslim menyadari dan memanfaatkan waktu-waktu istimewa ini secara maksimal. Padahal, Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk yang jelas mengenai kapan saja waktu mustajab tersebut. Lalu, apa saja waktu mustajab untuk berdoa menurut Al-Qur’an dan hadis? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Waktu mustajab adalah momen-momen istimewa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, di mana doa memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan Allah SWT.
  • Beberapa waktu mustajab yang utama antara lain sepertiga malam terakhir, antara azan dan iqamah, saat sujud, setelah salat wajib, saat berpuasa hingga berbuka, dan pada hari Jumat.
  • Selain memperhatikan waktu, adab berdoa seperti mengangkat tangan, memuji Allah, bershalawat, dan yakin akan dikabulkan juga turut memengaruhi terkabulnya sebuah doa.

Mengapa Ada Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa?

Allah SWT Maha Mendengar setiap doa hamba-Nya kapan pun dipanjatkan. Namun, pada waktu-waktu tertentu, seorang hamba berada dalam kondisi spiritual yang lebih dekat dengan Allah SWT, baik karena kekhusyukan, ketundukan, maupun keberkahan waktu itu sendiri, sehingga doa yang dipanjatkan pada momen tersebut lebih berpeluang untuk dikabulkan.

Mengetahui waktu-waktu mustajab ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak munajat dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Dengan memahaminya, Sahabat Muslim dapat lebih maksimal dalam berdoa, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat.

Apa Saja Waktu Mustajab untuk Berdoa Menurut Islam?

Sumber: Magnific

Berikut beberapa waktu mustajab untuk berdoa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih:

  1. Sepertiga Malam Terakhir

Sepertiga malam terakhir merupakan salah satu waktu mustajab yang paling utama. Pada saat ini, suasana yang sunyi membuat hati lebih khusyuk, dan Allah SWT turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon di waktu tersebut.

  1. Antara Azan dan Iqamah

Rasulullah SAW bersabda bahwa doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Waktu yang singkat ini menjadi kesempatan berharga untuk memanjatkan doa sebelum salat dimulai, saat hati berada dalam keadaan fokus dan tenang.

  1. Saat Sujud dalam Shalat

Sujud merupakan posisi yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Momen ini menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa, karena kondisi merendahkan diri secara fisik turut menumbuhkan kekhusyukan hati.

  1. Setelah Menunaikan Shalat Wajib

Setelah menunaikan shalat wajib, seorang Muslim berada dalam kondisi spiritual yang bersih dan dekat dengan Allah SWT. Memanfaatkan waktu ini untuk berzikir dan berdoa, misalnya dengan berzikir secara rutin, dapat menjadi kebiasaan yang membawa banyak keberkahan.

  1. Saat Berpuasa hingga Waktu Berbuka

Rasulullah SAW bersabda bahwa doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak hingga ia berbuka. Momen menjelang berbuka menjadi waktu yang penuh keberkahan untuk memanjatkan doa, baik saat menjalani puasa wajib di bulan Ramadhan maupun puasa sunnah seperti Senin Kamis.

  1. Hari Jumat

Hari Jumat merupakan hari terbaik dalam sepekan bagi umat Islam. Terdapat satu waktu khusus pada hari ini, yang sebagian ulama meyakini berada di antara waktu Asar hingga menjelang Maghrib, di mana doa seorang Muslim lebih berpeluang untuk dikabulkan Allah SWT.

Bagaimana Adab Berdoa agar Lebih Mustajab?

Selain memperhatikan waktu, adab dalam berdoa juga turut memengaruhi peluang terkabulnya sebuah doa. Beberapa adab yang dianjurkan antara lain mengangkat kedua tangan, memulai doa dengan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Rasulullah SAW, menyampaikan harapan dengan penuh keyakinan, serta menutupnya dengan ucapan hamdalah.

Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa apa yang dikonsumsi dan diusahakan berasal dari cara yang halal, karena hal ini turut mempengaruhi terkabulnya doa. Menjaga kejujuran dalam setiap urusan, sebagaimana salah satu sifat wajib Rasulullah SAW, juga menjadi bagian penting dari adab seorang hamba dalam berdoa kepada Allah SWT.

Kesimpulan

Waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti sepertiga malam terakhir, antara azan dan iqamah, saat sujud, setelah salat wajib, saat berpuasa hingga berbuka, dan hari Jumat, menjadi kesempatan berharga bagi setiap Muslim untuk memperbanyak munajat kepada Allah SWT. Memahami dan memanfaatkan waktu-waktu ini dapat menjadi salah satu ikhtiar agar doa lebih berpeluang dikabulkan.

Selain memperhatikan waktu, adab dan kesungguhan hati dalam berdoa juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Yuk, terus tambah wawasan seputar ibadah dan doa sehari-hari bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://muhammadiyah.or.id/2024/10/waktu-waktu-yang-mustajab-untuk-berdoa-kepada-allah/

https://muslim.or.id/3853-waktu-waktu-terkabulnya-doa.html

FAQ

Tidak. Allah SWT dapat mengabulkan doa kapan saja. Waktu-waktu mustajab hanya menunjukkan momen yang memiliki keutamaan dan peluang lebih besar untuk dikabulkan, bukan satu-satunya waktu doa bisa terkabul.

Sepertiga malam terakhir sering disebut sebagai salah satu waktu paling utama, karena pada saat itu Allah SWT turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang memohon dengan sungguh-sungguh.

Ada. Selain memperhatikan waktu, penting untuk menjaga adab berdoa, memastikan sumber rezeki yang halal, serta memanjatkan doa dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkannya.

Bukan Sekadar Cari Uang, Ini Adab Mencari Nafkah agar Berkah

Setiap orang tentu menginginkan rezeki yang melimpah, namun dalam Islam, banyaknya harta bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dikejar, yaitu keberkahan, di mana rezeki yang diperoleh membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan juga bagian dari ibadah jika dijalankan sesuai adab dan tuntunan syariat. Lalu, apa saja adab mencari nafkah yang perlu diperhatikan agar rezeki yang diperoleh benar-benar berkah? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • Keberkahan rezeki lebih penting daripada sekadar jumlahnya, karena rezeki yang berkah membawa ketenangan dan manfaat jangka panjang, bukan hanya kepuasan sesaat.
  • Beberapa adab mencari nafkah yang perlu diperhatikan antara lain niat yang ikhlas, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga kehalalan, jujur, serta tidak melalaikan ibadah.
  • Islam mengajarkan agar Muslim tidak tergesa-gesa dalam mencari rezeki, karena setiap rezeki telah ditakar oleh Allah SWT, sehingga yang perlu diperbaiki adalah caranya, bukan sekadar hasilnya.

Mengapa Keberkahan Rezeki Lebih Penting daripada Jumlahnya?

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram lebih pantas mendapatkan neraka. Hadis ini menegaskan bahwa besar kecilnya rezeki bukanlah tolok ukur utama, melainkan bagaimana cara memperolehnya. Rezeki yang diperoleh dengan cara haram, meski terlihat berlimpah, justru dapat menjauhkan seseorang dari ketenangan dan keberkahan hidup.

Sebaliknya, rezeki yang diperoleh dengan cara halal, meski jumlahnya sedikit, akan membawa keberkahan yang terasa dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga kemudahan dalam beribadah. Inilah mengapa Islam sangat menekankan pentingnya memperhatikan adab dalam mencari nafkah, bukan hanya berfokus pada hasil akhirnya.

Apa Saja Adab Mencari Nafkah agar Rezeki Berkah?

Sumber: Magnific

Berikut beberapa adab mencari nafkah yang dianjurkan dalam Islam agar rezeki yang diperoleh membawa keberkahan:

  1. Meluruskan Niat karena Allah SWT

Adab pertama dan paling mendasar adalah meluruskan niat, yaitu bekerja dengan tujuan mencari rezeki halal untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, bukan semata-mata untuk mengejar gengsi atau kekayaan duniawi. Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila seseorang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan ikhlas, maka pahalanya setara dengan pahala sedekah.

  1. Bekerja dengan Sungguh-sungguh dan Profesional

Islam mencintai hamba yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan menyempurnakan setiap tugas yang diembannya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Aisyah RA. Bekerja secara profesional bukan hanya menunjukkan tanggung jawab, tetapi juga menjadi salah satu ciri pekerjaan yang diberkahi Allah SWT.

  1. Menjaga Kehalalan Cara Memperoleh Rezeki

Islam tegas melarang praktik curang, riba, suap, dan manipulasi dalam bekerja. Rasulullah SAW bahkan melaknat orang yang memakan riba maupun yang memberikannya. Menjaga kehalalan cara memperoleh rezeki menjadi syarat mutlak agar hasil yang didapat benar-benar membawa keberkahan.

  1. Bersikap Jujur dalam Setiap Urusan Pekerjaan

Kejujuran menjadi salah satu adab penting dalam mencari nafkah, baik dalam bertransaksi, melaporkan hasil kerja, maupun berinteraksi dengan rekan maupun atasan. Sikap jujur ini akan membangun kepercayaan sekaligus menjauhkan diri dari rezeki yang tercampur unsur kecurangan.

  1. Tidak Melalaikan Ibadah karena Kesibukan Bekerja

Meski dituntut untuk bekerja keras, Islam mengingatkan agar aktivitas mencari nafkah tidak sampai melalaikan kewajiban ibadah, seperti salat lima waktu. Menyeimbangkan antara ikhtiar duniawi dan ketaatan kepada Allah SWT menjadi kunci agar rezeki yang diperoleh tetap membawa keberkahan.

  1. Bersedekah dari Sebagian Rezeki yang Diperoleh

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 3 bahwa di antara ciri orang bertakwa adalah menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan kepada mereka. Kebiasaan bersedekah, meski dari penghasilan yang tidak seberapa, dipercaya dapat melapangkan dan menambah keberkahan rezeki yang diterima.

Bagaimana Menyikapi Rezeki yang Terasa Lambat Datang?

Rasulullah SAW mengingatkan agar umatnya tidak menganggap rezeki datang terlambat, karena setiap orang tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya sempurna diterima. Yang perlu diperbaiki bukanlah rasa cemas terhadap lambatnya rezeki, melainkan cara dalam mencarinya, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.

Islam juga mengajarkan untuk tidak tergesa-gesa mengambil jalan pintas yang melanggar syariat hanya karena merasa rezeki belum kunjung datang. Sikap sabar disertai ikhtiar yang benar, dibarengi dengan keyakinan penuh kepada Allah SWT sebagai Sang Pemberi Rezeki, menjadi kunci penting agar hati tetap tenang dalam menjalani proses mencari nafkah.

Kesimpulan

Adab mencari nafkah agar rezeki berkah meliputi niat yang ikhlas, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga kehalalan, bersikap jujur, tidak melalaikan ibadah, serta membiasakan diri bersedekah dari rezeki yang diperoleh. Keenam adab ini menunjukkan bahwa mencari nafkah dalam Islam bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan juga bagian dari ibadah yang bernilai pahala.

Dengan menerapkan adab-adab ini, diharapkan rezeki yang diperoleh tidak hanya cukup secara kuantitas, tetapi juga membawa keberkahan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan. Yuk, terus tambah wawasan seputar keberkahan rezeki bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://almanhaj.or.id/2772-etika-mencari-nafkah.html

https://www.liputan6.com/islami/read/6188821/begini-cara-mencari-nafkah-yang-berkah-sesuai-sunnah-mendapatkan-rezeki-yang-berkah

FAQ

Ya. Islam menekankan bahwa rezeki yang halal, meski jumlahnya sedikit, membawa keberkahan yang jauh lebih baik dibandingkan rezeki besar yang diperoleh dari cara yang haram, karena keberkahan tidak diukur dari jumlah semata.

Sahabat Muslim dapat mengatur waktu bekerja sedemikian rupa agar tetap dapat menunaikan shalat lima waktu tepat waktu, serta tidak menjadikan alasan pekerjaan untuk melalaikan kewajiban ibadah kepada Allah SWT.

Banyak dalil menyebutkan bahwa bersedekah, meski dari penghasilan yang tidak seberapa, dipercaya dapat melapangkan dan menambah keberkahan rezeki, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.